Ibadah dan Kesehatan Mental

Ibadah termasuk berpartisipasi dalam kegiatan yang dapat menurunkan tingkat stress

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ ۝٥
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”
(QS : Ad-zariyat ayat 56).

DEPOKPOS – Didalam ayat tersebut menerangkan untuk setiap makhluk pencipta-Nya baik itu manusia, jin dan yang lain agar senantiasa mengingat Allah dan memerintahkan manusia supaya melakukan ibadah kepada Allah. Beribadah artinya menyembah, mengabdi, menghamba, tunduk, dan patuh terhadap segala yang dikehendaki-Nya, Serta menjauhi segala larangan-Nya. Ibadah bertujuan untuk mencari semata-mata hanya berharap kepada ridha Allah.

Selain itu, ibadah juga dapat berfungsi sebagai meditasi, yang dapat berdampak positif pada kesehatan mental seseorang. Ibadah termasuk berpartisipasi dalam kegiatan yang dapat menurunkan tingkat stress dan meningkatkan spiritual seorang hamba. Ibadah juga memberikan dukungan psikologis dan membantu setiap orang merasa tenang.

Ibadah juga dapat dikaitkan dengan mencari makna dan tujuan hidup. Setiap orang akan menemukan makna dalam hidup mereka, memiliki pandangan yang lebih positif, dan menemukan keseimbangan jiwa dan emosional.

BACA JUGA:  Ibadah dan Keajaibannya

Bahkan disebutkan juga di surah Ali Imran ayat 139 :

وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ ۝١
“Janganlah kamu (merasa) lemah dan jangan (pula) bersedih hati, padahal kamu paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang mukmin.”

Maka dari itu, kita sebagai seorang mukmin yang beribadah kepada Allah, jangan merasa lemah dan bersedih hati karena sesungguhnya janji Allah itu nyata dan sudah ada di dalam Al-Qur’an. Bahkan penciptaan segumpal darah, rezeki manusia, takdir, serta hari akhir telah dijelaskan secara rinci di dalam Al-Qur’an.

و قا ل سو ل الله ﷺ: إ ياكم وااغلو فإ نما أهلك من كان قبلكم الغلو.
١. البخاري مع الفتح: ٢٧٥/١٣
Dalam sabda rasulullah ﷺ jangan lah kalian berlebih lebihan , maka sesungguhnya orang sebelum kalian binasa karena berlebih lebihan. Menurut Said (1996), “ghuluw” adalah suatu perbuatan atau perilaku yang mengerikan, seperti terlalu menghormati atau menyanjung derajat seseorang sehingga dia diposisikan pada kasta yang tidak senyatanya atau sebenarnya.

BACA JUGA:  Anak Muda Jangan Banyak Begadang, Ini Dampaknya!

Berikut dalil dalam Al-Qur’an yang berbunyi :

يٰبَنِيَّ اذْهَبُوْا فَتَحَسَّسُوْا مِنْ يُّوْسُفَ وَاَخِيْهِ وَلَا تَا۟يْـَٔسُوْا مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِۗ اِنَّهٗ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ ۝٨
“Wahai anak-anakku, pergi dan carilah berita tentang Yusuf beserta saudaranya. Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir.”

Dalam tafsir Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI / Surat Yusuf Ayat 87

Sebagai nabi dan rasul, Nabi Yusuf sebenarnya tahu bahwa Nabi Yusuf masih hidup, tetapi Allah belum mengatakan di mana dia berada. Jadi, nabi Yakub meminta anak-anaknya untuk mencari Yusuf dan Bunyamin: “Wahai anak-anakku! kembalilah ke Mesir dan cari berita tentang Yusuf dan saudaranya, Bunyamin! Jangan putus asa dari rahmat dan pertolongan Allah; hanya orang-orang yang kafir yang berputus asa dari rahmat dan pertolongan Allah.” Anak-anak nabi Yakub kemudian bersiap untuk kembali ke Mesir. Mereka tidak hanya pergi untuk mengetahui keberadaan Nabi Yusuf, tetapi juga untuk mendapatkan makanan karena stok makanan mereka habis. Kemudian mereka tiba di Mesir setelah perjalanan panjang. Ketika mereka masuk.

BACA JUGA:  Dampak Pelecehan Seksual Terhadap Sosial, Psikologis dan Fisik

Penting untuk diingat bahwa pengaruh ibadah pada kesehatan mental dapat bervariasi antar individu dan tergantung pada berbagai faktor, termasuk keyakinan agama, dukungan sosial, dan praktik keagamaan yang dilakukan. Oleh karena itu, ketika mempertimbangkan dampak ibadah pada kesehatan mental, penting untuk memahami bahwa setiap orang dapat mengalami pengalaman yang unik dan kompleks.

Maulidina Nur Fatimah dan Faizatul Mufida
Mahasiswi Psikologi, Program Studi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka.