Scroll untuk baca artikel
Opini

Pengaruh Inflasi terhadap Daya Beli Masyarakat dan Keberlangsungan Bisnis

×

Pengaruh Inflasi terhadap Daya Beli Masyarakat dan Keberlangsungan Bisnis

Sebarkan artikel ini
Pengaruh Inflasi terhadap Daya Beli Masyarakat dan Keberlangsungan Bisnis

DEPOKPOS – Inflasi merupakan salah satu indikator penting dalam perekonomian karena berkaitan langsung dengan harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. Secara sederhana, inflasi adalah kondisi ketika terjadi kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan berlangsung dalam suatu periode. Ketika harga meningkat sementara pendapatan masyarakat tidak mengalami peningkatan yang sebanding, kemampuan masyarakat untuk membeli barang dan jasa akan menurun. Kondisi tersebut dikenal sebagai penurunan daya beli.

Inflasi tidak hanya memberikan dampak kepada konsumen, tetapi juga memengaruhi dunia usaha. Kenaikan harga bahan baku, energi, transportasi, dan biaya operasional dapat meningkatkan biaya produksi perusahaan. Di sisi lain, perusahaan tidak selalu dapat menaikkan harga jual secara langsung karena harus mempertimbangkan kemampuan konsumen dan persaingan pasar.

Bank Indonesia menjelaskan bahwa inflasi yang tinggi dapat mengurangi daya beli masyarakat karena nilai uang mengalami penurunan. Inflasi juga menjadi faktor penting bagi dunia usaha dalam mengambil berbagai keputusan ekonomi dan bisnis.

Perkembangan Inflasi di Indonesia

Perkembangan inflasi Indonesia menunjukkan bahwa tekanan harga dapat berubah dari waktu ke waktu. Pada Mei 2026, inflasi tahunan Indonesia tercatat sebesar 3,08 persen. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 3,34 persen pada Juni 2026. Salah satu faktor yang memengaruhi kenaikan tersebut adalah meningkatnya harga pada kelompok administered prices dan volatile food.

Namun, pada Juli 2026 inflasi tahunan menurun menjadi 2,88 persen. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh kelompok volatile food yang mengalami deflasi secara bulanan, antara lain karena meningkatnya pasokan beberapa komoditas pangan seperti bawang merah dan cabai.

Data tersebut menunjukkan bahwa inflasi bukanlah kondisi yang selalu bergerak dalam satu arah. Harga dapat mengalami peningkatan atau penurunan bergantung pada kondisi produksi, distribusi, energi, pangan, kebijakan pemerintah, serta kondisi ekonomi global.

Pengaruh Inflasi terhadap Daya Beli Masyarakat

Salah satu dampak utama inflasi adalah perubahan kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ketika harga kebutuhan pokok, transportasi, makanan, dan jasa meningkat, masyarakat harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk memperoleh barang dalam jumlah yang sama.

Sebagai contoh, seseorang yang sebelumnya memiliki anggaran Rp1.000.000 untuk memenuhi kebutuhan bulanan mungkin dapat membeli sejumlah barang tertentu. Apabila harga barang meningkat sementara pendapatannya tetap, jumlah barang yang dapat dibeli dengan Rp1.000.000 tersebut menjadi lebih sedikit.

Dampak tersebut dapat menjadi lebih terasa bagi masyarakat yang memiliki pendapatan tetap. Ketika pendapatan tidak mengalami kenaikan sejalan dengan harga, masyarakat cenderung melakukan penyesuaian konsumsi, misalnya mengurangi pembelian barang sekunder, memilih produk dengan harga lebih murah, atau menunda pembelian barang yang tidak mendesak.

Dengan demikian, pengaruh inflasi terhadap daya beli tidak hanya ditentukan oleh tingkat inflasi, tetapi juga oleh pertumbuhan pendapatan masyarakat. Inflasi yang relatif terkendali tetap dapat dirasakan berbeda oleh setiap kelompok masyarakat tergantung pada pola konsumsi dan perubahan pendapatannya.

Dampak Inflasi terhadap Dunia Bisnis

Inflasi juga memberikan tantangan bagi perusahaan. Salah satu dampak yang paling umum adalah meningkatnya biaya produksi. Perusahaan yang menggunakan bahan baku, energi, transportasi, dan tenaga kerja dalam kegiatan produksinya dapat menghadapi peningkatan biaya ketika harga-harga tersebut naik.

Kenaikan biaya kemudian menimbulkan dilema bagi perusahaan. Perusahaan dapat menaikkan harga jual untuk mempertahankan margin keuntungan, tetapi kenaikan harga berpotensi mengurangi permintaan konsumen. Sebaliknya, apabila perusahaan mempertahankan harga jual, margin keuntungan dapat mengalami tekanan.

Situasi tersebut sangat relevan bagi usaha kecil dan menengah. Bank Indonesia mencatat bahwa tekanan daya beli masyarakat dapat berpengaruh terhadap kinerja kredit UMKM. Dalam laporan perekonomian daerah, BI juga mencatat adanya kontraksi penyaluran kredit UMKM yang berkaitan dengan tekanan daya beli masyarakat.
Oleh karena itu, inflasi dapat memengaruhi bisnis melalui beberapa jalur, yaitu:

Meningkatkan biaya produksi, terutama bahan baku dan energi.
Mengubah perilaku konsumen, terutama dalam menentukan prioritas belanja.
Menekan margin keuntungan apabila harga jual sulit dinaikkan.
Meningkatkan kebutuhan modal kerja karena biaya operasional menjadi lebih besar.
Mempengaruhi keputusan investasi perusahaan akibat perubahan biaya dan kondisi permintaan.

Peran Pemerintah dan Bank Indonesia

Pengendalian inflasi tidak hanya menjadi tanggung jawab masyarakat dan pelaku usaha. Pemerintah dan Bank Indonesia memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas harga.

Bank Indonesia menggunakan kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas harga dan mengendalikan ekspektasi inflasi. Pada 2026, Bank Indonesia mempertahankan sasaran inflasi sebesar 2,5±1 persen. Selain kebijakan moneter, pengendalian inflasi juga dilakukan melalui koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, terutama dalam menjaga ketersediaan serta kelancaran distribusi pangan.

Pemerintah juga dapat membantu menjaga daya beli melalui berbagai kebijakan, seperti perlindungan sosial, stabilisasi harga pangan dan energi, serta stimulus ekonomi. Dalam laporan KSSK, pemerintah dan otoritas terkait menyebut berbagai kebijakan perlindungan sosial, stabilisasi harga, dan penciptaan lapangan kerja sebagai bagian dari upaya menjaga konsumsi masyarakat.

Inflasi memiliki hubungan yang erat dengan daya beli masyarakat dan keberlangsungan bisnis. Ketika harga barang dan jasa meningkat lebih cepat daripada pendapatan, kemampuan masyarakat untuk melakukan konsumsi dapat menurun. Kondisi tersebut kemudian dapat memengaruhi permintaan terhadap produk dan jasa yang ditawarkan perusahaan.

Bagi dunia bisnis, inflasi dapat meningkatkan biaya produksi, menekan margin keuntungan, dan memengaruhi keputusan investasi maupun pengelolaan modal kerja. Oleh sebab itu, perusahaan perlu meningkatkan efisiensi, melakukan inovasi produk, memahami perubahan perilaku konsumen, serta memanfaatkan teknologi digital.

Di sisi lain, pengendalian inflasi membutuhkan koordinasi antara pemerintah, Bank Indonesia, dunia usaha, dan masyarakat. Inflasi yang terkendali dapat menciptakan lingkungan ekonomi yang lebih stabil sehingga masyarakat memiliki daya beli yang lebih terjaga dan dunia usaha dapat menjalankan aktivitasnya secara berkelanjutan.

Dengan demikian, inflasi bukan hanya persoalan kenaikan harga, tetapi merupakan fenomena ekonomi yang memiliki dampak luas terhadap kehidupan masyarakat dan keberlangsungan kegiatan bisnis.

By: Rois Siddiq Khalilullah