Scroll untuk baca artikel
HealthLifestyle

Pengaruh Inner Child pada Usia Dewasa Awal

×

Pengaruh Inner Child pada Usia Dewasa Awal

Sebarkan artikel ini
Pengaruh Inner Child pada Usia Dewasa Awal

 

Inner Child sedang menjadi perbincangan hangat di media sosial akhir-akhir ini. Para remaja yang menginjak masa dewasa awal merasa bingung dengan sikapnya yang terkadang sulit untuk dikondisikan. Kurang percaya diri, merasa sulit untuk melakukan hubungan sosial, bahkan tidak asertif.

Lalu apa itu Inner Child?

Apakah ada keterkaitan antara remaja yang menginjak dewasa awal dan Inner Child nya?

Menurut Stephen A. Diamond Ph. D. Inner Child merupakan himpunan peristiwa yang terjadi baik peristiwa buruk maupun peristiwa baik yang dialami anak dan akan membentuk kepribadian anak hingga dewasa. Santrock (2011) mengatakan bahwa masa dewasa awal adalah istilah yang digunakan sebagai penanda masa transisi dari remaja menuju dewasa. Rentang usianya sekitar 20 tahun hingga 40.

Usia dewasa awal adalah usia dimana individu mulai memikul tanggung jawab yang berat dan menemukan peran baru dalam hidupnya. Dan awal bagaimana seorang individu menjalakan itu adalah dengan pengalaman yang terekam pada masa lalu kemudian ia jadikan pedoman untuk bertindak. Dan Inner child dapat mempengaruhi karakter atau kepribadian individu tersebut saat menginjak dewasa. Yang artinya kejadian di masa lalu juga yang membentuk cara pandang individu saat menginjak masa dewasa awal.

Inner Child juga disebut sebagai sosok anak kecil yang ada di dalam tubuh orang dewasa. Tidak membhayakan, namun bisa terluka yang bisa menyebabkan trauma masa kecil yang membawa pada perilaku cemas, kurang percaya diri, merasa tidak aman, dan masih banyak lagi kemungkinan yang terjadi jika Inner Child dalam diri terluka dan itu mempengaruhi pada masa dewasa awal.

Faktor utama yang menyebabkan Inner Child terluka adalah pola asuh orang tua, karena memang pendidikan pertama seorang individu adalah orang tua dan akan menjadi contoh untuk dirinya, misalnya pernah melihat orang tua bertengkar, memiliki orang tua yang selalu menuntut kesempurnaan, kekerasan verbal seperti sering membentak. Bahkan yang semasa kecilnya tidak pernah merasa kan kasih sayang orang tua pun dapat melukai inner child pada individu yang menyebabkan lemahnya attachment antara orang tua dan anak dan anak kepada orang di sekitarnya saat menginjak dewasa.

Inner Child memiliki kemungkinan untuk bisa dsembuhkan. Caranya adalah sadari, akui, terima. Sadari bahwa masing-masing orang memiliki pengalaman masa kecil yang berbeda-beda dan kita harus menyedari adanya pengalaman yang kurang mengenakkan pda diri kita, sadari bahwa memang ada dan perna merasakan. Akui, akui bahwa pengalaman atau kejadian itu pernah terjadi dalam hdup kita, tidak lagi biarkan dengan alasan apapun berikan waktu diri kita untuk ngobrol sama inner child kita. Kemudian terima, ikhlaskan bahwa memang Inner Child pernah merasakan luka dan cintaiah Inner Child kita bagaimana keadannya. Niatkan untuk memutuskan rantai derita ini sampai pada diri kita, tidak dilanjutkan kepada generasai slenjutnya.

Refina Okta Rianty, mahasiswa Bimbingan dan Konseling Uhamka