Scroll untuk baca artikel
Dunia Kampus

Benarkah Generasi Muda Mulai Menjauh dari Pancasila? Ini Kata Mahasiswa

×

Benarkah Generasi Muda Mulai Menjauh dari Pancasila? Ini Kata Mahasiswa

Sebarkan artikel ini
Benarkah Generasi Muda Mulai Menjauh dari Pancasila? Ini Kata Mahasiswa

DEPOKPOS — Di tengah perkembangan teknologi dan budaya digital yang semakin kuat, relevansi Pancasila dengan generasi muda kembali menjadi perdebatan. Untuk memperdalam pemahaman tersebut, dilakukan wawancara langsung dengan seorang mahasiswi semester dua berinisial H di kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pada Selasa (18/11/25) pukul 15.00 WIB.

Wawancara berlangsung dengan suasana santai namun terarah. Pewawancara menggunakan metode in-depth interview, dengan pertanyaan terbuka agar narasumber merasa nyaman dalam menjawab dan menjelaskan tanpa tekanan. Fokus utama dalam pembahasan meliputi, pemahaman, persepsi, dan penerapan Pancasila dalam kehidupan generasi muda, baik kehidupan sehari-hari atau ruang digital.

Dalam hasil wawancara, narasumber menyatakan bahwa Pancasila tetap penting sebagai dasar negara dan pedoman bagi generasi muda. Menurutnya, Pancasila berperan sebagai penuntun agar generasi muda tidak mudah terpecah dan tetap memiliki arah moral di tengah kecepatan penyebaran informasi. “Pancasila itu tetap penting. Apalagi di zaman informasi yang serba cepat sekarang, Pancasila tuh membantu kita agar kita ga gampang terpecah dan tetap punya arah moral,” ujar H.

Ketika narasumber dimintai tanggapan mengenai pandangan bahwa generasi muda sekarang sudah jauh dari nilai-nilai Pancasila, H mengakui bahwa hal tersebut ada benarnya, namun tetap tidak sepenuhnya seperti itu. Menurutnya, masalah utama dari hal tersebut bukan berasal dari ketidakpedulian generasi muda, tetapi cara penyampaian Pancasila yang terlalu formal sehingga dianggap tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari. “Sebenarnya saat ini banyak anak muda yang tanpa sadar sudah menerapkan nilai-nilai Pancasila. Tapi, karena penyampaian Pancasila yang terlalu teoritis jadi dianggap ga relevan sama kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

H juga mencontohkan beberapa dalam kehidupan mahasiswa yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila, seperti bekerja sama dalam kelompok, menghargai perbedaan dari sisi manapun, dan berdiskusi untuk mencapai kepentingan bersama.

Selain itu, H menyoroti tantangan besar yang muncul di era digital, khususnya pada penggunaan media sosial. Menurutnya, karena sifat media sosial yang serba cepat membuat mereka (generasi muda) mudah bereaksi impulsive, sehingga nilai sopan santun dan sikap tenggang rasa kerap terabaikan. “Di media sosial tuh orang-orang cenderung bereaksi tanpa pikir panjang. Padahal kan Pancasila mengajarkan kita untuk saling menghormati,” tegasnya.

Sebagai penutup wawancara, H menegaskan bahwa generasi muda bukan menolak Pancasila. Akan tetapi mereka mereka membutuhkan pendekatan yang lebih relevan dengan dunia mereka. Menurutnya, Pancasila akan lebih mudah dipahami dan dihayati jika disajikan melalui contoh nyata, konten kreatif, kegiatan sosial, dan platform yang digemari anak muda. “Kalau pendekatannya lebih relate, Pancasila pasti bisa jadi pegangan yang benar-benar dihayati, bukan sekedar dihafal,” ujarnya.

Berdasarkan hasil wawancara, dapat disimpulkan bahwa generasi muda tidak meninggalkan Pancasila. Mereka tetap mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam keseharian, meski tanpa mereka sadari. Tantangan terbesar saat ini adalah cara kerja dunia digital yang dapat menggeser etika seseorang dalam berkomunikasi. Oleh karena itu, diperlukan inovasi pendekatan agar pancasila dapat disampaikan dengan cara yang lebih relevan, kreatif, dan dekat dengan dunia anak muda.

Gadis Abdeena Aulia
Mahasiswa UIN Jakarta