oleh

Langkah Pencegahan Klaster Covid-19 di Tempat Ibadah

Adanya peningkatan Covid-19 di Jakarta salah satunya disebabkan oleh klaster tempat ibadah. Hal tersebut berdasarkan hasil identifikasi yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terhadap penularan Covid-19 beberapa waktu lalu. Berdasarkan data yang diperoleh pada bulan Agustus lalu, tercatat setidaknya terdapat 11 klaster penularan Covid-19 dari berbagai kegiatan keagamaan.

Dari data tersebut sebanyak 131 orang sudah terinfeksi Corona dari berbagai aktivitas keagamaan baik di masjid, gereja, sekolah maupun acara tahlilan di rumah warga. Bahkan data tersebut terus menerus naik dari bulan sebelumnya. Munculnya klaster Covid-19 di tempat ibadah sebetulnya bukanlah satu-satunya disebabkan oleh penularan di tempat ibadah. Sebab penularan virus Corona berpotensi terjadi di semua tempat.

Supaya klaster Covid-19 tersebut tidak semakin menyebar, maka dibutuhkan langkah pencegahan yang harus ditaati oleh para jamaah maupun para pengurus tempat ibadah.

Penyebab Munculnya Klaster Covid-19 di Tempat Ibadah

Dengan semakin meningkatkan kasus Covid-19 di Jakarta membuat Pemerintah DKI Jakarta semakin ketat memberlakukan aturan-aturan baru di masa PSBB Transisi. Terlebih salah satu kasus peningkatan Covid-19 di Jakarta berasal dari klaster tempat ibadah. Hal inilah yang membuat masyarakat menjadi khawatir saat melaksanakan ibadah di tempat ibadah.

Padahal menurut Kepala Biro Pendidikan Mental dan Spiritual DKI Jakarta yaitu Hendra Hidayat menjalaskan bahwa beliau tidak meyakini klaster Covid-19 di tempat ibadah sepenuhnya terjadi di tempat ibadah. Beliau juga menambahkan bahwa penyebaran virus bisa terjadi di mana saja di masa PSBB transisi.

Selain itu, munculnya klaster tempat ibadah terutama di Jakarta sebetulnya bisa disebabkan oleh banyak faktor, seperti jamaah yang datang ke tempat ibadah tersebut telah terinfeksi Covid-19 di tempat lain. Kemudian jamaah tersebut merasa sehat dan tidak bergejala sehinga ia mendatangi tempat ibadah. Ketika jamaah tersebut menjalani tes swab maka barulah ketahuan bahwa ia positif Covid-19 hingga akhirnya munculah klaster ibadah.

Berdasarkan penjelasan Hendra Hidayat tersebut dapat disimpulkan bahwa penyebab adanya klaster Covid-19 di tempat ibadah yaitu warga yang kebetulan datang ke tempat ibadah namun yang bersangkutan sebetulnya sudah terpapar oleh virus Corona. Sehingga belum tentu warga tersebut terpapar di rumah ibadah.

Meski begitu, bukan berarti tempat ibadah terbebas dari potensi penularan virus Corona. Untuk mencegah munculnya klaster baru di tempat ibadah maka kini diberlakukan secara ketata protokol kesehatan sebagai upaya pencegahan penularan virus Corona di tempat ibadah.

Langkah Pencegahan Klaster Covid-19 di Tempat Ibadah

Dalam rangka pencegahan klaster Covid-19 di tempat ibadah, maka semua jajaran instansi yang berada di bawah Kementerian Agama diminat untuk mensosialisasikan serta mensinergikan pelaksanaan protokol penanganan Covid-19 di tempat ibadah.

Adapun isi dari protokol tersebut dirangkum dalam beberapa langkah pencegahan klaster tempat ibadah berikut ini:

1. Seluruh Area Tempat Ibadah Harus Bersih

Langkah pencegahan klaster Covid-19 di tempat ibadah dilakukan dengan membersihkan area tempat ibadah menggunakan disinfektan terutama menjelang kegiatan yang padat mulai dari pagi hingga sorea hari. Pembersihan menggunakan disinfektan tersebut dilakukan di setiap media maupun lokasi representatif seperti ruang beribadah, tombol lift, pegangan pintu, pegangan eskalator dan lain sebagainya.

2. Menggulung Karpet

Untuk mencegah munculnya klaster baru di tempat ibadah maka karpet di tempat ibadah harus digulung. Pada jamaah diminta untuk membawa sajadah atau alas sendiri saat akan beribadah.

3. Mempersiapkan Alat Pendeteksi Suhu Tubuh di Pintu Masuk

Langkah pencegahan berikutnya adalah dengan mempersiapkan alat pendeteksi suhu yang akan dipakai untuk mengecek suhu setiap jamaah yang akan masuk ke tempat ibadah. Jika suhu tubuh jamaah terdeteksi lebih dari 38 derajat Celcius maka dianjurkan untuk segera memeriksakan diri ke fasilitasn layanan kesehatan.

4. Menyediakan Sarana Cuci Tangan

Setiap tempat ibadah harus menyediakan sarana cuci tangan berupa air mengalir dan sabun. Setiap jamaah yang datang harus mencuci tangan terlebih dahulu sebelum masuk ke ruang peribadahan. Jika tidak memungkinkan menyediakan sarana cuci tangan maka tempat ibadah bisa menyediakan hand sanitizer.

5. Wajib Pakai Masker

Penggunaan masker di tempat ibadah harus diwajibkan untuk mencegah penularan virus Corona. Sebaiknya para jemaah tidak melepas masker meski sedang melaksanakan ibadah. Pengelola tempat ibadah juga harus menyediakan masker atau tisu untuk jemaah serta mengimbau agar para jemaah wajib memakai masker ketika memasuki area tempat ibadah.

6. Tempat Ibadah Memiliki Surat Keterangan Aman

Sebagai langkah pencegahan klaster Covid-19 sekaligus meyakinkan jemaah maka setiap tempat ibadah harus mempunyai Surat Keterangan Aman Covid-19 yang diperoleh dari pihak berwenang.

7. Menghindari Kontak Fisik

Para jemaah dihimbau agar menghindari kontak fisik di area tempat ibadah, seperti bersalaman, berpelukan dan sebagainya.

8. Menjaga Jarak

Saat melaksanakan ibadah, para jemaah harus selalu menjaga jarak dengan jemaah lainnya minimal 1 meter.

9. Tidak Terlalu Lama di Dalam Tempat Ibadah

Para jemaah harus menghindari berdiam atau berkumpul terlalu lama di dalam tempat ibadah selain kepentingan ibadah wajib.

*Tri Ratih Puspasari/LSPR

Komentar