Scroll untuk baca artikel
Oase

Mencegah Perilaku Buruk dari Sumber Makanan

×

Mencegah Perilaku Buruk dari Sumber Makanan

Sebarkan artikel ini

DEPOKPOS – Anda pernah lihat orang marah-marah? Pernah lihat orang yang baik? Atau pernah lihat orang yang selalu sedih? Semua itu bisa terjadi salah satunya karena mereka mengonsumsi makanan-makanan tertentu. Percaya atau tidak, jenis makanan itu dapat mempengaruhi tingkah laku kita. Tidak sedikit orang yang mengetahui akan hal ini, karena memang jarang ada yang membicarakannya.

Dalam psikologi sendiri perilaku terbentuk dari kepribadian diantaranya adalah genetik. Salah satu penyebab anak bisa mengalami stunting atau perilaku yang tidak diinginkan tersebut adalah tidak terpenuhinya kebutuhan makanan dan nutrisi. Perilaku seseorang juga bergantung apa yang dimakan, jika makanan tersebut haram tidak menutup kemungkinan ia akan mempunyai perilaku yang buruk.

Al-Hafidz Ibnu Mardawih meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas bahwa ketika dia (Ibnu Abbas) membaca sebuah ayat, berdirilah Sa’ad bin Abi Waqash kemudian berkata, “Ya Rasulullah, doakan kepada Allah agar aku senantiasa menjadi orang yang dikabulkan doanya oleh Allah.”Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Wahai Sa’ad perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal) niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan doanya. Dan demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, sungguh jika ada seseorang yang memasukkan makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amal-amalnya selama 40 hari, dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari hasil menipu dan riba maka neraka lebih layak baginya.” (HR. At-Thabrani)

Selanjutnya Quraish Shihab mengatakan, makanan halal adalah makanan yang tidak haram, yakni yang tidak dilarang oleh agama memakannya. Makanan haram ada dua macam, yaitu yang haram karena zatnya seperti babi, bangkai dan darah. Sedangkan yang haram karena sesuatu bukan dari zatnya seperti makanan yang tidak diizinkan oleh pemiliknya untuk dimakan atau digunakan. Makanan yang halal adalah yang bukan termasuk kedua macam ini.

Perintah dalam ayat tersebut ditujukan kepada seluruh manusia, percaya kepada Allah atau tidak. Seakan-akan Allah berfirman:

”Wahai orang-orang kafir, makan yang halal, bertindaklah sesuai dengan hukum, karena itu bermanfaat untuk kalian dalam kehidupan dunia kalian.”

Makanan sendiri mempunyai 3 prinsip, yaitu:

1. Halal
Halal sendiri termasuk dalam mendapatkannya dan juga bahannya. Makanan halal juga mudah diperoleh di alam semesta ini terkhusus di Indonesia. Halal juga memiliki makna yang luas. Dalam prinsip muamalah juga makanan halal berarti apa saja boleh dimakan kecuali apa yang dilarang. Halal juga salah satu hal yang menyebabkan perilaku kita jadi tidak baik.

2. Baik
Dari uraian tentang makanan yang halal dan baik (ﺣﻼل طﯿﺒﺎ) yang telah dipaparkan diatas, maka dapat disimpulkan, bahwa makanan yang halal dan baik disebutkan dalam Q.S Al-Baqarah ayat 168 dan Q.S Al-Ma’idah ayat 88. Dapat berupa makna dua aspek yang akan melekat pada rezeki makanan. Pertama, hendaklah makanan didapatkan dengan cara yang halal yang sesuai dengan ketentuan syariat Islam, yaitu dalam memperolehnya tidak dengan cara yang diharamkan oleh syariat Islam, seperti dengan cara paksa, tipu, curi, korupsi dan lain-lain. Kedua, makanan yang dikonsumsi hendaklah baik (طﯿﺐ), yaitu mengandung zat yang dibutuhkan oleh tubuh, baik jumlahnya, maupun mutunya hendaklah berimbang gizinya.

3, Tidak berlebihan
Dalam Q.S Al-A’raf ayat 31, Allah berfirman: “Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. Dapat digaris bawahi di bagian makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Dari ayat tersebut kita dapat mengambil pelajaran bahwa Allah tidak menyukai orang yang berlebihan dalam mengonsumsi sesuatu.

Dalam tinjauan zoologi, pengaruh makanan terhadap watak dan perilaku, secara sederhana dapat dilihat pada hewan. Jenis hewan karnivora yang memangsa hewan lain, memiliki perilaku buas, agresif, suka menyerang dan membahayakan. Seperti singa, harimau, dll. Sedangkan hewan herbivora yang memakan tumbuh-tumbuhan relatif lebih jinak, dan tidak membahayakan. Seperti sapi, kambing dan sebagainya. Dengan analogi ini dapat dipahami, Allah telah mengharamkan makanan dan hewan-hewan yang jelek, karena makanan memiliki pengaruh terhadap akhlak dan watak, sifat dan sikap serta perilaku seseorang.

Harta dan makanan yang halal dan baik akan menumbuhkan darah dan daging yang baik. Perilaku dan perbuatannya pun (InsyaAllah) cenderung pada yang baik juga. Demikian pula sebaliknya. Jika mengonsumsi makanan yang buruk, atau diharamkan dalam agama, maka akan berimbas pada buruknya akhlak dan watak. Cenderung pada perilaku dan perbuatan yang diharamkan. Ringkasnya, bisa disimpulkan dengan ungkapan, “You Are What You Eat”. Watak dan perilaku kalian itu relatif sangat dipengaruhi oleh apa yang anda makan. Oleh karena itu berhati-hatilah dalam memilih dan memilah harta dan makanan untuk diri kita, anak dan keluarga kita. Jangan sampai memakan barang dan makanan-minuman yang haram, baik berupa daging ataupun yang lainnya.

Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa, ada pengaruh antara memakan makanan yang halal terhadap prilaku kita sehari hari dengan memakan makanan yang jelas diharamkan bagi agama. Makanan baik juga masih sangat mudah untuk diperoleh di Indonesia yang masih beriklim tropis ini. Jadilah muslim yang bijak dengan tetap memperhatikan sumber makanan yang didapat atau dimakan, dan juga makan sesuai dengan porsi yang sesuai dengan kemampuan perut kita, tanamkan prinsip “makan untuk hidup dan janganlah hidup untuk makan” di dalam diri kita.

Wahid Akmal dan Yudhistiro Bintang Pambudi
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka