Scroll untuk baca artikel
Dunia Kampus

Kamu Maba Sasing? Yuk Intip 7 Fakta Kuliah Sastra Inggris!

×

Kamu Maba Sasing? Yuk Intip 7 Fakta Kuliah Sastra Inggris!

Sebarkan artikel ini
Kamu Maba Sasing? Yuk Intip 7 Fakta Kuliah Sastra Inggris!

“Ngapain kuliah Sastra Inggris? Kan bisa les.”

Kalimat ini mungkin sudah akrab di telinga mahasiswa Sastra Inggris. Sekilas memang terdengar masuk akal. Kalau tujuannya hanya belajar grammar atau speaking, kursus terasa lebih cepat dan praktis.

Masalahnya, kuliah Sastra Inggris ternyata jauh lebih luas daripada sekadar belajar bahasa. Mahasiswa diajak memahami sastra, film, musik, media, hingga cara manusia membangun makna lewat bahasa. Jadi, sebenarnya apa saja yang dipelajari?

1. Bahasa bukan fokus utamanya

Tentu saja mahasiswa tetap belajar grammar, speaking, listening, reading, writing, hingga translation. Namun, bahasa bukan tujuan akhir, melainkan alat untuk memahami manusia.
Di kelas, pertanyaan yang sering muncul justru bukan lagi “Ini pakai Present Perfect atau Past Perfect?”, melainkan kenapa dua orang bisa mengucapkan kalimat yang sama tetapi menghasilkan makna yang berbeda. Dari sini mahasiswa mulai mengenal bagaimana bahasa dipengaruhi oleh konteks, budaya, dan hubungan sosial.

2. Film favorit ternyata penuh makna tersembunyi, loh!

Setelah belajar semiotika, rasanya sulit menonton film seperti dulu.
Warna pakaian tokoh, sudut kamera, pencahayaan, hingga properti di dalam adegan ternyata bisa menjadi simbol yang menyampaikan pesan tertentu. Hal yang sebelumnya hanya dianggap estetika, berubah menjadi sesuatu yang bisa dianalisis.

Bahkan video musik K-pop atau film Marvel kesukaan kamu pun bisa jadi bahan diskusi di kelas.

3. Lagu Gak Cuma Didengar, Tapi Juga Bisa Dianalisis

Kuliah Sastra Inggris juga mengajak mahasiswa membaca lirik lagu seperti membaca puisi.

Kenapa penyanyi memilih metafora tertentu? Kenapa satu frasa diulang berkali-kali? Kenapa lirik sederhana justru terasa paling menyakitkan?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini membuat lagu favorit terasa punya lapisan makna yang sebelumnya mungkin tidak pernah disadari.

4. Sastra bisa jadi cara memahami isu sosial

Kalau mendengar kata sastra, banyak orang langsung membayangkan novel klasik yang tebal atau puisi yang sulit dipahami.

Padahal, karya sastra sering menjadi media untuk mengkritik isu sosial, mulai dari kolonialisme, diskriminasi, gender, politik, hingga identitas.

Menariknya, kritik tersebut jarang disampaikan secara langsung. Pembaca justru diajak menemukan maknanya sendiri lewat cerita.

5. Komentar receh di TikTok pun bisa jadi bahan analisis kuliah!

Percaya atau tidak, percakapan receh di media sosial juga bisa dianalisis.
Salah satu contohnya adalah komentar viral ketika seseorang menulis “Damn”, tetapi dibalas “Tangerang”.

Kesalahpahaman sederhana itu ternyata menarik jika dilihat dari sudut pandang sosiolinguistik dan analisis wacana.
Dari situ terlihat bagaimana latar belakang bahasa, budaya, dan pengalaman memengaruhi cara seseorang memahami sebuah kata.

6. Drama Performance bikin mahasiswa merasakan industri kreatif

Drama Performance bukan sekadar menghafal dialog lalu tampil di panggung.

Di balik satu pementasan, mahasiswa belajar menyusun naskah, membangun karakter, mengatur artistik, memilih musik, mengelola pencahayaan, hingga bekerja sama dengan berbagai divisi agar pertunjukan bisa berjalan dengan baik.

Pengalaman ini memberi gambaran tentang bagaimana proses produksi di balik layar sebuah pertunjukan.

7. Dunia Terasa Berbeda Setelah Kuliah Sastra Inggris

Setelah beberapa semester, banyak mahasiswa mulai menyadari satu hal.

Film tidak lagi terasa sekadar film.

Lagu tidak lagi sekadar lagu.

Komentar media sosial tidak lagi sekadar komentar.

Bahasa tidak lagi dipandang sebagai kumpulan kata, melainkan sesuatu yang membentuk cara manusia berpikir, berkomunikasi, dan memaknai dunia.

Kalau masih ada yang bertanya, “Ngapain kuliah Sastra Inggris? Kan bisa les,” mungkin jawabannya sederhana.
Les membantu seseorang menguasai bahasa. Sementara itu, kuliah Sastra Inggris mengajak mahasiswa memahami bagaimana bahasa bekerja dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari novel, film, lagu, berita, media sosial, hingga percakapan sederhana yang sering luput dari perhatian.

Karena pada akhirnya, setelah belajar sastra Inggris, rasanya sulit melihat kata-kata sebagai… sekadar kata-kata. [Fatma Az Zahra]