Scroll untuk baca artikel
Health

Hustle Culture di Kalangan Mahasiswa: Produktif atau Sekadar Toxic?

×

Hustle Culture di Kalangan Mahasiswa: Produktif atau Sekadar Toxic?

Sebarkan artikel ini
Hustle Culture di Kalangan Mahasiswa: Produktif atau Sekadar Toxic?

Oleh: Iqbal Fannani, Fadlilatul Laili

Pernahkah Anda merasa bersalah saat sedang beristirahat atau sekadar rebahan di akhir pekan? Atau mungkin, dada Anda terasa sesak dan cemas ketika membuka LinkedIn atau Instagram, melihat teman sebaya yang baru saja memamerkan sertifikat magang, lolos seleksi organisasi bergengsi, atau memenangkan kompetisi nasional?

Jika Anda mengangguk, selamat datang di jebakan hustle culture.

Bagi mahasiswa, khususnya yang menginjak semester pertengahan (semester 5 ke atas), frasa “sleep is for the weak” atau “tidur itu untuk orang lemah” seolah menjadi mantra. Kita hidup di era di mana kesibukan dianggap sebagai tolak ukur kesuksesan, dan kelelahan dianggap sebagai medali kehormatan. Namun, pertanyaannya adalah: apakah kita benar-benar produktif, atau kita hanya sedang terjebak dalam produktivitas yang toxic?

Romantisasi Kelelahan

Hustle culture adalah gaya hidup yang mendorong seseorang untuk bekerja terus-menerus, kapan pun dan di mana pun, melampaui batas kemampuan tubuh dan pikiran. Dalam konteks mahasiswa, ini terlihat dari jadwal kuliah yang padat, ditambah rapat organisasi sampai tengah malam, freelance demi uang jajan tambahan, hingga keharusan membangun personal branding di media sosial.

Di kampus-kampus, sering kita dengar percakapan seperti, “Gila, gue baru tidur dua jam semalam ngerjain proker,” yang diucapkan dengan nada bangga. Tanpa sadar, kita sedang meromantisasi penderitaan diri sendiri. Kita berlomba-lomba siapa yang paling sibuk, siapa yang paling kurang tidur, dan siapa yang paling banyak punya jabatan.

Media sosial memperparah hal ini. Algoritma menyuguhkan konten “Day in My Life” versi mahasiswa super ambisius yang bangun jam 4 pagi, olahraga, kuliah, magang, dan rapat hingga malam. Mahasiswa yang menontonnya dari kamar kos sederhana sambil makan mie instan pun lantas merasa tertinggal, gagal, dan tidak cukup baik.

Dampak Nyata: Burnout dan Hilangnya Esensi Belajar

Bahaya terbesar dari hustle culture bukan pada kerja kerasnya, melainkan pada hilangnya batasan. Ketika tubuh berteriak minta istirahat namun dipaksa terus berpacu, di situlah burnout mengintai. Kelelahan emosional, fisik, dan mental ini membuat mahasiswa kehilangan motivasi belajar.

Alih-alih menyerap ilmu di bangku kuliah, tujuan utama bergeser menjadi sekadar “menggugurkan kewajiban” dan “mempercantik CV”. Kita menjadi robot yang sibuk melakukan, tapi lupa untuk menjadi manusia. Kualitas karya menurun karena dikerjakan dengan sisa-sisa tenaga, dan hubungan sosial dengan teman atau keluarga menjadi renggang karena alasan “sibuk”.

Mendefinisikan Ulang Produktivitas

Sudah saatnya kita, sebagai mahasiswa, mendefinisikan ulang apa itu produktif. Produktif bukan berarti harus sibuk 24/7. Produktif adalah tentang manajemen energi, bukan sekadar manajemen waktu. Mengerjakan satu tugas dengan fokus penuh dan hasil maksimal dalam 2 jam jauh lebih baik daripada mengerjakan tiga tugas sekaligus selama 5 jam tapi dengan pikiran yang kacau.

Kita perlu menyadari bahwa istirahat adalah bagian dari produktivitas itu sendiri. Sama seperti otot yang butuh istirahat setelah olahraga berat agar bisa tumbuh, otak kita juga butuh jeda untuk memproses informasi dan memunculkan ide-ide kreatif.

Menolak hustle culture bukan berarti menjadi malas. Ini tentang bekerja cerdas dan mengenali kapasitas diri. Tidak apa-apa untuk tidak mengikuti semua kepanitiaan. Tidak apa-apa untuk menolak ajakan nongkrong jika badan lelah. Dan sangat tidak apa-apa untuk tidak memposting pencapaian apa pun di media sosial hari ini.

Setiap orang punya zona waktunya masing-masing. Hidup ini adalah lari maraton, bukan lari sprint. Jika kita berlari terlalu kencang di awal tanpa mengatur napas, kita akan tumbang sebelum mencapai garis finis.

Jadi, bagi Anda yang sedang merasa lelah hari ini: taruh handphone Anda, tarik napas panjang, dan beristirahatlah tanpa rasa bersalah. Dunia tidak akan runtuh hanya karena Anda tidur siang sejenak.