Scroll untuk baca artikel
Opini

Pendidikan Sekuler Mencetak Generasi Minim Pemahaman Agama

×

Pendidikan Sekuler Mencetak Generasi Minim Pemahaman Agama

Sebarkan artikel ini

Oleh: Leni, Anggota Komunitas Muslimah Menulis Depok

Umat Islam seharusnya menjadi umat yang terbaik, namun pada saat ini realitanya tidak demikian. Negara kita terlihat makin sekuler. Salah satunya dalan aspek pendidikan saat ini, yakni Kemendikbud telah meluncurkan sebuah Peta Jalan Pendidikan tahun 2020-2035 yang menuai kritikan karena di dalamnya tidak ada lagi frasa agama. Negara kita telah menjauhkan dan mencampakkan aspek agama dalam masalah pendidikan. Artinya, pelajaran umum atau pelajaran non agama di wilayah yang bebas nilai, jauh terjangkau dari aspek agama. Sekalipun ada itu hanya sebatas pada etika dan moral saja bukan berasal dari nilai-nilai agama.

Jika yang terjadinya demikian, maka tujuan pendidikan yang tadinya akan merubah perilaku manusia menjadi kepribadian Islam, malah menjadikan sosok generasi yang liberal , yang tidak ingin terikat dengan aturan Islam. Faktanya kita bisa lihat saat ini, generasi yang jauh dari nilai-nilai agama, berperilaku bebas dan cenderung tidak dapat terkendali.

Ditambah lagi dengan kurikulum yang ada sekarang hanya berfokus pada nilai-nilai matrealistik. Akhirnya yang terjadi adalah output pendidikan kita hanya diukur seberapa besar kemampuan mereka dalam literasi dan numerasi serta seberapa banyak serapan mereka dalam dunia kerja. Kurikulum sekuler-kapitalis memang hanya fokus untuk mencetak SDM dalam rangka mencetak mesin-mesin industri, sehingga wajar kalau saat ini kita melihat banyak sosok yang hanya tahu bagaimana menjadi mesin uang, tapi minus dalam akhlakul karimah.

Ini menunjukkan bahwa dunia pendidikan saat ini sedang tidak baik-baik saja karena diterapkannya sistem sekuler kapitalis. Generasinya bukan menjadi generasi terbaik (khairu ummah) tapi generasi yang minim pemahaman agama, rusak, minim adab, dan hanya fokus mencari kesenangan sesat dengan berlomba-lomba mencari materi sebanyak-banyaknya tanpa memandang halal haram.

Dan berbeda sekali dengan Islam. Bagi Islam pendidikan adalah sebuah proses untuk mengubah manusia dengan pengetahuan agar mereka menjadi orang-orang yang memiliki pola pikir dan pola sikap yang islami. Pendidikan di dalam Islam adalah sebuah upaya untuk memberikan pengetahuan terkait sikap dan perilaku manusia yang sesuai dengan akidah Islam dan menjadi orang-orang yang menguasai ilmu kehidupan.

Di dalam Islam, pendidikan bukan hanya sekedar mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi bagaimana ilmu-ilmu yang telah diajarkan menjadi sebuah ilmu yang dapat diterpakan sesuai perilaku di dalam kehidupan, sehingga akan dihasilkan generasi yang menjadikan halal dan haram sebagai landasan di setiap amal perbuatannya.

Tentunya, pendidikan Islam membentuk manusia pada kesempurnaan hidup sebagai hamba Allah SWT. Allah SWT berfirman: “Dan tidaklah kami ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku (QS az-Zariat: 56).

Oleh karenanya, agama tidak bisa dipisahkan dalam sebuah pendidikan. Tidak ada dikotomi ilmu agama dengan ilmu sains, kedua- duanya harus dikuasai. Dengan sistem pendidikan Islam akan terbentuk orang-orang yang menguasai dan fakih di dalam ilmu agama, sains dan teknologi. Sehingga mereka mempunyai kemampuan untuk menjawab tantangan zaman
.
Dan sejarah telah membuktikan, jauh sebelum kebangkitan Eropa dan Amerika kaum Muslimin telah lebih dulu berada dalam masa-masa kejayaan dan keemasan. Kaum Muslimin memimpin peradaban yang mulia, menjadi mercusuar pendidikan dunia, memimpin peradaban dengan kemajuan teknologi. Dan ini terjadi bukan main-main, selama 13 abad kaum Muslimin berada dalam puncak kejayaannya.

Tentu kita sangat rindu kembali pada masa-masa kejayaan itu. Oleh kerenanya berbicara tentang peta jalan pendidikan yang harus dirancang oleh umat Islam adalah peta jalan pendidikan yang shahih, berbasis aturan Allah Sang Khalik Pencipta manusia dan alam semesta agar kembali menjadi generasi yang terbaik dalam sistem yang Allah ridhai.[]