Juragan Kontrakan di Betawi

Oleh: Murodi al-Batawi

Dahulu, sekira tahun 70 an awal, Jakarta tidak semenarik sekarang. Pada saat itu, pembangunan Jakarta belum terjadi, dan penduduk asli Jakarta, yang disebut sebagai komunitas etnis Betawi yang mendiami daerah Jakarta. Pada umumnya orang Betawi saat itu masih memiliki sawah dan ladang sangat luas. Mereka mencari makan sebagai perbekalan hidup dari hasil berkebun, bertani dan beternak.

Karenanya, di setiap tempat tinggal masyarakat Betawi mereka menamakan kampung halamannya disesuaikan dengan sawah atau perkebunan. Maka kita sering mendengar ada nama kampung Rambutan, Kampung Dukuh, Kampung Menteng, Kampung Sawah, Kebon Jeruk, dan lain sebagainya.

Pembangunan Jakarta dan Munculnya Juragan Kontrakan

Ketika terjadi pembangunan besar-besaran di Jakarta, terutama pada masa kepemimpinan gubernur Ali Sadikin, Jakarta menjadi daya tarik tersendiri.

Tidak hanya pembangunan yang dilakukan Laksamana Ali Sadikin, Jenderal AL, ia juga melakukan intervesi dan perluasan wilayah Jakarta. Jakarta meluas hingga ke perbatasan wilayah Jawa Barat. Dan hanya dibatasi oleh aliran sungai. Untuk Wilayah Selatan dibatasi oleh Sungai Pesanggrahan. Wilayah Barat dibatasi Sungai Cisadane. Bahkan sebelum dieksekusi oleh Ali Sadikin, wilayah Kebayoran, masih masuk wilayah Bogor, Jawa Barat. Dahulu saya masih punya Kartu Keluarga Kecamatan Kebayoran, Kabupaten Bogor.

BACA JUGA:  Kerak Telor: Kudapan Unik Khas Betawi

Sejak aneksasi itu, akhirnya wilayah DKI Jakarta kian meluas. Karenanya, dalam sejarah perluasan DKI Jakarta, pernah terjadi tarik menarik di antara gubernur Jakarta dengan gubernur Jawa Barat, yang saat itu di bawah pimpinan Aang Kunaefi, seorang Laksamana AL. Bahkan, untuk memantau perkembangan hubungan DKI Jakarta dengan Jawa Barat, Aang Kunaefi membangun gedung di Pisangan, Ciputat, yang dikenal dengan sebutan Wisma Pemda Ketamukti, dan disiapkan Helipad. Dan sekarang menjadi gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik ( FISIP)UIN Jakarta. Namun namanya tetap diabadikan menjadi jalan Kerta Mukti, Pisangan, Ciputat.

Perebutan wilayah tersebut baru selesai setelah gubernur Jawa Barat dan gubernur DKI Jakarta. Akhirnya Jakarta, terus membangun. Proses pembangunan ini berlangsung cukup lama dan membutuhkan banyak tenaga pekerja bangunan. Akhirnya, banyak orang desa melakukan urbanisasi ke Jakarta mencari pekerjaan. Kian hari semakin banyak orang desa datang ke Jakarta untuk mengadu keberuntungan.

BACA JUGA:  Kerak Telor: Kudapan Unik Khas Betawi

Para pekerja yang datang dari daerah, setelah mereka memperoleh pekerjaan, mereka juga memerlukan tempat tinggal. Mereka kemudian mencari tempat tinggal ke perkampungan. Peluang ini kemudian dilirik dan diambil oleh orang Betawi. Kemudian secara perlahan, orang Betawi membangun tempat tinggal untuk para pendatang yang disebut sebagai kontrakan atau kos-kosan. Ada yang mengontrak bulanan dan ada pula yang tahunan. Dari situlah para juragan kontrakan memperoleh penghasilan untuk biaya kehidupan diri dan keluarga besarnya.

Dari Petani Buah Menjadi Juragan Kontrakan

Sebelum proses pembangunan besar-besaran di DKI Jakarta, orang Betawi mengandalkan in come finansial dari hasil perkebunan, sawah dan penjual susu sapi. Tapi setelah pembangunan, mereka beralih profesi menjadi juragan kontrakan. Mereka mendapatkan in come finansial dari para pengontrak.

Mereka yang dahulunya rajin ke kebun dan persawahan, sudah tidak lagi, selain karena lahan mereka sudah habis dijadikan kontrakan, untuk kebutuhan dan keuangan mereka hanya tinggal menunggu para pengontrak datang membayar kontrakan tersebut. Karena itu, sepertinya banyak orang menilai bahwa orang Betawi itu malas semua dan tidak mau bekerja serius seperti para pendatang.

BACA JUGA:  Kerak Telor: Kudapan Unik Khas Betawi

Setelah menjadi juragan kontrakan, banyak di antara mereka membangun ruko( rumah toko) untuk dikontrakanstsu dijual.

Pembuatan atau pembangunan kian banyak dilakukan para juragan kontrakan, ketika yang datang ke Jakarta bukan hanya tukang, juga para penacari pekerjaan kantoran dan para pelajar atau mahasiswa.

Untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal buat mereka, ada dua jenis pembanguan kontrakan. Jenis pertama pembangunan kontrakan berbentuk petakan lebih dari satu tingkat, dan jenis kedua berupa bangunan satu rumah permanen dan semi permanen.