oleh

Bangkitnya Kinerja Sektor Pertanian Masa New Normal

Oleh : Deti Kurnia Arumsari ( Mahasiswa STEI SEBI )

Indonesia merupakan Negara Agraris yang sebagian besar penduduknya terdiri dari petani sehingga sektor riil dalam bidang pertanian memegang peranan penting bagi pendapatan Negara. Sektor pertanian sebagai sumber kehidupan bagi sebagian besar penduduk terutama bagi mereka yang mata pencaharian utamanya sebagai petani. Selain itu pula sektor pertanian merupakan salah satu aspek utama yang harus diperhatikan sebagai penyedia pangan bagi masyarakat. Peningkatan produksi yang harus seimbang dengan laju pertumbuhan penduduk dapat dicapai melalui peningkatan pengelolaan hasil pertanian secara intensif dan efisien. Oleh karena itu, pengetahuan tentang cara pengusahaan suatu usaha tani mutlak dibutuhkan agar dapat meningkatkan produktifitas serta meningkatkan pendapatan sehingga kesejahteraan petani dapat lebih baik.

Besarnya pendapatan masyarakat petani diperhitungkan dari pengurangan besarnya penerimaan dengan biaya usaha pertanian tersebut. Penerimaan suatu hasil pertanian akan dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti luasnya lahan pertanian, jenis tanaman pertanian, harga hasil pertanian dan manajemen hasil panen, sedang besarnya biaya suatu usaha tani akan dipengaruhi oleh topografi, struktur tanah, jenis dan varietas komoditi yang ditanam, teknis budidaya serta tingkat teknologi yang digunakan. Masyarakat perdesaan pada umumnya lebih besar penduduknya bertani dan jenis pertaniannya berbeda beda varietasnya mulai dari tanaman yang hasil panennnya tiap pekan, bulanan bahkan sampai tahunan. Pada era modern sekarang apalagi sedang dilanda masa pandemi yang bisa diharapkan dapat meningkatkan perekonomian keluarga masyarakat petani sehingga dalam pengelolaan hasil panen perlu diperhatikan agar dapat memenuhi kebutuhan keluarga dengan syarat didukung oleh manajemen keuangan yang baik dari masing-masing para masyarakat tani.

Petani dalam pengelolaan pertanian sampai pengelolaan hasil pertaniannya masih sangat sederhana dan berbeda beda antara satu dengan yang lainnya, kadang dengan cara disimpan berupa uang dan ada juga yang disimpan dalam bentuk investasi bahkan ada pula yang pada musim panen hasil pertaniannya hanya cukup untuk menutup hutang. Proses pengelolaan hasil pertanian inilah pada kenyataannya dimasyarakat mempunyai pengaruh kepada berkembangannya ekonomi masing masing keluarga dengan artian antara pola manajemen keluarga satu dengan yang lainnya menentukan tingkat pendapatan yang diperoleh oleh masyarakat petani berbeda-beda. Hasil panen yang bagus pula akan menentukan tingkat pendapatan harga dan perolehan nilai yang tinggi dipasaran sehingga mensejahterakan masyarakat petani. Dari situ lah para petani berlomba-lomba dalam merawat dan memberikan obat yang terbaik bagi tanaman mereka.

Sektor petanian sendiri merupakan aset negara dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat luas, sehingga dalam pengelolaan hasil pertanian haruslah benar-benar mendapat perhatian khusus dari semua lembaga pemerintahan mulai dari pemerintah desa sampai pemerintah pusat sehingga dapat meningkatkan perekonomian keluarga. Pendapatan keluarga pada umumnya dilihat dari pemenuhan akan kebutuhan sehari hari, apabila suatu keluarga dalam pemenuhan kebutuhan keluarga bisa terpenuhi maka dapat dikatakan perekonomian keluarga tersebut mapan. Undang-Undang Republik Indonesia tahun 2009, menerangkan tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, maka kegiatan peningkatan kesejahteraan perekonomian keluarga bukan lagi sekedar program integrasi akan tetapi sudah menyatu dengan program kependudukan dan keluarga berencana. Perkembangan perekonomian keluarga tidak bisa lepas dari tanggung jawab pemerintah dalam hal ini, sehingga sangat diperlukannya peranan pengelolaan keuangan dari hasil pertanian dari masyarakat desa sehingga dapat memenuhi kebutuhan dan tercapainya tujuan dari pemerintah.

Peranan bagi pengelolaan keuangan petani antara lain sebagai sistem yang mengatur jalannya proses dari pra bercocok tanam sampai pengelolaan keuangan hasil panen dapat dikelola dengan baik sehingga dari hasil usaha pertanian tersebut bisa memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari bahkan bisa memenuhi kebutuhan tersier dengan kata lain peningkatan perekonomian keluarga. Dalam pengelolaan keuangan hasil panen, para petani sangat beragam ada yang langsung dijual berupa barang mentah, ada yang ditimbun sebagai bibit untuk ditanam pada musim selanjutnya dan bahkan ada yang di tukar dengan barang lain. Keanekaragaman inilah yang menyebabkan perbedaaan starta perekonomian keluarga dari masing-masing masyarakat tani dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Di tengah melemahnya ekonomi nasional akibat wabah pandemi virus corona yang baru berlalu, kinerja sektor pertanian justru terlihat sangat cemerlang sehingga menjadi satu-satunya sektor yang menyelamatkan ekonomi nasional. Hal ini berdasarkan data BPS, bahwa ekspor pertanian tetap memperlihatkan kinerja yang baik yakni ekspor pertanian April 2020 sebesar 0,28 miliar dolar AS atau tumbuh 12,66 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2019 (YoY). Berdasarkan sektornya, hanya sektor pertanian saja yang mengalami kenaikan ekspor secara Year of Year (YoY). Selanjutnya BPS pun merilis data inflasi Mei 2020 berada pada posisi rendah angka 0,07 persen karena berbagai faktor, salah satunya atas dukungan ketersediaan pangan pada Hari Raya Idul Fitri.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto dalam keterangannya menjelaskan bahwa pada periode Januari-April 2020, ekspor non migas Indonesia didominasi oleh eskpor lemak dan minyak hewan atau nabati sebesar 6,25 miliar dolar AS atau 12,24 persen. Ini merupakan signal positif dan menjadi angin segar dimana pertanian dan olahannya memperlihatkan pertumbuhan yang positif. Suhariyanto juga menegaskan sektor pertanian memiliki peran yang cukup besar terhadap kinerja ekspor nasional. Selain itu, upah nominal buruh tani juga mengalami kenaikan. Tercatat secara Month on Month (MoM) upah nominal pada April 2020 naik sebesar 0,12 persen dari bulan sebelumnya 55,254 menjadi 55,318. Namun, untuk upah rill cenderung stabil dikisaran 52,214 dan tidak terjadi perubahan yang signifikan. Lebih lanjut Suhariyanto membeberkan inflasi pada Mei 2020 berada pada posisi rendah yakni angka 0,07 persen karena berbagai faktor. Beberapa diantaranya yaitu kesiapan pemerintah dalam mengantisipasi permintaan pangan untuk Hari Raya Idul Fitri. Menurut Kecuk, ini juga terjadi karna dampak dari pandemi virus corona (Covid-19) yang menyebabkan adanya penurunan permintaan. Selain itu, adanya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) juga turut mempengaruhi aktifitas ekonomi termasuk permintaan akan barang serta tingkat pendapatan masyarakat sehingga aktivitas belanja masyarakat ikut menurun.

Guru Besar Ilmu Ekonomi Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Muhammad Firdaus, juga menegaskan bahwa kondisi ketersediaan pangan pokok nasional secara kumulatif mencukupi meskipun sebarannya belum merata. Ia juga menegaskan bahwa masing-masing dari wilayah punya keunggulan dan kapasitas produksi sendiri. Yang terpenting adalah ketersediaan secara agregat nasional harus mencukupi. Menurutnya, sistem distribusi perlu ditata untuk mengurangi disparitas harga antarwilayah. Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo, mengatakan menjamin ketersediaan pangan khususnya 11 komoditas pangan dasar harganya stabil dan stoknya pun aman. Berbagai terobosan telah disiapkan untuk menjamim stok dan kelancaran distribusi pangan ke masyarakat. Ia menyebutkan menghadapi puasa dan menjelang lebaran selama pandemi, harus adanya upaya untuk menjamin ketersediaan bahan pangan dengan hadirnya Toko Mitra Tani di setiap provinsi dan juga menggandeng layanan transportasi berbasis online serta marketplace dan sejumlah startup bidang pertanian.

Di saat pandemi melanda, sektor pertanian juga mampu meningkatkan daya beli petani. BPS mencatatkan Nilai Tukar Pertani (NTP) pada subsektor peternakan mengalami kenaikan sebesar 0,27 persen atau 96,66 pada bulan Mei 2020. Padahal sebelumnya, NTP subsektor peternakan tercatat hanya 96,40. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, selain subsektor peternakan, kenaikan juga terjadi pada subsektor perikanan yang naik sebesar 0,41 atau dari 98,70 menjadi 99,11. Meski demikian, Suhariyanto menjelaskan ada tiga subsektor pertanian yang mengalami penurunan. Ketiga subsektor tersebut adalah subsektor tanaman pangan sebesar 0,54 persen, subsektor hortikultura sebesar 0,58 persen, dan subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 2,30 persen. Namun penyebab penurunan NTP pada tiga subsektor tersebut dikarenakan terjadi penurunan harga di beberapa komoditas. Oleh karena itu, dengan adanya penurunan harga komoditas, membuat NTP Nasional pada bulan Mei 2020 turun sebesar 0,85 dibanding NTP bulan lalu. Secara keseluruhan, NTP di bulan ini berada dibawah 100 yang merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di pedesaan. NTP juga menunjukan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.

Pandemi Covid-19 yang berimplikasi pada pemberlakuan kebijakan new normal, tidak serta merta melemahkan peran pertanian sebagai “backbone” perekonomian bangsa. Ditengah perlambatan ekonomi dimasa pandemi, kegiatan  pertanian justru menunjukkan kinerja baik dan positif. Kementerian Pertanian (Kementan), juga meengatakan terus menjaga dan memaksimalkan produksi pertanian nasional dalam menjaga ketahanan pangan. Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo, dalam setiap kesempatan mengatakan bahwa pertanian adalah salah satu sektor yang harus tetap berproduksi dan dipastikan tidak boleh berhenti dalam kondisi apapun. Bahkan di kala kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), para petani tetap bekerja. Termasuk ketika kebijakan “New Normal” alias Tatanan Kehidupan Baru yang saat ini berlaku, sektor pertanian harus tetap berproduksi maksimal, sehingga 267 juta penduduk Indonesia tetap bisa mengakses bahan pangan dengan harga yang terjangkau.

Implementasi New Normal seharusnya tidak memberi banyak perubahan pola masyarakat dalam memenuhi dan mengakses pangannya. New normal justru seharusnya dapat menjadi momentum untuk kembali menguatkan sektor pertanian dalam arti luas, sehingga diharapkan perekonomian masyarakat bisa bangkit. Kebijakan new normal pula menjadi kesempatan untuk mengembangkan pola bisnis pertanian yang lebih mumpuni. Peran pemerintah sangat di butuhkan yangmana harus mampu menjaga dan meningkatkan semangat tersebut dengan caranya menghadirkan program dan kebijakan yang dapat mendukung secara konkret kegiatan pertanian dari hulu hingga hilir, agar pelaku pertanian dapat segera beradaptasi dan mampu berbenah dengan situasi terkini atau era new normal. Kementan (Kementrian Pertanian) juga telah melakukan perubahan postur anggaran yang bertujuan untuk menguatkan produksi pertanian dan secara langsung dapat menjaga serta meningkatkan kesejahteraan petani.

Pemerintah telah melakukan “refocusing” anggaran Kementan, dengan mengutamakan peningkatan sarana produksi pertanian, pengamanan ketersedian pangan, padat karya, hingga “social safety net” (jaminan keamanan sosial), termasuk social safety net berjangka pendek. Pemerintah melalui Kementan juga berupaya menguatkan permodalan bagi petani, melalui Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) yang disinergikan dengan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari perbankan. Alokasi KUR untuk pertanian di tahun 2020 mencapai Rp 50 triliun dari total KUR Rp 190 Triliun. Sampai pertengahan Mei 2020, serapan KUR yang sudah disalurkan untuk pertanian mencapai Rp 17 triliun, artinya upaya ini direspon positif oleh petani.

Petani dan sektor pertanian terus bergerak hingga diperkirakan pada akhir Desember 2020, stok beras nasional masih akan tersedia sebanyak 4,7 juta ton. Percepatan tanam padi 5,6 juta hektare pada musim tanam kedua di 33 provinsi telah digulirkan untuk tetap mengamankan pasokan beras ditengah pandemi covid-19. Dalam percepatan musim tanam kedua, pemerintah menargetkan program itu bisa menghasilkan produksi beras sebesar 15 juta ton pada periode Juli- Desember 2020. Begitupun dengan komoditas strategis lainnya, untuk cabai dan bawang merah sejak April lalu, sejumlah wilayah sentra produksi, sudah mulai panen dan diperkirakan berlangsung hingga Juli mendatang. Begitupun dengan petani tebu yang masuk musim giling dan lainnya. Meski di sisi produksi aman, pemerintah harus tetap menjaga pengelolaan dan pendistribusian komoditas pertanian, demi manjaga harga, baik ditingkat petani maupun konsumen.

[Dikumpulkan dari berbagai sumber]

Komentar

Berita lainnya