oleh

Sedih, Inilah yang Dirasakan Anak pada Orang Tua Sibuk Bekerja

Liburan akhir tahun telah usai dan semua orang kembali kepada rutinitas hidupnya masing – masing. Anak – anak akan kembali ke sekolah, dan orang tua akan kembali bekerja. Dengan kembalinya rutinitas ini, kebanyakan orang tua akan kembali sibuk dengan pekerjaannya.

Orang tua tentu saja akan bekerja keras agar dapat menghidupi anaknya dan dapat memberikan apapun yang mereka inginkan sehingga anak – anaknya merasa senang. Sehingga terkadang, orang tua bekerja hingga larut malam, sampai mereka tidak punya waktu untuk mengurus anaknya dan membiarkan mereka di asuh oleh penjaga rumah seperti baby sitter, atau pinatu. Ketika sang anak beranjak menjadi dewasa, hubungan orang tua dengan anaknya menjadi renggang karena tidak pernah menghabiskan waktu bersama.

Bekerja keras demi anak memang bukanlah suatu hal yang salah dan tentunya mereka akan sangat berterima kasih kepada orang tuanya, namun terkadang hal ini dapat membuat anak menjadi kesepian.

Kesepian yang dirasakan anak

Hal ini terjadi pada MG, seorang mahasiswi yang berkuliah di salah satu universitas bergengsi di Jakarta. MG selalu merasa kesepian sedari dia kecil. Ia tidak memiliki saudara, dan orang tuanya bercerai ketika ia kecil, sehingga sang ibu harus bekerja sendiri untuk menghidupi keluarga kecil mereka. Hal itu menyebabkan ia selalu tinggal sendirian di rumah yang terasa lapang.

Setiap hari, Ia menghabiskan waktu nya dirumah sendirian sehingga ia selalu merasa kesepian. Segala cara untuk menghalau rasa kesepian sudah dia coba mulai dari membuat teman khayalan, menonton tv, mengikuti les pelajaran, bermain ke rumah teman, namun ketika ia sampai dirumah maka ia akan kembali merasa kesepian.

“Aku tidak tahu harus berbicara kepada siapa. Di sekolah aku terlihat sangat bahagia, namun sebenarnya aku sangat kesepian. Akupun tidak berani untuk mengatakannya kepada mama, karena gengsi. Hal ini membuatku berpikir hal – hal negative seperti orang tua ku tidak lagi menyayangiku, aku tidak berguna, tidak berharga, hal itu membuatku sangat sedih. Aku sering menangis sendirian, aku juga sering melakukan beberapa hal yang aku sadar bahwa itu tidak boleh di lakukan, namun aku berpikir bahwa toh tidak ada yang peduli dengan ku. Dan sebenarnya itu membuatku depresi, tapi aku tetap memendamnya karena tidak berani mengatakannya.”

Namun untungnya, Ia bisa kuat menghadapinya sehingga Ia berani untuk bangkit, dan mencari cara untuk keluar dari rasa kesepian tersebut. “Akhirnya aku mencoba menghalau segala pikiran negative yang ada pada diriku. Aku mencoba untuk speak up, dan untungnya aku memiliki teman teman yang mengerti keadaanku. Awalnya aku takut akan di judge, diejek atau bahkan dijauhi, namun untungnya mereka mendukungku dan menemaniku. Mereka memperbolehkan ku untuk main dirumah mereka sehingga aku tidak merasa kesepian, ketika sampai rumah pun mereka kadang masih menelpon ku agar aku tidak merasa sendiri,” ujarnya.

Cerita darinya menunjukkan bahwa kesepian bukanlah hal yang sepele. Menurut survey kecil yang di lingkungan kampus yang sama dengan tempat MG berkuliah, 80%nya mengalami kesepian walaupun kuliah di universitas ternama dan memiliki segalanya. Dan setelah ditanya lebih lanjut pun, mereka juga ditinggal oleh orang tua mereka yang bekerja hingga larut malam.

Yang dibutuhkan hanyalah waktu

Beberapa anak lebih memilih untuk menghabiskan waktunya di luar rumah dan orang tua pun tidak tahu apa yang anak – anaknya lakukan di luar sana karena mereka terlalu sibuk. Orang tua pun tidak memiliki kontrol dan juga tidak bisa memberitahukan kepada anaknya mengenai mana yang baik dan buruk, atau mana yang boleh atau tidak boleh dilakukan untuk melindungi mereka. Dalam beberapa kasus, anak – anak yang sering ditinggal oleh orang tua nya berpotensi besar untuk terjerumus pada masalah yang dapat mempengaruhi masa depan mereka.

Namun kadang kala, orang tua tidak akan menyadari nya sebelum terlambat. Dan pada saat hal buruk terjadi, yang ada hanyalah penyesalan karena kurang memberikan perhatiannya kepada anak.

Waktu yang di sisihkan oleh orang tua untuk anaknya bisa membuat mereka merasa bahwa mereka di sayangi dan mereka berharga. Apabila tidak bisa seharian dirumah, setidaknya sempatkan waktu untuk mengantar ke sekolah atau sekadar makan pagi bersama. Ketika makan bersama pun, usahakan jangan memegang telfon genggam dan nikmatilah waktu yang dihabiskan bersama keluarga. Dengan teknologi yang ada, sempatkan waktu dengan video call dengan anak hanya untuk sekadar menanyakan apa yang ia lakukan disekolah, masalah apa yang sedang ia hadapi, maka anak – anak akan merasa diperhatikan.

Uang memang dibutuhkan, namun quality time juga tidak kalah penting. Jangan sampai karena sibuk mencari uang, hubungan antara orang tua dan anak menjadi renggang. | Graciella Novenia

Komentar

Berita lainnya