Scroll untuk baca artikel
Berita DepokOpini

Urgensi Green Office PKS, Award dan Teladan dari Kantor DPC PKS Cimanggis Kota Depok

×

Urgensi Green Office PKS, Award dan Teladan dari Kantor DPC PKS Cimanggis Kota Depok

Sebarkan artikel ini

Oleh: Lolita Damayanti, Ketua Bidang Energi, Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim (BELHPI) DPD PKS Kota Depok

DEPOKPOS – Sering kali kita berbicara tentang krisis sampah seolah itu persoalan di luar diri kita dan itu hanya masalah pemerintah, masalah sistem, atau semata persoalan teknis pengangkutan. Padahal setiap ruang yang kita gunakan setiap hari, termasuk kantor dan organisasi, ikut menyumbang pada persoalan yang sama.

Kota Depok menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah. Timbulan sampah harian yang telah melampaui lebih 1.000 ton menunjukkan bahwa pendekatan konvensional *_’angkut dan buang’_* tidak lagi memadai. Tanpa perubahan perilaku di tingkat sumber, beban lingkungan akan terus meningkat.

Selama ini, kampanye pengelolaan sampah lebih banyak diarahkan kepada masyarakat. Warga diminta memilah, mengurangi plastik, dan mendaur ulang. Namun pertanyaan mendasarnya: apakah institusi, termasuk partai politik, sudah memberi contoh?

Kantor juga salah satu penghasil sampah : plastik dari konsumsi harian, kertas, limbah organik, serta penggunaan energi yang belum efisien. Jika rata-rata satu kantor PKS menghasilkan minimal sekitar 5 kilogram sampah per hari, maka dalam setahun jumlahnya dapat mencapai hampir 2 ton dari satu kantor saja. Jika dikalikan 12 kantor PKS se-kota Depok maka lebih 21 ton per-tahun angka ini menunjukkan bahwa skala kecil sekalipun tetap memiliki dampak kolektif yang signifikan.

Di sinilah urgensi pendekatan green office. Konsep ini bukan sekadar tren, melainkan kerangka etika kelembagaan, bagaimana sebuah organisasi mengelola dampak ekologis dari aktivitasnya sendiri. Green office menekankan standar terukur: pemilahan sampah sejak sumber, pengurangan plastik sekali pakai, efisiensi energi, penggunaan ulang perlengkapan, serta edukasi berkelanjutan bagi seluruh anggota organisasi.

Inisiatif Green Office Award yang digagas di internal PKS melalui struktur pusat dan wilayah menjadi salah satu upaya mendorong perubahan budaya tersebut. Penghargaan ini bukan tujuan akhir, melainkan instrumen untuk membangun disiplin organisasi dalam praktik ramah lingkungan.

Sebagai contoh, Kantor DPC PKS Cimanggis Kota Depok telah memulai langkah menuju Green Office. Beberapa praktik yang diterapkan antara lain penyediaan tempat pilah sampah tiga kategori (organik, anorganik, residu), pembatasan penggunaan plastik sekali pakai dalam kegiatan dengan menggunakan tumbler tiap pribadi ketika rapat dan hanya menyediakan air galon untuk isi ulang tumbler, penataan tanaman penyerap polutan di area teras kantor sebelum pintu masuk kantor, serta edukasi berkelanjutan kepada pengurus partai.

Selain itu, konsumsi kegiatan tidak lagi menggunakan snack box sekali pakai, melainkan disajikan dengan sistem prasmanan menggunakan piring kue yang dapat dicuci dan digunakan kembali. Di area teras kantor, tanaman penyerap polutan ditata sebagai bagian dari upaya menciptakan ruang kerja yang lebih sehat dan ramah lingkungan.

Langkah-langkah tersebut mungkin tampak sederhana, namun konsistensinya yang menentukan dampak. Budaya memilah sampah di ruang kerja akan membentuk kebiasaan yang terbawa hingga ke rumah tangga dan komunitas.

Jika 100 kantor di Depok menerapkan standar serupa dan mampu mengurangi minimal 40 persen dari rata-rata 5 kilogram sampah per hari, maka sekitar 73 ton sampah per tahun dapat dicegah masuk ke tempat pembuangan akhir. Angka ini memperlihatkan bahwa transformasi di tingkat institusi memiliki daya ungkit yang nyata terhadap sistem kota.

Green Office bukan sekadar soal kebersihan kantor. Ia adalah refleksi integritas. Sebuah organisasi yang berbicara tentang keberlanjutan harus berani mempraktekkannya terlebih dahulu dalam lingkup yang dapat ia kendalikan.
Krisis sampah adalah persoalan kolektif. Solusinya pun harus kolektif. Green Office PKS Award menjadi langkah strategis untuk memastikan bahwa komitmen lingkungan tidak berhenti pada retorika, melainkan hadir dalam praktik sehari-hari.

Kota Depok membutuhkan lebih banyak institusi yang berani memulai. Karena kota yang berkelanjutan tidak dibangun oleh slogan, tetapi oleh sistem yang dijalankan secara konsisten.