Opini

Santri, Kader Ulama Pembangun Peradaban Islam

×

Santri, Kader Ulama Pembangun Peradaban Islam

Sebarkan artikel ini

Oleh: Alin Aldini, S.S., Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok

Santri, Kader Ulama Pembangun Peradaban Islam

DEPOKPOS – Hari Santri Nasional yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober bukan sekadar momentum mengenang perjuangan ulama dan santri dalam merebut kemerdekaan Indonesia. Lebih hanya sekadar itu, peringatan ini seharusnya menjadi ruang muhasabah untuk meneguhkan kembali arah pendidikan pesantren dan peran strategis santri bagi masa depan umat.

Data Kementerian Agama RI per Oktober 2026 mencatat sebanyak 4.634.406 santri terverifikasi berdasarkan By Name By Address (BNBA) (Kemenag, 4/10/2026). Jumlah ini menunjukkan besarnya potensi pesantren dalam membentuk generasi Muslim. Terlebih, tema Hari Santri Nasional 2026 yang diusung Kemenag adalah “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, sedangkan Nahdlatul Ulama mengangkat tema “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri” (RRI.co.id, 18/10/2026).

Kemenag mengarahkan peringatan Hari Santri sebagai momentum penguatan kontribusi santri dalam pembangunan melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kemandirian ekonomi, kepedulian sosial, serta pengamalan nilai agama dan kebangsaan. Namun, di tengah berbagai harapan tersebut, muncul sebuah pertanyaan bahwa apakah arah pendidikan santri sudah menempatkan ulama yang membangun peradaban Islam sebagai tujuan utamanya?

Persoalannya muncul ketika kontribusi santri lebih banyak diukur berdasarkan perannya dalam pembangunan nasional, sementara orientasi untuk melahirkan ulama pembangun peradaban Islam tidak menjadi arus utama pendidikan pesantren. Padahal, santri semestinya dipersiapkan bukan hanya untuk mengisi berbagai bidang kehidupan, tetapi juga menjadi ulama yang memiliki kedalaman ilmu Islam, visi kepemimpinan, dan kesadaran untuk membangun kembali peradaban Islam. Dengan demikian, penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan bukanlah tujuan akhir pendidikan santri, melainkan bekal untuk menjalankan peran strategis tersebut.

Santri bukan sekadar sumber daya manusia yang dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan. Mereka adalah generasi yang seharusnya dibekali pemahaman Islam secara mendalam agar mampu membimbing umat dengan ilmu, menjelaskan hukum syariat, serta memberikan solusi Islam atas berbagai persoalan kehidupan.

Jika orientasi pendidikan lebih banyak diarahkan pada produktivitas, kompetensi, dan daya saing, ada risiko kesalahan dalam memahami tsaqafah Islam serta ketidaksiapan ulama dalam menjawab persoalan-persoalan kehidupan dengan aturan Islam.

Selain itu, peringatan Hari Santri seakan hanya terjebak dalam kegiatan seremonial, perlombaan seni, olahraga, dan keterampilan saja. Berbagai kegiatan tersebut memang dapat menjadi sarana pengembangan potensi santri. Namun, esensi peringatan ini tidak boleh berhenti pada kemeriahan acara. Hari Santri semestinya membangkitkan kesadaran tentang tanggung jawab keilmuan dan perjuangan umat yang melekat pada diri seorang santri.

Demikian pula, penekanan pada nilai agama dan kebangsaan perlu dikaji secara mendalam. Ketika pemahaman agama ditempatkan hanya sebagai penguat identitas kebangsaan, nilai Islam justru berisiko dipersempit menjadi spiritualitas yang pada akhirnya hanya melahirkan ulama-ulama sekuler (memisahkan agama dari kehidupan). Padahal, Islam memiliki tuntunan menyeluruh yang menjadi pedoman kehidupan seorang Muslim, melampaui sekat geografis dan identitas kebangsaan.

Islam menempatkan ilmu sebagai fondasi kehidupan manusia. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah al-Mujadilah ayat 11 bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Karena itu, pendidikan pesantren semestinya tidak hanya menghasilkan lulusan yang terampil, tetapi juga melahirkan generasi berkepribadian Islam, mendalam pemahamannya terhadap syariat, dan memiliki kesadaran untuk membimbing umat.

Santri perlu dipersiapkan menjadi kader ulama yang menguasai tsaqafah (aturan hidup) Islam, memahami realitas kehidupan, serta mampu melakukan ijtihad sesuai ketentuan syariat. Mereka juga perlu memiliki jiwa kepemimpinan, keberanian menyampaikan kebenaran, dan kepedulian terhadap persoalan umat.

Dengan bekal tersebut, santri dapat berkontribusi dalam pendidikan, ekonomi, ilmu pengetahuan, maupun berbagai bidang lainnya tanpa kehilangan orientasi utama sebagai hamba Allah dan pengemban dakwah. Umat Islam membutuhkan generasi yang memiliki visi membangun kembali peradaban Islam.

Visi tersebut tidak berhenti pada kemajuan material, tetapi mencakup kehidupan yang diatur berdasarkan syariat Allah SWT. Islam mempersatukan kaum Muslimin dalam ikatan akidah, bukan semata-mata kesamaan bangsa. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah al-Anbiya ayat 92, “Sesungguhnya umatmu ini adalah umat yang satu.”

Santri bukan hanya kader pembangunan sebuah bangsa, melainkan generasi berilmu yang memikul tanggung jawab besar terhadap umat. Sebab, kebangkitan peradaban tidak cukup ditopang oleh kecakapan dan produktivitas, tetapi membutuhkan ilmu yang mendalam, kepemimpinan yang amanah, serta keterikatan kuat pada wahyu.

Dari pesantren, semestinya lahir ulama yang bukan hanya menjaga warisan keilmuan Islam, tetapi juga membimbing umat menghadapi tantangan zaman berdasarkan Islam. Dalam perspektif politik Islam, ulama wajib menasehati penguasa dan penguasa pun wajib meminta pendapat dan pertimbangan ulama dalam mengatur sebuah negara dan bangsa.

Penguasa dan ulama wajib berjalan seiring sejalan dengan syariat Allah SWT, sehingga tidak ada lagi perpecahan seperti ashobiyah (mengutamakan kelompok) dan separatisme. Pemahaman Islam dalam hal ini menjaga keutuhan bangsa lebih masuk akal daripada pemahaman kebangsaan itu sendiri.

Dengan demikian, Hari Santri seharusnya menjadi momentum memperjelas arah pendidikan pesantren, memperdalam tsaqafah Islam, membentuk kepribadian Islam, dan menyiapkan kader ulama yang mampu membimbing umat serta menuntun hidup. Sudah saatnya pesantren menjadikan Hari Santri sebagai titik tolak (muhasabah) evaluasi, bukan sekadar perayaan tahunan.

Alin Aldini, S.S.
Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok