Efektivitas Faktor Internal Audit Syariah

Efektivitas Faktor Internal Audit Syariah

DEPOKPOS – Sektor perbankan Syariah sebagai salah satu elemen penting dalam industry keuangan Syariah, semua lembaga keuangan yang memiliki label sebagai “bank Islam” harus menerapkan aturan-aturan syariat dalam semua transaksi keuangan dan investasinya karena dengan membawa nama tersebut menjadikan mereka bagian dari ekonomi Islam.

Terdapat masalah dalam audit internal yang biasa dikategorikan yang pertama adalah kesenjangan standar yang tidak memadai, yang terletak antara pedoman dan standar audit yang ada dan apa yang diharapkan masyarakat dari mereka, Tipe kedua adalah ekspektasi-kinerja gap, yaitu kesenjangan antara standar kinerja auditor yang diharapkan dengan apa yang dipraktikkan dalam kenyataan.

Standar AAOIFI menyatakan bahwa audit yang efektif harus memenuhi kriteria transparansi, yang dapat diwujudkan hanya dengan memberikan bukti yang cukup yang mengarahkan auditor untuk menyimpulkan bahwa IB mematuhi prinsip-prinsip Syariah dan fatwa yang dikeluarkan oleh dewan pengawas Syariah. Efektivitas ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti independensi dan kompetensi auditor serta profesionalisme kinerja dalam merencanakan, melaksanakan dan melaporkan hasil audit internal Syariah.

Manajemen support meyediakan sumber daya, mengalokasikan ahli professional dan memberikan pelatihan untuk para auditor Syariah. Demi mendapatkan efektivitas para auditor. untuk melakukan audit yang efisien dan efektif, internal audit Syariah harus memiliki referensi audit yang bisa mereka rujuk Ketika melakukan pekerjaan audit, contoh referensinya perundang-udangan yang terkait Islamic Bank, aturan yang dikeluarkan bank sentral terkait kebijakan Islamic bank, keputusan DPS, hasil audit Syariah sebelumnya, standar aaoifi dan Syariah panduan audit.

Piagam auditor Syariah menentukan tugas Syariah, tanggung jawab, tujuan dan wewenang auditor dalam bentuk dokumen tertulis dan terperinci yang di setujui komite Syariah. Rencana audit Syariah, dirancang oleh manajer departemen supervise dengan departemen lain yang paling rentan terkena isu syariah. Audit manual memberikan rincian tentang prosedur yang harus diikuti saat mengaudit untuk mencegah adanya penyimpangan.

Persyaratan internal auditor Syariah itu ada 3 :

Objektivitas dan indepeden, dengan auditor memenuhi syarat dan pada tata organisasi audit internal tersebut.

Kompetensi, Auditor wajib memiliki kompetensi yang mencakup aspek pengetahuan (Knowledge), keterampilan /keahlian (Skill), dan sikap perilaku (Attitude).

Lalu yang terakhir, Proses audit Syariah untuk menampilkan dalam standa AAOIFI yang terdiri dari 5 elemen, yaitu, persiapan, perencanaan, pelaksaan dan dokumentasi, pelaporan dan tindak lanjut.

Internal Audit Syariah tidak menolak semua Teknik dan mekanisme audit internal konvensional untuk menguji nilai yang syariahnya. Namun ada perbedaan Ketika mempertimbangkan standa audit Syariah ASIFI, yang memerlukan ketentuan jaminan bahwa kontrak dan produk Islamic bank dibuat sesuai dengan Syariah. Berbeda dengan konvensional, oleh karena itu, audit Syariah dianggap pentik untuk tata Kelola Syariah dan meminimalkan resiko atau pelanggaran.

Implikasi dari studi ini, pertama, regulator perlu memberika kerangka rinci untuk audit Syariah internal, Kedua, LKI(Lembaga keuangan Internasional) lebih memperhatikan oleh sebab itu menarik perhatian untuk mengembangkan praktik tata Kelola Syariah. Dan untuk penelitian lebih lanjut untuk menguji hubungan faktor-faktor diatas terhadap efektifas audit Syariah berdasarkan data nyata dari LKI.

*Agung, mahasiswa STEI SEBI

Pos terkait