Scroll untuk baca artikel
Health

Pengaruh Teknik Flebotomi terhadap Volume Sampel Darah dalam Pemeriksaan Laboratorium medis

×

Pengaruh Teknik Flebotomi terhadap Volume Sampel Darah dalam Pemeriksaan Laboratorium medis

Sebarkan artikel ini
Pengaruh Teknik Flebotomi terhadap Volume Sampel Darah dalam Pemeriksaan Laboratorium medis

DEPOKPOS – Pengambilan sampel harus dilakukan dengan benar dan sesuai dengan standar operasional prosedur yang sudah ditentukan. Volume sampel darah yang kurang dapat meningkatkan masa pembekuan. Laboratorium medis adalah sebuah sarana kesehatan yang melaksanakan pengukuran, penetapan serta pengujian terhadap bahan yang berasal dari manusia atau bahan bukan berasal dari manusia yang bertujuan untuk mendiagnosis sebuah jenis penyakit, penyebab penyakit, serta kondisi kesehatan atau faktor yang dapat berpengaruh pada kesehatan seseorang atau kesehatan masyarakat. Ada beberapa jenis laboratorium kesehatan berdasarkan dari pelayanan kesehatan diantaranya yaitu laboratorium klinik dan laboratorium kesehatan masyarakat. Laboratorium klinik merupakan laboratorium yang melaksanakan pelayanan pemeriksaan spesimen klinik terutama dalam bidang hematologi, kimia klinik, mikrobiologi, parasitologi, dan imunoserologi. Suatu kegiatan di laboratorium klinik, antara lain melakukan sampling darah pasien (Flebotomi), melakukan pemeriksaan sampel kimia darah, hematologi darah, imunologi darah, dan lain-lain (Sari, 2022).

Pemeriksaan laboratorium klinik memiliki peranan sangat penting dalam mendiagnosis penyakit, penyebab, perjalanan, serta pemantauan terapi untuk mengevaluasi penyakit. Oleh sebab itu, hasil dari pemeriksaan laboratorium klinik harus tepat dan akurat. Pada pemeriksaan laboratorium klinik tedapat tiga tahap pemeriksaan, yaitu tahap pra analitik, tahap analitik, dan tahap pasca analitik. Dari ketiga tahap tersebut berhubungan satu sama lain sehingga sangat penting untuk diperhatikan. Berdasarkan dari beberapa survey yang telah didapatkan, pada faktor pra analitik sering sekali menjadi faktor tersering dari penyebab terjadinya kesalahan pemeriksaan laboratorium klinik. Faktor kesalahan tahap pra-analitik bisa mencapai kurang lebih 48-68% serta memberikan kontribusi paling besar pada kesalahan laboratorium (46-77,1%). Beberapa hal yang termasuk kedalam kesalahan faktor pra analitik antara lain hemolisis (53,2%), volume spesimen yang kurang (7,5%), tulisan tangan yang tidak bisa dibaca (7,2%). Tidak hanya kesalahan pada faktor pra-analitik tetapi kesalahan spesimen, spesimen ada bekuan, kesalahan vacuum container atau jenis antikoagulan, rasio volume specimen adapun antikoagulan yang tidak sesuai, Hal tesebut dapat terjadi pada saat proses pengambilan sampel yaitu flebotomi.

Flebotomi adalah tindakan pengambilan sampel darah dari pembuluh darah (biasanya vena) untuk keperluan medis, seperti pemeriksaan laboratorium atau transfusi darah.Flebotomi dapat dilakukan oleh tenaga medis yang terlatih, seperti tenaga medis yang memiliki keahlian dalam bidang laboratorium, perawat, atau dokter. Kesalahan pada tahap flebotomi dapat terjadi karena berhubungan langsung dengan kualitas spesimen, ketidak patuhan terhadap Standar Operasi Prosedur dari flebotomi, kurangnya pelatihan atau perhatian dari supervisor untuk memastikan supaya kualitas sampel dalam tahap pra-analitik sebelum melakukan pemeriksaan laboratorium. Pelatihan flebotomi bagi tim ATLM dan juga standarisasi praktik flebotomi dapat meningkatkan kualitas spesimen di laboratorium. Alasan yang paling sering terjadi ditolaknya sampel pemeriksaan yaitu sampel yang membeku terutama pemeriksaan hematologi dan koagulasi, volume sampel yang tidak mencukupi untuk pemeriksaan koagulasi.

A. Indikasi Flebotomi

Flebotomi dilakukan untuk berbagai tujuan medis, antara lain:

1. Pemeriksaan laboratorium: Untuk analisis darah, seperti tes darah rutin, tes fungsi organ, pemeriksaan kadar hormon, atau pemeriksaan mikroorganisme.
2. Transfusi darah: Mengambil darah dari donor atau pasien untuk transfusi.
3. Donor darah: Flebotomi juga dilakukan pada proses donor darah untuk membantu menyelamatkan nyawa.
4. Pengobatan: Pada beberapa kondisi medis, seperti polisitemia, flebotomi bisa digunakan untuk mengurangi jumlah sel darah merah yang berlebihan.

B. Alat dan Bahan yang Dibutuhkan

Dalam flebotomi dibutuhkan alat dan bahan berikut beberapa alat dan bahan dalam flebotomi:
1. Jarum flebotomi: Biasanya ukuran 21-23 gauge.
2. Tabung darah: Berbeda warna, tergantung jenis tes yang akan dilakukan (misalnya, tabung merah untuk serum, tabung hijau untuk plasma).
3. Alat pengikat atau tourniquet: Untuk memperbesar pembuluh darah agar lebih mudah diakses.
4. Alkohol swab: Untuk membersihkan area tusukan.
5. Gunting medis atau jarum penusuk: Dalam beberapa prosedur, alat ini digunakan untuk menstimulasi pembuluh darah.
6. Kapas steril: Untuk menutup area setelah pengambilan darah.

C.Langkah-langkah dalam Flebotomi

Berikut adalah langkah-langkah atau prosedur yang digunakan dalam flebotomi:

1.Persiapan Pasien dan Alat:

• Pastikan pasien dalam keadaan nyaman dan diberi penjelasan mengenai prosedur.
• Siapkan alat yang diperlukan, termasuk tabung darah dan alat sterilisasi.
• Periksa ID pasien untuk memastikan sampel darah yang diambil sesuai dengan identitasnya.

2.Pemilihan Lokasi Pengambilan Darah:

• Pembuluh darah yang paling umum digunakan adalah vena antekubital (di siku bagian dalam), terutama vena median cubital.
• Pilih pembuluh darah yang teraba jelas dan mudah diakses.

3.Desinfeksi Area Tusukan:

• Bersihkan kulit dengan alkohol swab pada area tusukan yang dipilih, untuk mengurangi risiko infeksi.

4.Penempatan Tourniquet:

• Tempatkan tourniquet beberapa sentimeter di atas tempat tusukan untuk memperbesar pembuluh darah.

5.Pengambilan Sampel Darah:

• Setelah jarum dimasukkan ke dalam pembuluh darah, darah akan mengalir ke dalam tabung yang telah dipersiapkan.
• Setiap tabung darah harus diisi sesuai dengan urutan yang benar untuk mencegah kontaminasi.

6.Menangani Sampel Darah:

• Setelah pengambilan selesai, lepaskan tourniquet, cabut jarum dengan hati-hati, dan tutup area tusukan dengan kapas.
• Pastikan sampel darah dikirim ke laboratorium segera untuk pemeriksaan lebih lanjut.

7.Pasca Prosedur:

• Anjurkan pasien untuk menekan area tusukan dengan kapas beberapa menit untuk mencegah perdarahan.
• Cek kondisi pasien, pastikan tidak ada reaksi buruk setelah prosedur (seperti pusing atau pingsan).

D. Risiko dan Komplikasi Flebotomi

Meskipun prosedur ini umumnya aman, beberapa risiko atau komplikasi bisa terjadi, seperti:
1. Hematum: Pembentukan darah beku di bawah kulit.
2. Infeksi: Dapat terjadi ketika prosedur tidak dilakukan dengan cara yang steril.
3. Tromboflebitis: Peradangan pada vena akibat trauma atau infeksi.
4. Vagal response: Beberapa pasien bisa merasa pusing, mual, atau pingsan.

Pengaruh volume sampel darah sangat penting dalam berbagai aspek pengujian laboratorium, terutama dalam analisis klinis. Pengambilan sampel dengan volume darah yang di ambil tidak sesuai dengan standar, lalu penundaan sampel darah dapat mempengaruhi hasil yang pada akhirnya menyebabkan pemeriksaan hematologi yang kurang akurat.Volume sampel darah yang digunakan dapat memengaruhi keakuratan, keandalan, dan interpretasi hasil tes. Volume sampel darah yang sesuai sangat penting untuk memastikan keakuratan dan keandalan hasil laboratorium. Penggunaan volume yang tidak sesuai dapat menyebabkan kesalahan diagnostik, pengulangan pengujian, atau bahkan risiko kesehatan bagi pasien. Oleh karena itu, penting bagi petugas laboratorium untuk memahami kebutuhan spesifik setiap tes dan kondisi pasien dengan anemia atau hipovolemia lebih sensitif terhadap volume pengambilan darah.

A.Pengaruh Volume Darah

Berikut beberapa hal Pengaruh Volume Darah Terhadap Hasil Tes Volume Terlalu Sedikit:

1. Kesalahan pengenceran: Jika volume darah terlalu kecil dibandingkan dengan reagen atau larutan pengencer, hasil tes bisa menjadi tidak akurat.
2. Pengendapan: Komponen seluler darah (seperti sel darah merah) mungkin mengendap dan menghasilkan distribusi yang tidak merata.
3. Pengaruh pada alat otomatis: Beberapa alat laboratorium membutuhkan volume minimum untuk membaca sampel dengan baik.
4. Pengaruh Volume pada Metode Pengambilan Sampel: Metode kapiler (dari ujung jari atau tumit bayi) seringkali menghasilkan volume darah kecil. Ini cukup untuk tes sederhana seperti glukosa darah, tetapi tidak cocok untuk pengujian kompleks.

B.Fungsi Volume Darah

Volume darah memiliki beberapa fungsi penting, antara lain:

1. Transportasi Nutrisi dan Oksigen: Sel darah merah membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh, sedangkan plasma darah membawa nutrisi dan zat-zat penting lainnya.
2. Pengaturan Suhu Tubuh: Darah membantu mengatur suhu tubuh dengan mendistribusikan panas dari organ dalam ke permukaan tubuh.
3. Transportasi Limbah: Darah membawa produk sampingan metabolisme (misalnya karbon dioksida) ke organ yang bertugas membuangnya, seperti paru-paru dan ginjal.
4. Pembekuan Darah: Trombosit dan faktor pembekuan darah dalam darah berperan dalam proses hemostasis, untuk menghentikan pendarahan saat terjadi luka.

C.Faktor yang Mempengaruhi Volume Darah

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi volume darah dalam tubuh adalah:

1. Jenis Kelamin dan Berat Badan: Pada pria dewasa, volume darah cenderung lebih besar dibandingkan pada wanita, karena pria biasanya memiliki massa tubuh yang lebih besar.
2. Tingkat Hidrasi: Volume plasma darah dapat meningkat atau menurun bergantung pada seberapa banyak cairan yang dikonsumsi atau hilang dari tubuh.
3. Kondisi Kesehatan: Kondisi medis seperti anemia, dehidrasi, atau gangguan jantung dapat mempengaruhi volume darah.

D. Pengaruh Perubahan Volume Darah

Perubahan volume darah dapat mempengaruhi berbagai fungsi tubuh. Berikut adalah dampaknya:

 Penurunan Volume Darah (Hipovolemia)

Penurunan volume darah dapat terjadi akibat kehilangan darah yang berlebihan (misalnya akibat pendarahan), dehidrasi, atau gangguan pada sistem pembuluh darah. Efek dari penurunan volume darah meliputi:

1. Penurunan Tekanan Darah: Volume darah yang berkurang menyebabkan penurunan tekanan darah, yang dapat memengaruhi aliran darah ke organ vital.
2. Kekurangan Oksigen: Penurunan volume darah akan mengurangi jumlah oksigen yang dapat diangkut ke seluruh tubuh, dapat menyebabkan kelemahan, pusing, dan lelah.
3. Kejang atau Syok Hipovolemik: Dalam kasus kehilangan darah yang parah, tubuh bisa mengalami syok akibat kegagalan sirkulasi darah yang memadai ke organ-organ penting.

 Peningkatan Volume Darah (Hipervolemia)

Peningkatan volume darah dapat terjadi karena kelebihan cairan dalam tubuh atau kondisi medis tertentu (misalnya gagal jantung atau penyakit ginjal). Dampak dari hipervolemia meliputi:

1. Peningkatan Tekanan Darah: Volume darah yang berlebih dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah, yang berisiko menyebabkan hipertensi.
2. Pembengkakan (Edema): Peningkatan volume darah dapat menyebabkan cairan bocor ke jaringan tubuh, menyebabkan pembengkakan di bagian tubuh seperti kaki atau tangan.
3. Gangguan Fungsi Jantung: Peningkatan volume darah yang terus-menerus dapat membebani jantung, terutama jika ada gangguan pada fungsi jantung (misalnya gagal jantung).

E. Berikut adalah macam-macam tabung darah beserta kegunaannya:

1.Tabung darah dengan No Additive (Tanpa bahan tambahan)

• Warna Tabung: Merah atau transparan
• Kegunaan: Digunakan untuk pengambilan sampel darah yang tidak memerlukan pengawetan atau pengenceran. Biasanya untuk tes yang memerlukan darah serum, seperti pemeriksaan kadar hormon, antibodi, atau untuk pemisahan serum dari sel darah.
• Proses: Darah dibiarkan menggumpal terlebih dahulu, kemudian dipusatkan (centrifuged) untuk memisahkan serum.

2. Tabung darah dengan Gel Separator (Dengan pemisah gel)

• Warna Tabung: Merah gelap atau oranye
• Kegunaan: Untuk pengambilan darah yang digunakan untuk uji serum, seperti tes kimia darah, kadar elektrolit, atau lipid. Gel pemisah berfungsi untuk memisahkan serum dari sel darah setelah sentrifugasi.
• Proses: Setelah pengambilan darah, tabung ini perlu disentrifugasi, yang mana gel separator akan memisahkan serum atau plasma di bagian atas dan sel darah di bagian bawah.

4. Tabung darah dengan Sodium Citrate (Citrus sodium)

• Warna Tabung: Biru
• Kegunaan: Digunakan untuk tes koagulasi (pemeriksaan pembekuan darah), seperti PT (Prothrombin Time), APTT (Activated Partial Thromboplastin Time), dan INR (International Normalized Ratio). Sodium citrate berfungsi sebagai antikoagulan untuk mencegah darah menggumpal.
• Proses: Tidak memerlukan pemisahan atau centrifugasi jika tes koagulasi diperlukan.

5. Tabung darah dengan Heparin (Antikoagulan)

• Warna Tabung: Hijau
• Kegunaan: Digunakan untuk tes yang membutuhkan plasma darah seperti tes gas darah (ABG), dan beberapa tes kimia darah lainnya. Heparin bekerja dengan menghambat pembekuan darah.
• Proses: Tidak memerlukan pemisahan karena heparin sudah menghindari pembekuan darah.

6. Tabung darah dengan EDTA (Ethylene Diamine Tetraacetic Acid)

• Warna Tabung: Ungu atau lavender
• Kegunaan: Digunakan untuk pemeriksaan hematologi, seperti hitung darah lengkap (CBC), tes golongan darah, dan tes darah lainnya yang membutuhkan penghindaran pembekuan.
• Proses: EDTA bekerja dengan cara mengikat ion kalsium dalam darah yang diperlukan untuk proses pembekuan. Darah yang diambil dalam tabung ini tidak akan menggumpal dan siap untuk analisis hematologi.

5. Tabung darah dengan Sodium Fluoride + Potassium Oxalate (Antikoagulan dan penghambat glukosa)

• Warna Tabung: Abu-abu
• Kegunaan: Digunakan untuk tes kadar glukosa darah. Sodium fluoride berfungsi untuk menghambat glikolisis (proses pemecahan glukosa dalam sel darah), sementara potassium oxalate bertindak sebagai antikoagulan untuk mencegah pembekuan darah.
• Proses: Darah yang diambil dalam tabung ini tetap stabil untuk analisis glukosa dalam waktu yang lebih lama.

7. Tabung darah dengan ACD (Acid Citrate Dextrose)

• Warna Tabung: Kuning
• Kegunaan: Biasanya digunakan dalam pengambilan darah untuk keperluan donor darah atau pengolahan sel darah tertentu, seperti dalam pengumpulan darah untuk transfusi.
• Proses: ACD berfungsi sebagai antikoagulan untuk mencegah penggumpalan darah selama pengambilan dan penyimpanan.

Kesimpulan

Volume sampel darah yang sesuai sangat penting untuk memastikan keakuratan serta keandalan hasil laboratorium. Penggunaan volume yang tidak sesuai dapat menyebabkan kesalahan diagnostik, pengulangan pengujian, atau bahkan risiko kesehatan bagi pasien. Oleh karena itu, penting bagi petugas laboratorium untuk memahami kebutuhan spesifik setiap tes dan kondisi pasien dan tidak hanya dengan pasien saja tetapi pemilihan tabung darah yang tepat tergantung pada jenis tes yang akan dilakukan, jenis analisis yang diperlukan, dan apakah darah tersebut perlu dibekukan atau diproses lebih lanjut. Penggunaan bahan tambahan dalam tabung darah, seperti antikoagulan atau pemisah gel, sangat mempengaruhi cara darah tersebut diproses di laboratorium.

Sahril Ramadhan Senoadji
Program Studi Teknologi Laboratorium Medis