Burnout adalah kondisi stres kronis di mana orang merasa lelah secara fisik, mental, dan emosional gara-gara pekerjaannya.
DEPOKPOS – Dalam dunia pendidikan kesehatan yang dinamis, mahasiswa adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang berdedikasi untuk meningkatkan standar perawatan kesehatan.
Namun, tersembunyi di balik wajah mereka yang tangguh, terdapat musuh berbahaya yang dikenal sebagai sindrom kelelahan, sebuah fenomena yang meresahkan dan sering kali diabaikan dengan implikasi yang mendalam bagi kesejahteraan mental, emosional, dan fisik di antara mahasiswa kesehatan.
Memahami Burnout di Kalangan Mahasiswa Kesehatan
Burnout adalah kondisi stres kronis di mana orang merasa lelah secara fisik, mental, dan emosional gara-gara pekerjaannya.
Burnout ditandai dengan kelelahan emosional, fisik, dan mental akibat stres dan kerja berlebihan yang berkepanjangan.
Burnout seringkali menjangkiti mahasiswa kesehatan, terutama mereka yang berkecimpung di bidang keperawatan, kedokteran, dan berbagai bidang kesehatan.
Gejala-gejala burnout, termasuk kelelahan kronis, kurangnya motivasi, sulit berkonsentrasi, mudah marah, dan penurunan kepuasan kerja, sering kali tidak disadari, sehingga intervensi dini sangat penting untuk mencegah perkembangannya menjadi kondisi yang kronis dan parah.
Penyebab burnout di kalangan mahasiswa kesehatan memiliki banyak faktor, mulai dari tekanan akademik, jam kerja yang panjang, beban kerja yang tinggi, paparan terhadap peristiwa traumatis, dan dampak yang mengganggu dari peristiwa penting seperti pandemi COVID-19.
Faktor-faktor ini dikombinasikan dengan dukungan sosial yang tidak memadai, keseimbangan kehidupan kerja yang buruk, perfeksionisme, dan kerja emosional yang tinggi yang melekat pada perawatan kesehatan. Dengan demikian, semua hal ini dapat berkontribusi secara signifikan terhadap meningkatnya kelelahan di antara mahasiswa kesehatan.
Prevalensi kelelahan di kalangan mahasiswa kesehatan cukup mengkhawatirkan, hal ini didukung dengan penelitian yang melaporkan angka setinggi 64,4%. Kekhawatiran ini tidak hanya bersifat akademis melainkan juga dapat menyebabkan penurunan kepuasan kerja, penurunan kualitas perawatan, dan meningkatnya tingkat kesalahan medis.
Memprioritaskan kesehatan mental dan kesejahteraan di kalangan mahasiswa kesehatan sangat penting untuk mencegah kelelahan dan memastikan mereka dapat memberikan perawatan yang optimal kepada pasien.
Pada intinya, sindrom burnout muncul dari tekanan tanpa henti yang dihadapi oleh mahasiswa kesehatan yang mengakibatkan tiga hal, yaitu kelelahan fisik, emosional, dan mental. Sindrom ini tumbuh dalam kesunyian dimana seseorang merasa terisolasi dan sendirian.
Pada mahasiswa kesehatan seringkali merasakan burnout karena tekanan yang datang dari ekspektasi yang dipasang oleh masyarakat pada mereka sehingga mereka hanya memilih untuk menyembunyikan kerentanan dan perjuangan mereka. Oleh karena itu, hal inilah yang memicu bahwa stress yang dialami oleh mahasiswa kesehatan tidak terlihat.
Tantangan dalam pendidikan kesehatan telah menciptakan situasi yang rumit bagi para mahasiswa dalam hal ini tekanan akademis, kurikulum yang melelahkan, persyaratan klinis yang menuntut serta mengejar kesempurnaan menyebabkan mahasiswa kesehatan memikul beban untuk menjunjung tinggi standar etika sembari berjuang untuk mencapai keunggulan akademis yang sering kali menimbulkan perasaan tidak mampu dan hubungan interpersonal yang tegang.
Strategi Mengatasi Burnout untuk Mahasiswa Kesehatan
Strategi mengatasi Burnout untuk Mahasiswa Kesehatan melibatkan pendekatan holistik dengan strategi penanggulangan yang komprehensif. Langkah-langkahnya antara lain memprioritaskan perawatan diri dengan mengalokasikan waktu untuk peremajaan diri, menjaga pola makan seimbang, rutin berolahraga, serta melakukan kegiatan rekreasi guna mengisi kembali energi yang terkuras.
Selain itu, penting juga untuk menetapkan batasan dengan belajar mengatakan ‘tidak’ pada beban yang berlebihan, memprioritaskan tugas yang sejalan dengan tujuan yang mendesak, dan menetapkan batas-batas yang menjaga kesejahteraan secara keseluruhan.
Tak kalah pentingnya adalah mencari dukungan, baik melalui dialog terbuka dengan teman sebaya, keluarga maupun profesional untuk mengatasi stres serta mengembangkan jaringan dukungan emosional yang kuat. Selain itu, latihan teknik relaksasi seperti meditasi dan yoga dapat sangat membantu untuk meringankan tekanan yang menumpuk di kehidupan sehari-hari.
Memanfaatkan sumber daya kampus juga merupakan langkah bijak dengan terlibat dalam layanan yang tersedia, meminta bimbingan dari konselor, dan memanfaatkan layanan dukungan yang disesuaikan untuk mengatasi masalah yang berkaitan dengan kelelahan.
Dengan menyadari betapa pentingnya menjaga kesehatan mental mereka, mahasiswa kesehatan dapat mengurangi risiko burnout. Ini bukan hanya berdampak pada mereka secara pribadi, tetapi juga membuka jalan bagi perawatan pasien yang luar biasa selama perjalanan profesional mereka di masa depan.
Claresta Putri Marrysa, Muhammad Fadhlan Perdana Vitra
Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

