DEPOKPOS – Pernahkah Anda merasa sudah berjam-jam scrolling Instagram atau TikTok hanya untuk mencari info makanan apa yang baik untuk kehamilan? Atau justru malah tambah bingung karena informasinya terlalu banyak dan saling bertentangan?
Hingga saat ini, masalah gizi ibu hamil di Indonesia memang masih menjadi PR besar. Banyak ibu hamil yang belum paham betul mengenai zat gizi apa saja yang dibutuhkan selama kehamilan, dan ini berkontribusi pada tingginya kasus anemia serta risiko stunting pada bayi.
Di era digital seperti sekarang, cara kita mencari informasi berubah drastis, terutama lewat kebiasaan scrolling media sosial. Perubahan ini ternyata berpengaruh besar terhadap pilihan makanan ibu hamil yang ujung-ujungnya berdampak pada kesehatan si kecil sejak dalam kandungan.
Scrolling itu apa sih? Singkatnya, ini adalah kebiasaan menggulir layar dengan cepat dan terus-menerus untuk melihat berbagai konten. Dalam sekali duduk, ibu hamil dapat terpapar puluhan bahkan ratusan informasi, tetapi sayangnya seringnya cuma sekilas pandang.
Kondisi ini dapat menjadi pedang bermata dua: kalau konten yang lewat itu edukatif dan akurat, bagus dong! Tapi kalau yang muncul malah mitos atau informasi yang ngawur tentang makanan kehamilan, dapat berbahaya.
Keputusan salah dalam memilih makanan berdampak langsung pada tumbuh kembang janin, lho.
Instagram & TikTok: Jadi Sumber Informasi Favorit Ibu Hamil
Kalau kamu ibu hamil yang sering buka media sosial, pasti familiar dengan rekomendasi makanan sehat atau tips nutrisi kehamilan yang bertebaran di Instagram dan TikTok, kan? Kedua platform ini memang menjadi andalan ibu-ibu zaman now untuk mencari info cepat soal kehamilan.
Survei Digital Mum Survey Indonesia 2024 oleh Asian Parent menemukan bahwa 88% ibu-ibu Indonesia memakai Instagram sebagai platform favorit untuk mencari informasi tentang kehamilan dan gizi.
Penelitian dari Universitas Airlangga (2023) juga menunjukkan 40% ibu hamil mengandalkan internet, terutama Google, Instagram, dan grup WhatsApp, untuk belajar tentang kehamilan. Kedua platform ini unggul karena tampilan visualnya memberikan informasi kompleks menjadi lebih mudah dicerna.
Instagram memiliki daya tarik dengan Reels yang engaging, feeds carousel yang dapat disimpan, dan caption panjang yang dapat menjelaskan lebih detail, misalnya kenapa asam folat penting untuk mencegah cacat pada janin.
Selain itu juga ada fitur hashtag seperti #GiziIbuHamil atau #NutrisiKehamilan yang dapat memudahkan pencarian. Namun, ada kelemahannya juga. Banyak orang yang hanya membaca slide pertama dari carousel, padahal info penting sering ada pada slide berikutnya.
Belum lagi soal kredibilitas kreator yang belum diketahui dengan jelas.
TikTok di sisi lain memiliki algoritma FYP yang membuat video tentang makanan penambah berat janin atau tips cegah anemia yang dapat viral dalam sekejap. Gaya penyampaiannya yang storytelling dan entertaining bikin informasi terasa lebih relate.
Masalahnya, durasi video yang terbatas sering bikin informasi kompleks disederhanakan berlebihan. Video viral tentang “superfood untuk janin cerdas” belum tentu akurat secara medis.
Akses Informasi: Tidak Semua Ibu Hamil Memiliki Kesempatan yang Sama
Bayangkan ini: kamu lagi pengen banget nonton video tutorial masak menu sehat untuk ibu hamil, tapi videonya buffering terus karena sinyal lemot. Frustasi, kan?
Sayangnya, ini adalah realitas yang dialami banyak ibu hamil di Indonesia.
Ibu hamil yang tinggal di kota besar biasanya lebih beruntung, karena koneksi internet cepat dan stabil sehingga mereka dapat dengan mudah mengakses berbagai konten edukatif tentang nutrisi kehamilan, mulai dari pentingnya protein untuk pertumbuhan janin sampai vitamin D untuk tulang si kecil.
Sebaliknya, ibu hamil di daerah dengan sinyal pas-pasan itu sering kesulitan bahkan cuma untuk nonton video pendek tentang makanan pencegah stunting. Akibatnya, minat untuk belajar jadi menurun.
Kesenjangan akses ini memberikan dampak yang nyata. Ibu yang kurang dapat informasi mungkin tidak mengetahui jika kekurangan zat besi dapat menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah, atau asam folat yang cukup dapat mencegah cacat pada saraf janin.
Untungnya, ada beberapa solusi yang dapat membantu, seperti wifi gratis di Puskesmas dan Posyandu, kelas ibu hamil dengan format online-offline (hybrid), atau pelatihan literasi digital saat pemeriksaan kehamilan rutin.
Semua ini dapat membantu meratakan akses informasi bagi semua ibu hamil, di mana pun mereka berada.
Bagaimana Cara Memilah Konten yang Berkualitas untuk Ibu Hamil?
Karena informasi nutrisi dampak langsung ke kesehatan ibu dan janin, penting banget buat ibu hamil agar dapat memilah konten mana yang kredibel dan mana yang tidak. Gimana caranya?
Pertama, cek kredibilitas sumbernya. Pastikan konten yang di baca atau tonton itu mencantumkan sumber ilmiah yang terpercaya, baik di caption, video description, atau di bagian komentar.
Lebih bagus lagi kalau konten tersebut merupakan hasil kolaborasi dengan ahli gizi atau dokter kandungan. Jangan lupa juga lihat disclaimer di beberapa video nya juga, terutama yang membahas suplemen atau makanan yang harus dihindari ibu hamil.
Kedua, pilih konten yang sesuai dengan kondisi ekonomi. Kalau kreator cuma nyaranin superfood mahal tanpa memberikan alternatif, lebih baik di skip aja! Cari konten yang memberikan opsi terjangkau, misalnya, ikan lokal seperti ikan kembung atau tongkol yang juga kaya omega-3. Telur, tempe, bayam, dan kacang-kacangan lokal sama bagusnya untuk perkembangan janin dan pastinya lebih ramah di kantong.
Ketiga, waspadai konten yang terlalu menyederhanakan informasi. Konten yang bagus biasanya menggunakan analogi sederhana atau format “myth vs fact” yang bikin mudah dipahami, tetapi tetap akurat. Hati-hati terhadap konten yang mengklaim bahwa satu makanan saja sudah cukup untuk semua kebutuhan gizi atau yang kedengarannya terlalu bagus untuk jadi kenyataan, karena biasanya itu belum tentu benar.
Tips Buat Ibu Hamil: Jadi Pengguna Media Sosial yang Cerdas
Media sosial itu bagus sebagai “pintu masuk” untuk belajar tentang nutrisi kehamilan. Tapi harus ingat juga, platform ini bukan pengganti dokter atau ahli gizi, ya! Informasi yang didapat dari scrolling, terutama soal suplemen, pantangan makanan, atau kondisi kesehatan khusus, tetap perlu dikonfirmasi ke tenaga kesehatan profesional. Soalnya setiap kehamilan itu unik, kebutuhan zat gizinya dapat berbeda-beda.
Jangan terjebak dalam perbandingan yang tidak sehat dan juga tidak perlu membandingkan kehamilanmu dengan influencer yang kelihatan sempurna di layar, atau memaksakan mengikuti semua tips nutrisi yang lewat di timeline.
Setiap kehamilan memiliki ceritanya sendiri. Jadi, gunakan media sosial sebagai inspirasi dan sumber ide awal. Tapi untuk keputusan penting soal gizi dan kesehatan kehamilanmu, tetap andalkan konsultasi langsung dengan dokter atau ahli gizi.
Kebiasaan scrolling di media sosial sudah mengubah cara ibu hamil belajar tentang nutrisi, dan perubahan ini membawa peluang sekaligus tantangan. Instagram dan TikTok memang menawarkan akses kilat ke berbagai informasi, tetapi di sisi lain, mis-informasi yang viral juga dapat berdampak serius pada kesehatan ibu dan janin.
Supaya manfaatnya maksimal dan berisiko minimal, kita semua perlu bekerja sama, seperti kreator konten harus lebih bertanggung jawab, pemerintah perlu menyediakan akses internet yang merata, dan ibu hamil sendiri perlu jadi pengguna yang cerdas dengan tenaga kesehatan sebagai rujukan utama.
Setelah membaca paparan ini, bagaimana dengan kebiasaan scrolling Anda? Sudahkah informasi yang Anda konsumsi benar-benar mendukung kesehatan kehamilan, atau justru malah menambah kebingungan? Pilihan ada di tangan Anda, jadi Yuk mulai menjadi pengguna media sosial yang lebih bijak demi kesehatan Anda dan si kecil dalam kandungan!
Penulis: Alya Khairunnissa, Bernadette Oktavia Jelita, Muthiah Salsabilah, Thariq Zafar Surapati
Instansi: Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia
