oleh

Menjaga Kepatuhan Syariah Pada Lembaga Keuangan Syariah

Lembaga keuangan syariah merupakan sebuah lembaga keuangan yang prinsip operasinya berdasarkan pada prinsip-prinsip Islamiah. Di Indonesia sendiri contoh dari lembaga keuangan syariah antara lain perbankan syariah, baitul maal wat tamwil, koperasi pondok pesantren, asuransi syariah (takaful), reksadana syariah, pasar modal syariah, pegadaian syariah (rahn), lembaga zakat, infaq, shadaqah dan waqaf.

Lembaga keuangan sendiri berperan dalam  memenuhi kebutuhan masyarakat akan dana untuk melaksanakan kegiatan ekonomi yang sesuai dengan prinsip syariah. Seperti tujuan utama mendirikan lembaga keuangan syariah adalah untuk menunaikan perintah Allah dalam bidang ekonomi dan muamalah serta membebaskan masyarakat Islam dari kegiatan-kegiatan yang dilarang oleh agama Islam.

Seperti yang kita ketahui, bahwa lembaga keuangan syariah sangat erat hubungannya dengan prinsip syariah sehingga keduanya tidak dapat dipisahkan. Karena lembaga keuangan syariah beroperasi berdasarkan prinsip syariah dalam semua proses, sistem, dan aktivitasnya.  Maka bagaimanakah kepatuhan syariah pada lembaga keuangan itu sendiri?

Kepatuhan syariah merupakan syarat  mutlak yang harus dipenuhi oleh lembaga keuangan yang menjalankan kegiatan usaha berdasarkan syariah. Karena kepatuhan syariah dianggap sebagai salah satu ciri khas yang membedakan lembaga keuangan syariah dengan lembaga keuangan konvensional. Tingkat kepatuhan syariah juga mencerminkan akuntabilitas dan integritas dari lembaga keuangan syariah.

BACA JUGA:  Pengukuran Fungsi Audit Internal Syariah yang Efektif di Lembaga Keuangan Syariah

Oleh sebab itulah diharapkan agar lembaga keuangan syariah untuk terus meningkatkan produk-produk yang sesuai dengan syariah dan pedoman yang sesuai dengan regulator, maka sejalan dengan itu banyak peraturan ketat yang diberlakukan dalam lembaga keuangan syariah untuk mendapatkan kepercayaan dari para pemangku kepentingan dan memenuhi permintaan yang terus meningkat demi akuntabilitas dan keberlanjutan lembaga keuangan syariah tersebut.

Jaminan kepatuhan syariah dalam kegiatan keuangan Islam sendiri dapat diukur melalui praktik audit syariah, yang mana sangat penting dalam meningkatkan integritas lembaga keuangan syariah. Audit syariah sangat erat kaitannya dengan praktik audit internal dalam hal operasional dan audit kepatuhan untuk memberikan jaminan kepatuhan syariah dalam kegiatan dan operasional keuangan Islam.

Pengujian pengukuran fungsi audit syariah internal yang efektif pada lembaga keuangan syariah dapat diukur melalui beberapa ukuran efektivitas audit syariah internal yang baik, dimana efektivitas audit internal sangat penting dalam memberikan jaminan yang memadai bahwa tata kelola dan sistem pengendalian internal dalam organisasi berkinerja baik, sehingga mampu meminimalkan dan memantau potensi risiko.

Ukuran efektivitas audit internal sendiri dibagi menjadi delapan, yang pertama adalah ruang lingkup audit syariah, yang merupakan tolak ukur penting efektivitas fungsi audit internal syariah. Dimana ruang lingkup fungsi audit syariah meliputi hal-hal syariah yang terkait dengan laporan keuangan di lembaga keuangan syariah, seperti pengakuan pendapatan dan pengeluaran serta penghitungan zakat, efektivitas sistem pengendalian internal syariah, penelaahan fungsi manajemen risiko ketidakpatuhan syariah dan audit syariah khusus.

BACA JUGA:  Etika Profesi Auditor sebagai Penentuan Tingkat Materialitas

Kedua,  tujuan audit syariah adalah untuk melakukan penilaian awal atas risiko yang relevan dengan aktivitas. Setelah menentukan tujuan penugasan, auditor internal perlu mempertimbangkan kesalahan yang signifikan dan ketidakpatuhan terhadap hukum dan peraturan. Pengukuran tujuan audit syariah meliputi tujuan pengendalian internal, garis pelaporan yang jelas dan prosedur operasi standar (SOP) dan sistem aplikasi teknologi informasi.

Ketiga, audit syariah dan tata kelola dimana  fungsi audit internal dapat menjadi efektif jika fungsi tersebut mempromosikan nilai-nilai etika yang tepat dalam organisasi, memastikan manajemen kinerja organisasi yang efektif dan mengkomunikasikan informasi di antara berbagai tingkatan organisasi.

Keempat, piagam audit syariah merupakan faktor penting dalam melaksanakan audit internal yang efektif karena mengartikulasikan sifat fungsi audit internal, hubungan pelaporan, dan dengan jelas menentukan otorisasi akses ke semua catatan dan dokumen yang relevan untuk digunakan oleh auditor internal.

Kelima, kompetensi auditor internal syariah dimana penting bagi auditor internal untuk memiliki pengetahuan, keterampilan dan kompetensi lain untuk melakukan kegiatan audit internal.

BACA JUGA:  COVID-19 dan Urgensi Ekonomi Syariah

Keenam, proses audit syariah. Untuk mengimplementasikan proses audit syariah yang efektif, auditor syariah internal harus memiliki akses penuh ke bukti audit di lembaga keuangan syariah dan area yang dapat diaudit harus mencakup penilaian sistem pengendalian internal untuk kepatuhan syariah, risiko ketidakpatuhan syariah dan audit informasi produk dan pelaporan.

Ketujuh, persyaratan pelaporan. Temuan dari penugasan audit internal harus mencakup pendapat tentang sistem pengendalian internal yang efektif, rekomendasi dan saran untuk setiap tindakan korektif. Pelaporan audit internal harus didukung oleh informasi yang dapat diandalkan dan harus dapat memenuhi ekspektasi stakeholders.

Terakhir independensi, kegiatan audit internal harus independen dari segala ancaman yang dapat mengarah pada hasil yang bias. Serupa dengan praktik audit internal, auditor syariah internal juga harus memiliki sikap mental yang independen untuk melakukan praktik audit syariah.

Dengan demikian, pemeriksaan pengukuran fungsi audit syariah internal yang efektif dapat membantu lembaga keuangan syariah dan regulator dalam meningkatkan persyaratan peraturan saat ini seperti kerangka tata kelola syariah di yurisdiksi masing-masing. Fungsi audit syariah yang efektif selama penilaian berkala akan memastikan sistem pengendalian internal yang efektif untuk kepatuhan syariah di lembaga keuangan syariah.

Oleh : Shilvi Dia Savitri, Mahasiswi STEI SEBI

Komentar

Berita lainnya