Membangun Keseimbangan Emosional dalam Keluarga: Pendekatan Psikologi dengan Landasan Islam

DEPOKPOS – Dalam kehidupan sehari-hari, keluarga merupakan pangkalan utama di mana kita belajar, tumbuh, dan membentuk hubungan yang mendalam. Salah satu aspek penting dari keharmonisan keluarga adalah keseimbangan emosional yang dapat memengaruhi interaksi, pengasuhan, serta kualitas hubungan di dalamnya. Keseimbangan emosional dalam keluarga menjadi kunci penting dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan harmonis bagi setiap anggota keluarga. Pendekatan psikologi modern yang dipadukan dengan landasan nilai-nilai Islam dapat menjadi landasan yang kuat dalam membangun keseimbangan emosional ini. Dalam islam pun keluarga adalah tempat untuk menjaga diri, yaitu menciptakan ketentraman dan keselamatan dari segala bentuk kejahatan yang ditimbulkan oleh orang lain, sehingga keluarga harus dijadikan tempat tinggal yang penuh dengan kebahagiaan agar seluruh anggota keluarga betah di rumah dan selalu merindui. Sesuai dengan firman Allah dalam surat An- Nahl ayat 80 :

وَاللّٰهُ جَعَلَ لَكُمْ مِّنْۢ بُيُوْتِكُمْ سَكَنًا وَّجَعَلَ لَكُمْ مِّنْ جُلُوْدِ الْاَنْعَامِ بُيُوْتًا تَسْتَخِفُّوْنَهَا يَوْمَ ظَعْنِكُمْ وَيَوْمَ اِقَامَتِكُمْۙ وَمِنْ اَصْوَافِهَا وَاَوْبَارِهَا وَاَشْعَارِهَآ اَثَاثًا وَّمَتَاعًا اِلٰى حِيْنٍ
Artinya: Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu unta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu).

BACA JUGA:  Hindari Cat Calling dengan 7 Cara Ini!

Menurut James-Lange, emosi yang dirasakan adalah persepsi tentang perubahan tubuh. Salah satu dari teori paling awal dalam emosi dengan ringkas dinyatakan oleh Psikolog Amerika Wiliam James. James mengusulkan serangkaian kejadian dalam keadaan emosi yaitu kita menerima situasi yang akan menghasilkan emosi, kita bereaksi ke situasi tersebut dan kita memperhatikan reaksi kita. Persepsi kita terhadap reaksi itu adalah dasar untuk emosi yang kita alami. Sehingga pengalaman emosi atau emosi yang dirasakan terjadi setelah perubahan tubuh memunculkan pengalaman emosional.

Sifat dan tabiat anak sebagian besar diambil dari kedua orang tuanya dan dari anggota keluarga yang lain (Hasbullah, 2009 : 38). Dalam dinamika keluarga, anak-anak secara aktif menyerap perilaku, nilai, dan kebiasaan dari interaksi sehari-hari dengan orang tua dan anggota keluarga lainnya. Dalam proses pembentukan kepribadian mereka, peran orang tua dan lingkungan keluarga sangatlah signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa faktor genetik dan lingkungan memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan perilaku anak-anak. Hasil penelitian Setyowati (2005) mengungkapkan bahwa pemahaman dan kesadaran keluarga mengenai pentingnya komunikasi keluarga dan pengaruhnya terhadap perkembangan emosi anak masih tergolong rendah. Pada kenyataannya, banyak keluarga yang lebih mengutamakan kemampuan kognitif anak daripada kemampuan emosionalnya, dan banyak keluarga tidak memiliki batasan serta komitmen yang jelas mengenai komunikasi keluarga dan perkembangan emosi anak, sehingga komunikasi keluarga sering hanya dipahami sebagai rutinitas, bukan sebagai sesuatu yang memiliki arti bagi perkembangan anak.

BACA JUGA:  Merasa Kurang Pede? Lakukan 7 Hal Ini!

Keseimbangan Emosional dalam Keluarga

Keseimbangan emosional merupakan kunci utama dalam menciptakan hubungan yang sehat dan harmonis antara anggota keluarga. Ini melibatkan pemahaman, pengelolaan, dan ekspresi emosi secara sehat. Keseimbangan emosi menjadi faktor terpenting bagi efektifitas nalar untuk mampu bekerja secara baik. Keseimbangan emosi dapat diperoleh melalui cara pengendalian lingkungan dengan tujuan agar emosi yang tidak/kurang menyenangkan dapat cepat diimbangi dengan emosi yang menyenangkan; mengembangkan toleransi terhadap emosi yaitu kemampuan untuk menghambat pengaruh emosi yang tidak menyenangkan (marah, kecemasan, dan frustrasi) dan belajar menerima kegembiraan dan kasih sayang. Al Qur’an menilai bahwa menjaga keseimbangan emosi (al kadziminal ghaidh) adalah ciri dari ketakwaan. Demikian pula Rasulullah SAW memuji dan menyebut orang yang dapat menjaga emosi sebagai orang yang kuat, diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “bukanlah orang kuat itu adalah orang yang hebat bergulat, tapi orang yang kuat adalah orang yang dapat menahan emosinya ketika ia marah” (HR Bukhari dan Muslim)