Oleh Kiran Ninta, Mahasiswa Keselamatan dan Kesehatan Kerja Universitas Binawan
DEPOKPOS – Di balik panorama sawah dan ladang yang berwarna hijau, tersimpan kenyataan pahit mengenai kondisi kerja para petani. Pekerjaan sebagai petani membawa risiko tinggi akan kecelakaan dan penyakit karena rendahnya penerapan keselamatan serta kesehatan kerja di lingkungan mereka. Hal ini menjadi penyebab utama terjadinya kecelakaan dan penyakit yang dapat mengurangi produktivitas petani serta memberi dampak buruk terhadap aspek sosial dan ekonomi mereka. Rendahnya penerapan K3 di kalangan petani muncul dari anggapan bahwa K3 adalah sebuah isu yang tabu, tidak bermanfaat, dirasa tidak nyaman, tidak praktis, dan sering kali mengganggu proses bercocok tanam. Dalam sektor informal seperti ini, tidak terdapat pengawas yang mewajibkan penggunaan alat pelindung diri. Sebagai hasilnya, perilaku kerja yang berisiko menjadi hal yang biasa dan dianggap normal.
Metode pertanian tradisional yang kita kenal selama ini ternyata memberikan efek buruk terhadap lingkungan, seperti penurunan keragaman spesies, pencemaran udara dan air, sisa-sisa bahan kimia dalam makanan, serta ancaman terhadap kesehatan dan keselamatan pekerja yang harus dihadapi para petani akibat penggunaan pupuk kimia, pestisida buatan dan zat kimia lain dalam volume yang signifikan dalam praktik usaha mereka.
Residu kimia ini tidak hanya merugikan lingkungan, melainkan juga menjadi racun secara perlahan yang merusak kesehatan petani, memicu penyakit kronis yang sering kali tidak terdeteksi sejak awal. Data menunjukkan bahwa setiap tahun, sekitar satu juta individu di seluruh dunia mengalami keracunan akibat penggunaan pestisida. Di Indonesia, banyak petani yang terpapar bahan kimia berbahaya setiap harinya tanpa pelindung seperti masker atau sarung tangan yang memadai.
| Indikator Risiko | Data Statistik | Penjelasan Dampak |
| Kecelakaan Kerja Nasional | 356.000+ Kasus | Penurunan produktivitas dan gangguan ekonomi keluarga. |
| Penyebab Utama Kecelakaan | 74,9% (Terpeleset/Jatuh) | Luka fisik yang menghambat aktivitas bercocok tanam. |
| Kecelakaan Alat Tajam | 25,1% | Risiko infeksi dan cacat fisik sementara/permanen. |
| Keracunan Pestisida (Global) | 1.000.000+ Orang/Tahun | Kerusakan kesehatan kronis yang sulit dideteksi awal. |
| Kematian Akibat Zat Kimia | 220.000 Jiwa/Tahun | Hilangnya nyawa akibat paparan bahan berbahaya |
| Kepatuhan APD Lengkap | < 40% Petani | Tingginya paparan racun melalui kulit dan pernapasan. |
Solusi untuk Membangun Budaya yang Selamat dan Sehat. Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja di sektor pertanian harus dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan. Aktivitas ini mencakup pemeriksaan kesehatan secara berkala, serta melakukan analisis risiko penyakit akibat paparan pestisida secara rutin. Edukasi Perilaku, menyebarluaskan pemahaman bahwa penggunaan alat pelindung diri merupakan suatu investasi, bukan beban. Prosedur Operasional Standar, mengadopsi kebiasaan menggunakan peralatan standar seperti masker, sarung tangan, dan sepatu bot setiap kali beraktifitas di lapangan.
Petani yang sehat merupakan dasar atau sebuah pondasi untuk pertanian yang kuat. Dengan mengadopsi perilaku kerja yang aman dan sehat, kita tidak hanya melindungi para pejuang pangan di Indonesia, tetapi juga memastikan kestabilan sosial dan ekonomi di tingkat negara.