DEPOKPOS – Banyak perusahaan baru bergerak ketika masalah sudah di depan mata. Ada karyawan mengundurkan diri, lowongan dibuka mendadak, lalu posisi kosong berminggu-minggu. Pekerjaan menumpuk, rekan kerja kewalahan, dan layanan ke pelanggan ikut terganggu.
Pola serba reaktif ini menunjukkan perencanaan sumber daya manusia (SDM) belum dianggap penting.
Perencanaan SDM pada dasarnya adalah upaya memastikan organisasi punya orang yang tepat, dalam jumlah yang tepat, pada waktu yang tepat.
Perusahaan yang tahu berapa tenaga kerja yang dibutuhkan enam bulan ke depan bisa menyiapkan rekrutmen dan pelatihan jauh-jauh hari, bukan saat sudah genting.
Data Bicara
Persoalan ini terlihat jelas di data ketenagakerjaan. Menurut Badan Pusat Statistik, jumlah angkatan kerja Indonesia pada Februari 2026 mencapai 154,91 juta orang, dan tingkat pengangguran terbuka berada di angka 4,68 persen. Itu setara dengan sekitar 7,24 juta orang yang masih menganggur. (bps) (katadata)
Yang menarik, masalahnya bukan hanya soal jumlah lowongan, tetapi kecocokan kompetensi. BPS mencatat tingkat pengangguran lulusan SMK mencapai 7,74 persen, tertinggi dibanding jenjang pendidikan lainnya, sementara kelompok usia 15-24 tahun menjadi yang paling tinggi dengan 16,36 persen. Di sisi lain, tingkat setengah pengangguran, yaitu pekerja dengan jam kerja kurang dari 35 jam per minggu yang masih mencari atau bersedia menerima pekerjaan lain, tercatat 7,27 persen. (pengangguran terbanyak masih didominasi lulusan sma dan smk +2)
Artinya, di satu sisi banyak orang mencari kerja, di sisi lain perusahaan sering kesulitan menemukan orang yang pas. Tanpa perencanaan SDM yang jelas, perusahaan tidak tahu kompetensi apa yang harus dicari dan disiapkan, sehingga kesenjangan ini terus terjadi.
Dimulai dari Arah Bisnis
Kebutuhan SDM tidak bisa dilepaskan dari strategi perusahaan. Perusahaan yang berencana membuka cabang butuh tambahan tenaga kerja dan calon pemimpin tim. Perusahaan yang beralih ke sistem digital butuh karyawan dengan keterampilan baru. Setelah itu, perusahaan memetakan SDM yang ada: jumlah, keahlian, siapa yang akan pensiun, dan siapa yang berpotensi berkembang. Selisih antara kebutuhan dan ketersediaan diisi lewat rekrutmen, pelatihan, atau rotasi pegawai.
Manfaat yang Nyata
Pertama, biaya lebih terkendali karena tidak ada kelebihan atau kekurangan pegawai. Kedua, pelatihan tepat sasaran. Ketiga, regenerasi kepemimpinan berjalan mulus. Keempat, perusahaan lebih lentur menghadapi perubahan pasar atau teknologi.
Tantangan dan Langkah Sederhana
Kondisi bisnis bisa berubah cepat sehingga perkiraan meleset, dan banyak usaha kecil belum punya data karyawan yang rapi. Meski begitu, perusahaan tidak perlu menunggu sistem canggih.
Mulailah dengan mencatat data karyawan, menghitung beban kerja tiap bagian, dan memperkirakan kebutuhan tenaga kerja setahun ke depan. Libatkan kepala bagian, lalu tinjau rencana minimal tiap semester.
Penulis: Farhan Adithya, Mahasiswa S1 Manajemen Universitas Pamulang

