Ekonomi Syariah di Indonesia Masih Tertinggal, Mengapa?

Ilustrasi. (Istimewa)

Sebagai negara yang memiliki penduduk muslim terbanyak di dunia tetapi perekonomian syariah di tanah air masih jauh tertinggal dengan negara lain. Indikator yang menunjukan Indonesia tertinggal dalam Ekonomi Syariah adalah Indonesia menduduki posisi ke-8 dalam Global Islamic Indicator dan jauh tertinggal di banding negara Malaysia.

Karena itu, menjadi suatu panggilan untuk menegakkan ekonomi syariah di Indonesia untuk mengejar ketertinggalan itu, sekaligus memakmurkan masyarakat atau umat muslim di Indonesia dan juga perekonomian Tanah Air. Dengan masyarakat Muslim terbesar, maka semakin banyak yang kaya berarti semakin banyak kebutuhan hidupnya yang berbasis syariah. Kita menjadi pangsa pasar yang besar untuk makanan halal dan berbagai produk syariah.

Persoalan lainnya yang dialami yaitu kurangnya pemahaman terhadap system keuangan islam di Indonesia. Hal tersebut terlihat dari belum banyaknya masyarakat yang mengakses layanan perbankan syariah dibandingkan dengan layanan perbankan konvensional. Faktor lainya, perbankan syariah sulit mendapatkan nasabah yang sifatnya investasi. Oleh karena itu, mereka lebih banyak kepada konsumsi terutama kepada nasabah yang umumnya mereka kenal. Selain itu, kredit untuk pembiayaan investasi mengalami penurunan sejalan dengan pembiayaan untuk modal kerja yang mengalami trend negatif. Jika kondisi ini terus terjadi, maka dipastikan keinginan untuk menaikan pangsa perbankam syariah tidak.akan tercapai terlebih kondisi perekonomian di tanah air tidak semakin membaik sehingga dikhawatirkankan akan semakin berkurang pangsa terhadap perbankan maupun ekonomi syariah.

BACA JUGA:  BNI Syariah Targetkan Potensi Bisnis Rp 31,1 M

Sebagai Negara muslim terbanyak di dunia Indonesia dinilai sangat terlambat saat ini baru tercatat 5% system keuangan syariah di Indonesia dibandingkan Malaysia yang sudah menerapkan system keuangan syariah sebesar 22% untuk itulah bank syariah Indonesia menggelar ISEF yaitu Indonesia Shari’a Economic Festival. Dan ini pun menjadi peluang baru bagi sektor pariwisata dan juga makanan halal berpotensi besar pada perekonomian syariah di Indonesia. Ada beberapa sektor pariwisata, makanan halal dan keuangan yang berbasis syariah yang bias dikembangkan di Indonesia, bahkan berdasarkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) 2017 industri keuangan syariah mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi 29,48%.

BACA JUGA:  BNI Syariah Targetkan Potensi Bisnis Rp 31,1 M

Ekonomi Islam di Indonesia pada masa orde baru, sifatnya masih mendua, karena terjadi dua pandangan antara pro dan kontra. Pada saat itu juga, perbankan berbasis Islam agar bisa diterima oleh masyarakat justru tidak memakai istilah Islamic tetapi menggunakan istilah syariah. Hal tersebut karena berpegang teguh pada nilai-nilai dari ekonomi Islam yaitu kepemilikan, keadilan, kebersamaan atau kerja sama, dan keseimbangan

Pengembangan ekonomi dan keuangan perbankan syariah sampai saat ini masih tertinggal di sektor visit economics, khususnya Islamic economic development. Untuk itu, kita fokuskan sisi ekonomi pembangunan dan sektor riil. Karena melihat ekonomi kita, untuk perbankan hanya bisa hidup bila ada orang yang mengajukan kredit kepada bank tersebut. Untuk mengembangkan peran perbankan syariah dalam pembangunan nasional termasuk fasilitas perbankan syariah untuk seluruh segmen masyarakat, optimalisasi dana-dana sosial keagamaan agar tepat sasaran dan bisa digunakan sebagai investasi, seperti wira haji, membiayai proyekproyek infrastruktur pendidikan dan pembangunan, meningkatkan daya saing industri keuangan, serta mendorong kemandiriin ekonomi Islam di Indonesia

BACA JUGA:  BNI Syariah Targetkan Potensi Bisnis Rp 31,1 M

Deputi Gubernur BI Perry Wajiyo mengatakan, Indonesia harus segera memperbaiki kondisi keuangan syariah sesegera mungkin. Dengan begitu potensi keuangan syariah Indonesia tidak hanya menjadi pasar, namun juga menciptakan produk yang bisa disebarluaskan ke sejumlah negara. Dengan menciptakan dan inovasi terbaru ini dapat membantu pemerintah dalam mewujudkan pemerataan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.

Bahkan contohnya produk-produk Thailand banyak yang fokus terhadap produk halal hingga mendunia. Tak hanya itu, negara lain seperti Tiongkok dan Australia juga telah mengembangkan berbagai produk halal yang tujuannya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat muslim dunia. Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan negara-negara tersebut sukses memasarkan produk syariah, yang pertama karena adanya dukungan politik yang kuat, kedua koordinasi dengan pemangku kepentingan terkait, ketiga focus dalam meningkatkan daya asing dengan memetakan komponen apa yang menjadikan Indonesia sebagai pusat keuangan syariah.

Ditulis oleh: Aminur Rohman, Mahasiswa STEI SEBI.

Komentar

Berita lainnya