Scroll untuk baca artikel
Opini

Ustadz AI Viral: Ketika Teknologi Menjawab, Siapa yang Membimbing?

×

Ustadz AI Viral: Ketika Teknologi Menjawab, Siapa yang Membimbing?

Sebarkan artikel ini
Ustadz AI Viral: Ketika Teknologi Menjawab, Siapa yang Membimbing?

Oleh: Jasmine Fahira Adelia Fasha, Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok

Kemunculan sosok “Ustadz AI” atau “Ustadzah Hajar” baru-baru ini memicu perbincangan hangat di tengah masyarakat. Berbekal kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), layanan ini mampu menjawab berbagai pertanyaan keagamaan dalam hitungan detik. Tak heran jika banyak kalangan, terutama generasi muda yang akrab dengan teknologi, mulai memanfaatkannya sebagai tempat bertanya tentang Islam.

Fenomena ini menunjukkan perkembangan teknologi telah merambah hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk dakwah dan pendidikan Islam. AI menawarkan kemudahan akses, respons cepat, dan tersedia selama 24 jam. Namun, muncul pertanyaan yang jauh lebih mendasar: apakah teknologi mampu menggantikan peran seorang ulama?

Dalam Islam, ilmu bukan sekadar kumpulan informasi yang disampaikan kepada orang lain. Ilmu memiliki dimensi ruhiyah, adab, sanad, serta tanggung jawab yang besar. Seorang ulama tidak hanya menyampaikan hukum-hukum syariat, tetapi juga memahami konteks persoalan, kondisi orang yang bertanya, serta memberikan nasihat yang lahir dari ketakwaan dan pengalaman dalam menuntut ilmu.

Sementara itu, AI bekerja dengan mengolah data yang tersedia. Ia dapat merangkum pendapat, mencari referensi, bahkan menyusun jawaban yang terdengar meyakinkan. Namun AI tidak memiliki kesadaran, keimanan, maupun kemampuan berijtihad sebagaimana para ulama. Jawaban yang dihasilkan bergantung pada data yang digunakan untuk melatih sistem tersebut. Jika data yang menjadi rujukan tidak valid atau bercampur dengan pemikiran yang menyimpang, maka hasil yang diberikan pun berpotensi keliru.

Selain itu, persoalan agama sering kali tidak sesederhana pertanyaan dan jawaban. Banyak kasus memerlukan pemahaman mendalam terhadap kondisi individu, realitas masyarakat, hingga pertimbangan maslahat. Dalam kondisi seperti ini, kehadiran seorang ulama yang memahami syariat secara komprehensif tetap tidak tergantikan.

Di sisi lain, bukan berarti teknologi harus ditolak. AI dapat menjadi alat bantu yang bermanfaat, misalnya untuk mencari dalil, mengakses kitab digital, menerjemahkan literatur Islam, atau membantu proses pembelajaran. Pemanfaatan teknologi untuk dakwah merupakan bagian dari ikhtiar memanfaatkan perkembangan zaman selama tetap berada dalam koridor syariat.

Karena itu, masyarakat perlu memiliki literasi digital sekaligus literasi keislaman. Jangan mudah menerima setiap jawaban AI sebagai kebenaran mutlak tanpa melakukan tabayun kepada sumber yang kredibel. AI seharusnya menjadi pintu awal untuk belajar, bukan otoritas terakhir dalam menetapkan hukum agama.

Maka, kecanggihan teknologi tidak boleh membuat kita melupakan pentingnya mengkaji Islam dari sumber yang asli Islam mengajarkan agar ilmu diambil dari orang-orang yang terpercaya keilmuannya dan memiliki integritas. Sebab, yang dibutuhkan umat bukan sekadar jawaban yang cepat, tetapi bimbingan yang benar.

Di era digital, AI dapat menjadi asisten yang membantu proses belajar. Namun, posisi ulama sebagai pewaris para nabi tetap memiliki peran yang tidak dapat digantikan oleh mesin. Teknologi hanyalah alat, sedangkan petunjuk dan pembinaan umat tetap membutuhkan manusia yang berilmu, bertakwa, dan amanah.[]