DEPOKPOS – Gaslighting merupakan perilaku yang bertujuan untuk memanipulasi, mengintimidasi korban, menertawakan dan menyepelekan perasaan korban, serta mengatakan bahwa semua yang terjadi merupakan akibat dari perilaku korban dengan tujuan ingin mengacaukan kewarasan serta keyakinannya pada diri sendiri.
Esai ini akan membahas pengertian gaslighting dalam konteks pengasuhan, contoh perilaku gaslighting yang umum dilakukan oleh orang tua, serta dampaknya terhadap pembentukan kepercayaan diri anak.
Umumnya, perilaku gaslighting terjadi pada suatu pasangan, namun tidak sedikit orang tua yang menjadi gaslighter bagi anaknya sendiri. Mereka cenderung menunjukkan dominasinya sebagai orang tua dan melukai perasaan anak yang berakibat hilangnya rasa percaya diri, hal ini termasuk dalam kekerasan secara emosional pada anak.
Seringkali orang tua berkata kasar kepada anak, suka membentak, suka mengkritik, serta banyak melarang. Tak jarang juga orang tua yang berbohong kepada anaknya sendiri. Beberapa orang tua yang berbohong kepada anaknya beralasan bahwa mereka berbohong untuk menghindari perkelahian antar anak-anaknya. Kebanyakan orang tua melakukan gaslighting kepada anaknya baik secara sadar maupun tidak sadar untuk membuat sang anak menurut.
Dalam penelitian yang dilakukan Saskara (2023) menyatakan bahwa secara umum gaslighting menyebabkan terhambatnya pertumbuhan mental anak yang mana seringkali dikenal dengan pemusnahan karakter (Character Assassination). Dalam kasus perkembangan psikologi anak, hal ini dapat mengurangi rasa percaya diri anak. Kedepannya anak akan tumbuh dengan penuh rasa keraguan dalam mengambil setiap Tindakan yang dilakukan. Rasa percaya diri yang kurang pada anak biasanya ditimbulkan oleh pola komunikasi serta pola asuh yang buruk di dalam keluarga. Hilangnya atau berkurangnya rasa percaya diri pada anak dapat mengakibatkan sesuatu yang fatal dalam kehidupannya di tengah-tengah masyarakat di masa mendatang.
Contoh dari sebuah penelitian, ada seorang orang tua yang meremehkan kemampuan anaknya yang sedang belajar menghitung. Saat peneliti mencoba untuk mendekati anak tersebut dengan membawa beberapa mainan, sorot mata anak tersebut terlihat was-was memerhatikan orang tuanya dan berujung tidak memainkannya.
Contoh perilaku gaslighting lainnya dari orang tua yaitu membandingkan anak. Seorang anak yang masih berusia muda cenderung memiliki rasa kompetitif yang tinggi dan perlu dukungan dari orang tua sendiri. Namun, ketika orang tua malah membandingkan dengan saudara, anak lain, atau sepupu, itu akan membuat mereka kecewa. Biasanya, orang tua melakukan ini untuk memotivasi anak, tetapi cara ini bukanlah cara yang baik untuk membuat anak termotivasi.
Tindakan playing victim dari orang tua juga merupakan contoh dari gaslighting. Orang tua seringkali tidak sadar melontarkan kata seperti “Kamu bisa diam gak? Bikin orang tua pusing aja.” Padahal, kalimat-kalimat seperti itu seharusnya tidak boleh diucapkan kepada anak, karena dapat membuat anak merasa bersalah dan merasa menjadi beban bagi orang tuanya.
Orang tua juga sering meremehkan perasaan anak dengan mengatakan hal-hal seperti “Kamu terlalu sensitif.” atau “Itu bukanlah masalah besar.”, mereka sebenarnya sedang merendahkan emosi anak. Hal ini membuat anak merasa bahwa apa yang mereka rasakan tidak penting atau tidak valid. Dampaknya, anak mungkin belajar untuk menekan emosi mereka karena mereka merasa malu atau bersalah ketika merasakan hal-hal yang menurut orang tua berlebihan. Seiring waktu, anak-anak yang sering mengalami perlakuan ini dapat tumbuh menjadi individu yang sulit mengekspresikan emosi mereka atau merasa bingung mengenai perasaan mereka sendiri. Akibatnya, mereka kehilangan kepercayaan pada insting emosional mereka.
Perilaku-perilaku gaslighting yang telah disebutkan di atas sangat memengaruhi pembentukan kepercayaan diri anak. Anak menjadi ragu pada diri sendiri karena anak akan sering meragukan ingatan dan perasaan mereka, sehingga tumbuh menjadi individu yang selalu membutuhkan konfirmasi dari orang lain. Selain itu, bukan tidak mungkin jika anak akan memiliki harga diri rendah. Ketika perasaan dan pendapat mereka terus-menerus diremehkan, anak-anak dapat merasa tidak berharga dan kurang layak dicintai, yang mengakibatkan rendahnya rasa percaya diri. Anak-anak yang mendapat gaslighting dari orang tuanya juga akan sulit dalam mengekspresikan perasaan, karena takut disalahpahami atau diabaikan, yang bisa menyebabkan stres dan tekanan emosional. Tak jarang anak menjadi kesulitan dalam membangun hubungan sehat dengan teman sebaya atau pasangan di masa depan karena ketidakpercayaan dan ketidaknyamanan dalam membuka diri.
Gaslighting dalam konteks pengasuhan adalah masalah serius yang dapat merusak kepercayaan diri anak dan perkembangan psikologis mereka secara keseluruhan. Penting bagi orang tua untuk menyadari perilaku mereka dan dampaknya terhadap anak. Dengan meningkatkan kesadaran tentang gaslighting dan berusaha untuk berkomunikasi secara terbuka serta mendukung perkembangan emosional anak, orang tua dapat membantu membentuk kepercayaan diri yang sehat bagi anak-anak mereka. Membangun lingkungan keluarga yang aman dan mendukung akan sangat penting dalam mencegah dampak negatif dari gaslighting dan memungkinkan anak tumbuh menjadi individu yang percaya diri dan mandiri.
Levina Nurrachmadini

