DEPOKPOS – Akhlak merupakan sebuah sistem yang mengatur tindakan dan pola sikap manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dalam ajaran agama Islam, sistem nilai tersebut merupakan sumber ijtihad sebagai salah satu metode berpikir secara islami. Ajaran Islam mengenai akhlak begitu luas cakupannya meliputi bagaimana seseorang berinteraksi terhadap sesamanya maupun sang pencipta.
Demikianlah pentingnya akhlak dalam Islam hingga hal-hal kecil pun tetap diajarkan. Artikel ini bertujuan untuk
menjelaskan akhlak dan muamalah secara eksplisit dalam konteks ajaran Islam. Dengan demikian, tulisan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran kita mengenai apa yang telah Islam ajarkan dari segala macam
aspek kehidupan demi tercapainya kesejahteraan kehidupan di dunia maupun di akhirat.
Kehadiran agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW diyakini dapat menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan batin. Petunjuk-petunjuk agama mengenai berbagai kehidupan manusia, sebagaimana terdapat di dalam sumber ajarannya, Al-Quran dan Hadits, tampak amat ideal dan agung. Sedangkan akal pikiran sebagai alat untuk memahami Al-Quran dan Hadits.
Berdasarkan kitab suci Al-Quran, pada hakikatnya manusia merupakan makhluk ciptaan Allah SWT. Allah SWT menciptakan manusia dari nutfah, ‘alaqah, mudghah, yang kemudian dijadikan tulang lalu dibungkus dengan
daging yang pada akhirnya menjadi makhluk yang paling sempurna dengan dibekali berbagai kemampuan yang dengannya hendaknya manusia dapat memelihara dan melestarikan kelangsungan hidup alam semesta ini.
Islam mengajarkan agar manusia peduli terhadap alam dan lingkungannya, begitu banyak ayat Al-Quran yang menjelaskan dan menganjurkan manusia untuk memelihara dan mengelola kelangsungan alam semesta ini guna keberlangsungan hidup, sehingga mau tidak mau manusia harus peka dan peduli terhadap berbagai problematika kehidupan.
Akhlak adalah salah satu aspek penting yang menjadi pondasi kehidupan manusia. Dalam Islam, akhlak sering kali dikaitkan dengan perilaku, moral, dan etika yang mencerminkan kepribadian seorang individu. Allah SWT menekankan pentingnya akhlak dalam firman-Nya:
عَظِي مٍ خُلُ قٍ لَعَلَ ىٍ وَإِنَّكٍَ
“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)
Hadis Nabi Muhammad SAW juga menegaskan bahwa tujuan utama diutusnya beliau adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Rasulullah bersabda:
ا أ لَْ أ خلََقٍِ مَكَارِمٍَ لُِْتَ ممٍَ بُعِثأتٍُ إِنَّمَاٍ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”(HR. Ahmad)
Pengertian Akhlak
1. Secara Bahasa:
Kata akhlak berasal dari akar kata Arab khuluq (خلق ) yang berarti sifat, tabiat, atau kebiasaan. Akar kata ini berkaitan dengan khalq (خلق ), yang berarti penciptaan. Hal ini menunjukkan bahwa akhlak merupakan bagian integral dari diri manusia yang diciptakan oleh Allah SWT.
2. Secara Istilah:
Akhlak adalah sifat atau perilaku yang tertanam dalam jiwa seseorang, yang dengannya ia melakukan suatu perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran atau pertimbangan yang mendalam. Dalam Islam, akhlak diartikan sebagai perilaku yang mencerminkan nilai-nilai syariat, sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya.
Akhlak dapat dibagi menjadi dua jenis:
1. Akhlak Mahmudah (Terpuji):
Akhlak mahmudah adalah sifat-sifat baik yang harus dimiliki oleh setiap Muslim. Sifat-sifat ini mencerminkan kesempurnaan iman dan ketaatan kepada Allah SWT. Didalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman:
وَإِنَّكٍَ لَعَلَ ىٍ خُلُ قٍ عَظِي مٍ
“Dan sungguh, engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.”(QS. Al-Qalam: 4)
Berikut ini beberapa contoh dan penjelasannya:
Jujur (Shiddiq)
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينََ آمَنُوا اتَّقُوا اللَََّّ وَكُونُواَ مَعََ الصَّادِقِيَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.”(QS. At-Taubah: 119)
Hadis Rasulullah SAW:
عَلَيأكُ أ مٍ بِال ص أ دقِ، فَإِنٍَّ ال ص أ دقٍَ يَ أ هدِي إِلَى الأبِ ر، وَإِنٍَّ الأبِرٍَّ يَ أ هدِي إِلَى الأجَنَّةٍِ
“Hendaklah kalian berkata jujur, karena sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Jujur adalah Berbicara atau bertindak sesuai dengan kenyataan. Jujur menjadi dasar dari kepercayaan dalam hubungan antarmanusia.
Sabar (Sabr)
Allah SWT berfirman:
إِنََّ اللَََّّ مَعََ الصَّابِرِينََ
“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”(QS. Al-Baqarah: 153)
Hadis Rasulullah SAW:
وَالصَّبْرَُ ضِيَا ءَ
“Sabar adalah cahaya.”(HR. Muslim)
Sabar adalah Menahan diri dari godaan, kesulitan, atau penderitaan dengan tenang dan tawakal kepada Allah.
Rendah Hati (Tawadhu’)
Allah SWT berfirman:
وَلََ تُصَعِ رَْ خَدَّكََ لِلنَّاسَِ وَلََ تَمْشَِ فِي الَْْرْضَِ مَرَحًا إِنََّ اللَََّّ لََ يُحِبَُّ كُلََّ مُخْتَا لَ فَخُو رَ
“Dan janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan jangan berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”(QS. Luqman: 18)
Hadis Rasulullah SAW:
لََ يَدْخُلَُ الْجَنَّةََ مَنَْ كَانََ فِي قَلْبِهَِ مِثْقَالَُ ذَرَّة مِنَْ كِبْ رَ
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebesar biji zarah dari kesombongan.”(HR. Muslim)
Rendah hati atau Tawadhu adalah Tidak sombong atau merasa lebih baik dari orang lain, meskipun memiliki kelebihan.
Ikhlas
Allah SWT berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلََّ لِيَعْبُدُوا اللَََّّ مُخْلِصِينََ لَهُ الدِ ينََ حُنَفَاءََ
“Dan mereka hanya diperintah untuk menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya dalam menjalankan agama yang lurus.”(QS. Al-Bayyinah: 5)
Hadis Rasulullah SAW:
إِنٍَّ اللٍََّّ لٍَ يَقأبَلٍُ مِنٍَ الأعَمَلٍِ إِلٍَّ مَا كَانٍَ لَهُ خَالِصًا وَابأتُغِيٍَ بِهٍِ وَ أ جهُهٍُ
“Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali amal yang dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridha-Nya semata.”(HR. Nasa’i)
Ikhlas adalah melakukan segala sesuatu semata-mata karena Allah, tanpa mengharap pujian atau imbalan dari manusia.
2. Akhlak Mazmumah (Tercela)
Akhlak mazmumah adalah sifat-sifat buruk yang harus dihindari karena dapat merusak hubungan dengan Allah dan sesama manusia. Didalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman:
وَذَرُوا ظَاهِرََ الِْْثْمَِ وَبَاطِنَهُ إِنََّ الَّذِينََ يَكْسِبُونََ الِْْثْمََ سَيُجْزَوْنََ بِمَا كَانُوا يَقْتَرِفُونََ
“Dan tinggalkanlah dosa yang terlihat maupun yang tersembunyi. Sesungguhnya orang-orang yang mengerjakan dosa, mereka akan diberi balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.”(QS. Al-An’am: 120)
Beberapa contohnya adalah:
Sombong (Kibr)
Allah SWT berfirman:
وَلََ تَمْشَِ فِي الَْْرْضَِ مَرَحًا إِنَّكََ لَنَْ تَخْرِقََ الَْْرْضََ وَلَنَْ تَبْلُغََ الْجِبَالََ طُولًَ
“Dan janganlah engkau berjalan di bumi dengan angkuh, karena sesungguhnya engkau tidak akan mampu menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.”(QS. Al-Isra’: 37)
Hadis Rasulullah SAW:
لََ يَدْخُلَُ الْجَنَّةََ مَنَْ كَانََ فِي قَلْبِهَِ مِثْقَالَُ ذَرَّة مِنَْ كِبْ رَ
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sebesar biji zarah dari kesombongan.”(HR. Muslim)
Sombong adalah merasa lebih unggul dari orang lain dalam hal kekayaan, ilmu, atau status sosial.
Iri Hati (Hasad)
Allah SWT berfirman:
وَلََ تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلََ اللََُّّ بِهَِ بَعْضَكُمَْ عَلَ ىَ بَعْ ضَ
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dilebihkan oleh Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.”(QS. An-Nisa’: 32)
Hadis Rasulullah SAW:
إِيَّاكُمَْ وَالْحَسَدَ، فَإِنََّ الْحَسَدََ يَأْكُلَُ الْحَسَنَاتَِ كَمَاَ تَأْكُلَُ النَّارَُ الْحَطَبََ
“Jauhilah sifat iri hati, karena iri hati itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.”(HR. Abu Dawud)
Iri hati atau Hasad adalah merasa tidak senang ketika melihat orang lain mendapatkan nikmat dan menginginkan nikmat tersebut hilang darinya.
Marah Berlebihan (Ghadhab)
Allah SWT berfirman:
وَالْكَاظِمِينََ الْغَيْظََ وَالْعَافِينََ عَنَِ النَّاسَِ وَاللََُّّ يُحِبَُّ الْمُحْسِنِينََ
“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”(QS. Ali Imran: 134)
Hadis Rasulullah SAW:
لَيْسََ الشَّدِيدَُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدَُ الَّذِي يَمْلِكَُ نَفْسَهُ عِنْدََ الْغَضَبَِ
“Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya saat marah.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Marah berlebihan atau Ghadhab adalah kehilangan kontrol diri sehingga mudah tersulut emosi, yang sering kali menyebabkan perbuatan atau ucapan yang tidak terpuji.
Akhlak tidak hanya menentukan hubungan manusia dengan Allah (hablum minallah), tetapi juga hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas). Tanpa akhlak yang baik, kehidupan sosial akan kacau, dan hubungan spiritual seseorang dengan Allah pun akan terganggu.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT memuji orang-orang yang memiliki akhlak mulia dan menjadikan mereka golongan yang beruntung. Firman-Nya:
“Sungguh beruntung orang-orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang-orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10)
Cara Menghindari Akhlak Tercela
Menghindari akhlak tercela berarti menjauhi sifat-sifat buruk yang dapat merusak hubungan kita dengan Allah dan sesama manusia. Akhlak tercela termasuk sifat sombong, iri hati, marah berlebihan, dusta, pemarah, dan lain sebagainya. Akhlak seperti ini bisa menjerumuskan seseorang pada kerugian baik di dunia maupun akhirat, seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadis. Untuk menghindari akhlak tercela, beberapa cara yang dapat dilakukan adalah:
1. Mengenali dan Menyadari Akhlak Buruk
Langkah pertama adalah mengenali sifat-sifat buruk dalam diri sendiri, seperti sombong, iri hati, atau marah berlebihan. Jika kita sadar akan kelemahan ini, kita bisa mulai mengubahnya.
2. Berdoa dan Memohon Pertolongan Allah
Meminta pertolongan Allah dalam memperbaiki akhlak kita. Doa seperti: “Ya Allah, tambahkanlah padaku ilmu, pemahaman, dan ketajaman dalam menyadari kekurangan diri.”
3. Meningkatkan Kesadaran Spiritual
Banyak beribadah, membaca Al-Qur’an, dan merenung tentang ajaran Islam akan membantu kita menghindari sifat tercela.
4. Menghindari Teman yang Buruk
Teman yang buruk sering kali mengarah pada perbuatan tercela. Maka, pilihlah lingkungan yang bisa mendukung kita untuk memperbaiki diri.
5. Mengontrol Diri dalam Situasi Emosional
Menghindari marah yang tidak terkendali dengan berusaha bersabar, menarik napas dalam-dalam, dan mengingat Allah ketika emosi datang.
Cara Meningkatkan Akhlak Mulia
Untuk meningkatkan akhlak mulia, beberapa cara yang dapat dilakukan adalah:
1. Mencontoh Teladan Nabi Muhammad SAW
Rasulullah SAW adalah contoh terbaik dalam akhlak mulia. Meneladani perilaku beliau dalam kehidupan sehari-hari, seperti sabar, jujur, dan pemaaf, akan memperbaiki akhlak kita.
2. Berusaha Menjadi Orang yang Jujur dan Amanah
Berkomitmen untuk selalu berkata jujur dalam setiap keadaan dan menjaga amanah. Kejujuran adalah dasar dari akhlak mulia yang akan membawa pada kedamaian dan kepercayaan dari orang lain.
3. Meningkatkan Kesabaran dan Pengendalian Diri
Dalam menghadapi ujian atau kesulitan hidup, sabar adalah kunci. Belajar mengontrol diri, menahan amarah, dan menerima keadaan dengan lapang dada adalah bagian dari akhlak mulia.
4. Berperilaku Rendah Hati dan Menghindari Kesombongan
Sifat tawadhu (rendah hati) akan meningkatkan hubungan sosial yang harmonis. Hindari kesombongan, karena Allah tidak menyukai orang yang menyombongkan diri.
5. Berbuat Baik kepada Sesama
Akhlak yang mulia juga tercermin dalam interaksi kita dengan sesama. Membantu orang lain, memberi sedekah, dan selalu berbuat baik akan meningkatkan kualitas akhlak kita.
6. Berdoa untuk Kebaikan
Meminta kepada Allah agar diberikan kemampuan untuk selalu berakhlak mulia dan jauh dari sifat tercela. Sebagaimana doa Nabi Muhammad SAW: (“Ya Allah, perbaikilah akhlakku.”)
7. Mempelajari Ilmu Agama dan Etika Islam
Memahami konsep akhlak dalam Islam, baik melalui Al-Qur’an maupun hadis, akan membantu kita untuk lebih memahami pentingnya perilaku yang baik dan terus memperbaiki diri.
Menghindari akhlak tercela dan meningkatkan akhlak mulia adalah proses yang berkesinambungan dan membutuhkan usaha dari dalam diri. Dengan mengikuti cara-cara tersebut, kita dapat hidup lebih baik, mendekatkan diri kepada Allah, dan membangun hubungan yang harmonis dengan sesama manusia.
Kesimpulan
Akhlak dalam Islam memainkan peran yang sangat penting dalam membentuk karakter dan kehidupan seorang Muslim. Allah SWT melalui Al-Qur’an dan Rasulullah SAW melalui Hadits menekankan pentingnya akhlak mulia, yang tidak hanya berhubungan dengan perilaku individu, tetapi juga memengaruhi hubungan sosial dan spiritual dengan Allah serta sesama. Akhlak yang baik, seperti jujur, sabar, rendah hati, dan ikhlas, merupakan cerminan dari iman yang kuat dan ketaatan kepada Allah. Sebaliknya, akhlak tercela seperti sombong, iri hati, dan marah berlebihan dapat merusak hubungan antar manusia dan mendatangkan kerugian di dunia serta akhirat.
Untuk itu, seorang Muslim wajib berusaha menghindari sifat-sifat buruk dengan menyadari kekurangannya, berdoa kepada Allah, dan memperbaiki diri melalui ibadah serta interaksi sosial yang positif. Meningkatkan akhlak mulia tidak hanya berarti mengikuti teladan Nabi Muhammad SAW, tetapi juga berkomitmen untuk menjadi pribadi yang jujur, amanah, sabar, dan rendah hati dalam setiap aspek kehidupan. Dengan meningkatkan akhlak, seseorang dapat hidup lebih damai, meraih keberkahan hidup, dan mendapat ridha Allah SWT. Sebagai penutup, akhlak mulia adalah kunci untuk menciptakan kehidupan yang harmonis, baik di dunia maupun di akhirat.
Roni Rizki Natama Tambunan
Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI