Memaksakan Diri Mengikuti Tren: Fenomena FOMO di Kalangan Remaja

Memaksakan Diri Mengikuti Tren: Fenomena FOMO di Kalangan Remaja

DEPOKPOSFear of Missing Out (FOMO) merupakan perasaan takut tertinggal yang dialami seseorang karena melewatkan aktivitas atau hal-hal baru (Taswiyah, 2022). Perasaan takut tersebut timbul karena orang itu merasa kurang update dengan berita terkini. Ia akan selalu merasa kurang dan tidak bahagia jika tidak mengikuti tren. FOMO juga bisa menyebabkan seseorang merasa takut saat melihat kebahagiaan atau kesuksesan orang lain.

Apabila seseorang mengalami FOMO, maka akan cenderung memiliki perasaan kurang puas dengan apa yang dimiliki dalam hidupnya karena akan terus membandingkan dirinya sendiri dengan orang lain (Elhai et al., 2021). Bisa dibilang, seseorang yang FOMO itu merasa harus lebih baik atau minimal setara dengan orang-orang yang ada di sekitar mereka.

Bacaan Lainnya

Kalau kumpulan orang tersebut termasuk kumpulan sosialita, padahal ia seseorang yang biasa saja, bakal terseok-seok mengikutinya. Inilah salah satu dampak negatif dari sifat FOMO yang sudah sering kita jumpai di masa sekarang.

FOMO yang dimiliki orang bisa berbeda-beda. Ada yang FOMO soal gaya hidup sosial, FOMO tentang pengalaman seperti contohnya ia takut melewatkan pengalaman yang menarik (pesta, jalan-jalan, konser), FOMO tentang informasi seperti takut menjadi orang terakhir yang mengetahui berita terkini, dan masih banyak lagi. Namun, kali ini kita akan menilik lebih dalam soal FOMO di sosial dan gaya hidup.

BACA JUGA:  Mewujudkan Masyarakat Digital yang Cerdas dan Bertanggung Jawab di Indonesia: Tantangan dan Peluang di Era Transformasi Digital

Pernahkah kalian merasa gelisah saat teman-teman kalian pergi nongkrong tanpa kalian? Cemas saat melihat teman kalian yang ikut suatu pesta atau acara sosial lainnya disaat kalian tidak dapat menghadirinya? Atau mungkin takut tertinggal saat teman kalian membeli suatu barang yang sedang tren, sedangkan kalian belum bisa membelinya? Kalau kalian pernah merasakan hal-hal diatas, bisa jadi kalian FOMO di kehidupan sosial dan gaya hidup.

Orang yang FOMO dalam sosial dan gaya hidup tersebut akan merasa mereka harus mengikuti segala hal yang sedang dilakukan oleh orang lain. Orang tersebut akan terus-terusan tidak tenang, seakan-akan mereka dikejar sesuatu. Mereka harus selalu up to date walaupun sebenarnya mereka memaksakan keadaan. Pemicu utama FOMO tentang sosial dan gaya hidup adalah sosial media, seperti Instagram, Facebook, Twitter, Tiktok, dan sosial media lainnya yang berisi postingan-postingan orang lain tentang kehidupan mereka.

Mengapa sosial media bisa menjadi pemicu utama terjadinya fenomena FOMO? Hal ini dikarenakan tren yang ada di kalangan masyarakat bisa dengan mudah menyebar luas lewat sosial media yang ada. Dalam hitungan hari, suatu hal yang baru atau yang sebelumnya biasa saja bisa langsung menjadi tren karena sosial media. Dan hal tersebut berujung terjadinya fenomena FOMO, karena orang-orang akan berlomba-lomba mengikuti tren yang dilakukan orang lain.

Mereka tidak mau ketinggalan. Seperti yang baru terjadi kemarin, tentang peristiwa langkanya cromboloni (croissant bomboloni) yang disebabkan oleh semua orang berburu makanan persilangan Prancis dan Italia tersebut. Cromboloni adalah kue pastry berbentuk bulat dengan isian berbagai macam krim, seperti coklat, strawberry, pistachio, dan masih banyak lagi.

BACA JUGA:  Sampah Logistik Membludak, Closed Loop Supply Chain Solusinya?

Cromboloni mulanya menjadi viral karena seorang wanita yang suka membagikan postingannya memakan cromboloni dengan isian yang lumer ke platform Tiktok. Melihat betapa nikmatnya wanita tersebut menyantap cromboloni, orang-orang jadi ingin ikut mencobanya.

Mereka pun mulai ikut membuat konten menyantap cromboloni. Dalam hitungan hari saja, penjualan cromboloni menjadi gila-gilaan hingga menyebabkan waiting list selama berjam-jam di bakery yang menjualnya. Dan mungkin saja, ada beberapa orang yang memaksakan diri dengan mengais dompetnya yang seadanya untuk membeli pastry yang sedikit pricey itu.

Kasus di atas adalah salah satu contoh tentang bagaimana fenomena FOMO di kalangan masyarakat bisa terjadi. Mereka berbondong-bondong mencoba dan membeli hal yang sedang tren di sosial media. Namun, selain sosial media, terdapat hal lain yang memicu terjadinya FOMO di kalangan masyarakat. Hal tersebut adalah: lingkup pertemanan.

Yap, kelompok pertemanan sehari-hari juga bisa menjadi pemicu munculnya fenomena FOMO. Sebagai contoh, terdapat satu kelompok pertemanan berisi tiga orang. Mulanya, teman A membeli dompet dengan merk terkenal dan menunjukkannya ke kedua temannya yang lain. Teman B, karena menyukai model dompet yang ditunjukkan temannya dan kebetulan dompetnya sudah rusak, akhirnya ikut membeli dompet yang sama tetapi dengan warna yang berbeda. Yang tersisa adalah teman C.

BACA JUGA:  Menanggulangi Ancaman Keamanan Siber: Upaya Penguatan Kapasitas SDM dan Infrastruktur

Dompet yang dimilikinya masih sangat bagus dan layak pakai, tetapi ia merasa gelisah karena tidak ‘kembaran’ dompet dengan dua temannya yang lain. Ia merasa tidak tenang dan merasa dijauhi karena tidak memiliki dompet yang sama. Tetapi ia juga tidak bisa langsung membelinya, karena uang yang ia miliki hanya cukup untuk kebutuhan pokok.

Namun, karena kegelisahan tak berujung yang ia rasakan, ia akhirnya membeli dompet yang sama seperti dipakai kedua temannya dengan cara berhutang. Perilaku teman C yang diceritakan di atas termasuk contoh FOMO dalam gaya hidup. Ia tidak mau tertinggal dengan temannya yang lain.

Menjadi seseorang yang selalu merasa FOMO saat melihat hal yang dimiliki orang lain tentu saja sangat menderita. Mereka akan selalu merasa gelisah karena takut tertinggal sendirian. Untungnya, ada beberapa solusi yang bisa kita terapkan agar tidak menjadi pribadi yang FOMO.

Solusi tersebut antara lain: bersyukur atas apa yang dimiliki, selalu berpikiran positif, mengurangi intensitas penggunaan sosial media, fokus menjalani hal-hal yang disukai saat waktu luang alih-alih memeriksa pencapaian orang lain, dan memperbanyak mengobrol dengan teman yang memiliki bahasan positif.

Tania Hafizah Tyandi
Mahasiswa Universitas Sebelas Maret

Ingin produk, bisnis atau agenda Anda diliput dan tayang di DepokPos? Silahkan kontak melalui WhatsApp di 081281731818

Pos terkait