Scroll untuk baca artikel
Oase

Enam Poin Penting Mempersembahkan Amal Terbaik

×

Enam Poin Penting Mempersembahkan Amal Terbaik

Sebarkan artikel ini

DEPOKPOS – Di hadapan sebelas peserta, Aktivis Muslimah, Ustadzah Mega Marlina mengungkapkan setidaknya ada enam poin penting mempersembahkan amal terbaik.

Hal tersebut disampaikannya dalam Kajian Muslimah Shalihah Rutin, Mempersembahkan Amal Terbaik, Sabtu (17/1/2026) di Depok.

Adapun keenam poin pentingnya yakni: Pertama, syarat amal yang diterima. “Adapun syarat amal yang diterima yakni ikhlas karena Allah, dan benar sesuai tuntunan Nabi SAW,” jelasnya.

Kedua, ikhlas karena Allah. “Melakukan yang terbaik dan memberikan yang paling istimewa. Caranya dengan menjadikan Allah SWT satu-satunya tujuan di dalam menjalankan ketaatan, membersihkan perbuatan dari mencari pandangan manusia dan membersihkan amalan dari setiap noda (penyakit hati),” bebernya.

Ketiga, amal dilakukan hanya untuk Allah. “Ketika amal dilakukan hanya untuk Allah, tetapi tidak mendapat respon, atau bahkan direspon negatif oleh manusia, maka kita tidak mudah kecewa.

Keempat, contoh yang baik dari salafush shaleh. “Salafush shaleh mencontohkan bukan hanya memberikan kualitas terbaik tapi juga kuantitas terbaik,” ujarnya.

Lanjutnya, sebagaimana Imam al-Hakim meriwayatkan pada zaman Nabi SAW, para sahabat sering kali membawa buah kurma yang baru mereka petik untuk dibawa ke masjid supaya dimakan oleh fakir miskin.

“Pada suatu hari, salah seorang dari mereka membawa buah kurma dengan kualitas yang rendah ke masjid. Pemberian yang tidak berkualitas ini ditegur oleh Allah melalui firman-Nya dalam Surah al-Baqarah ayat 267 yakni perintah untuk berinfak dari harta yang baik dan halal, bukan dari yang buruk atau tidak layak,” sebutnya,

Kelima, agar amal tidak terhapus, maka harus menjauhi riya dan sum’ah. “Bersih dari penyakit hati yakni riya’ (melakukan ibadah dengan tujuan dilihat oleh manusia), sehingga orang yang riya’ itu mencari pengagungan, pujian, harapan atau rasa takut terhadap orang yang dia berbuat riya’ karenanya,” tegasnya.

Ia pun menyebutkan bahaya riya’ sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 264 bahwasanya sedekah bukan sekadar memberi, tetapi tentang niat, adab, dan keimanan. Sedekah yang ikhlas mengangkat derajat, sedangkan sedekah yang disertai riya’ dan menyakiti justru menghapus pahala.

“Adapun sum’ah adalah amalan yang dilakukan dalam rangka agar didengar orang lain),” lanjutnya.

Ia juga menyebutkan bahaya sum’ah sebagaimana dalam hadits Riwayat Thabrani, al-Baihaqi dan Ahmad yang artinya, “Barang siapa memperdengarkan amalnya kepada orang lain (agar orang tahu amalnya), maka Allah akan menyiarkan aibnya di telinga-telinga hambaNya, Allah rendahkan dia dan menghinakannya.”

Keenam, beramal sesuai tuntunan Rasulullah SAW adalah kewajiban dan jaminan keselamatan. “Apa pun posisi kita, amal yang kita lakukan harus sesuai dengan tuntunan Nabi SAW. Pemimpin masyarakat harus beramal sesuai tuntunan Nabi SAW, pemimpin keluarga harus beramal sesuai tuntunan Nabi SAW serta istri dan anak harus beramal sesuai tuntunan Nabi SAW.

Ia juga menyampaikan, sebagaimana yang dikatakan Imam Malik dalam Dzammul Kalam 5/81, “Sunnah Rasulullah SAW itu ibarat perahu Nabi Nuh as. Siapa yang menaikinya akan selamat, sedangkan yang tidak ikut bersamanya, akan celaka (tenggelam).” [Siti Aisyah]