Scroll untuk baca artikel
Opini

Kedurhakaan Marak dalam Sistem Sekuler Kapitalis

×

Kedurhakaan Marak dalam Sistem Sekuler Kapitalis

Sebarkan artikel ini

Oleh: Sri Nur Wulan, Anggota Komunitas Muslimah Menulis Depok

Tentunya kita pernah mendengar kasus mengenai seorang anak yang menuntut ibunya yang sempat viral beberapa bulan lalu. Seolah keheranan kita belum usai, kembali viral kasus mengenai anak yang melaporkan ibunya ke polisi. Kali ini penyebabnya karena si anak dimarahi oleh ibunya. Padahal kemarahan sang ibu disebabkan si anak pacaran kelewat batas. Betapa perih dan hancur perasaan sang ibu yang telah membesarkan si anak dengan susah payah namun dibalas dengan kedurhakaan.

Di daerah yang lain, terjadi kasus seorang anak meracuni orang tuanya sampai tewas. Motif sementara dari pembunuhan tersebut karena si anak merasa terbebani karena disuruh mencari nafkah dan merasa tidak diperhatikan (kumparan.com).

Kasus di atas merupakan sebagian kecil saja dari kasus kedurhakaan seorang anak terhadap orang tuanya dan terjadi di tengah-tengah masyarakat yang memang mencuat ke permukaan. Kasus-kasus serupa tentunya lebih banyak lagi namun luput dari pemberitaan. Hal tersebut menunjukkan permasalahannya bukanlah hanya masalah individu semata, melainkan sudah sistemik.

Kalau kita telaah lebih dalam lagi, sistem sekuler kapitalislah yang menjadi racunnya. Karena peniadaan agama dalam mengatur segala aspek kehidupan, mengakibatkan suasana kehidupan terasa kering dari moral. Agama hanya digunakan dalam ritual ibadah semata. Ditambah lagi pemikiran kebebasan atas nama Hak Asasi Manusia, menyebabkan manusia menginginkan kebebasan berperilaku tanpa ada intervensi dari orang lain, termasuk orang tuanya sendiri.

Pemikiran yang seperti inilah yang menyebabkan mereka melakukan tindakan untuk menghilangkan gangguan-gangguan terhadap kebebasan dan kesenangan mereka, tidak peduli siapa yang dihadapi. Selain itu, sistem pendidikan saat ini yang berorientasi hanya pada materi semata semakin memperparah dan menumbuhsuburkan kedurhakaan ini.

Sangat jauh berbeda dengan sistem Islam yang menyandarkan pada ketakwaan seluruh elemen, baik itu individu, masyarakat, maupun negara. Ketakwaan ini melahirkan ketaatan kepada syariat atau aturan Islam.

Islam memandang bahwa berbakti kepada orang tua merupakan perilaku yang sangat luhur. Hal ini tertuang dalam QS al-Isra ayat 23. Setiap manusia diwajibkan untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Dalam surah yang lain, yaitu QS Lukman ayat 15 disebutkan bahwa ketika orang tua kita menyuruh kepada keburukan harus ditolak namun dengan cara yang sehalus mungkin dan tetap harus memperlakukannya dengan baik.

Bahkan dalam salah satu hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari, dari Abu Bakar, Rasulullah bertanya kepada para sahabatnya “Maukah aku memberitahumu tentang dosa terbesar?” Mereka menjawab “Ya Rasulullah.” Kemudian Rasulullah bersabda “Menyekutukan Allah dan durhaka kepada orang tua.” Sangat jelas sekali bahwa Islam benar-benar memuliakan kedua orang tua.

Kita tentu sudah sering mendengar kisah seorang Uwais al-Qarni yang sangat berbakti kepada ibunya. Bahkan kita pernah mendengar kisah sahabat Mus’ab bin Umair diperintahkan untuk tetap berbakti kepada kedua orang tuanya meskipun mereka berusaha merintangi dan mengancamnya. Ini menunjukkan betapa besarnya penghargaan Islam terhadap orang tua.

Selain itu, setiap individu akan menyadari posisi dan perannya masing-masing. Seorang ayah akan menyadari perannya sebagai pemimpin dan pemberi nafkah, sehingga tidak akan merasa terbebani dengan keluarga. Seorang ibu akan menyadari perannya sebagai pengatur rumah tangga sehingga menjalankan tugas rumah tangga dengan senang hati.

Begitu pun seorang anak juga akan menyadari perannya. Ketika seorang anak sudah dewasa, maka ia akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan kedua orang tuanya. Semua ini dilakukan atas dasar ketaatan dan memahami dengan benar bahwa semuanya bernilai pahala.

Tidak hanya sampai di tingkat individu dan masyarakat saja, negara juga akan menjalankan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Dimulai dari sistem pendidikan yang berorientasi pada pembentukan pola pikir dan pola sikap islami, termasuk dalam berbakti kepada kedua orang tua yang diwajibkan dalam Islam. Di sisi lain, negara juga menyiapkan lapangan pekerjaan yang luas bagi laki-laki yang sudah berusia baligh. Mereka diwajibkan untuk mencari nafkah dan ini diawasi oleh negara.

Dari sini dapatlah terlihat begitu sempurnanya sistem Islam. Sangat jauh berbeda dengan sistem rusak sekuler kapitalis yang sudah nyata menghasilkan generasi durhaka dan tidak bermoral. Untuk itu, sudah sepantasnyalah kita mengganti sistem rusak saat ini dengan sistem Islam agar generasi kita terselamatkan.[]