Kenali Penyakit Jantung Koroner dan Cara Pencegahannya dengan Asam Lemak Omega-3!

DEPOKPOS – World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa penyakit kardiovaskular atau cardiovascular disease (CVD) merupakan penyebab kematian pertama di dunia. Penyakit kardiovaskular adalah penyakit yang menyerang jantung dan pembuluh darah, salah satu contohnya adalah penyakit jantung koroner. Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan penyakit yang menyerang pembuluh darah jantung atau arteri koroner yang menyuplai darah ke jantung sehingga jantung tidak menerima cukup oksigen. Hal ini sering disebabkan oleh penumpukan plak di dalam lapisan arteri koroner, sehingga lama-kelamaan penumpukan plak ini akan menyumbat aliran darah di arteri koroner dan menyebabkan terjadinya PJK.
Menurut National Health Service (2020) dan National Heart, Lung, and Blood Institute (2021), terdapat beberapa gejala pada PJK, diantaranya nyeri dada (angina), sesak napas, sakit di sekujur tubuh, merasa lemah, dan mual. Namun, tidak semua orang memiliki gejala yang sama, oleh karena itu diperlukan diagnosa lebih lanjut. Diagnosa dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain pemeriksaan darah, tes treadmill, CT scan, pemindaian MRI, dan juga riwayat kesehatan. Pola hidup yang tidak sehat adalah salah satu pemicu terjadinya PJK, oleh karena itu masyarakat perlu menerapkan gaya hidup sehat, yaitu dengan berolahraga dan makan-makanan sehat.
Di Indonesia sendiri banyak masyarakat yang beranggapan bahwa makanan sehat adalah makanan yang tidak mengandung lemak. Padahal tidak semua lemak buruk bagi kesehatan, salah satunya adalah asam lemak Omega-3 yang terbukti baik bagi kesehatan jantung dan mampu mencegah PJK. Terdapat banyak jenis omega-3, namun umumnya omega-3 yang utama adalah asam linolenat (ALA), asam eikosapentenoat (EPA), dan asam dokosaheksanoat (DHA). ALA banyak terdapat di minyak nabati seperti minyak kanola, sementara EPA dan DHA banyak ditemukan di ikan, seperti ikan herring, makerel, salmon, sarden, dan tuna. EPA dan DHA juga banyak ditemukan dalam bentuk suplemen, seperti minyak ikan.
Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) 2019, kebutuhan Omega-3 untuk laki-laki berusia ≥13 tahun adalah 1,6gram dan perempuan berusia ≥13 tahun adalah 1,1gram. Sementara pada ibu hamil, dibutuhkan tambahan Omega-3 sebanyak 0,3gram dan pada ibu menyusui, diperlukan tambahan Omega-3 sebanyak 0,2gram. WHO merekomendasikan masyarakat untuk mengkonsumsi ikan 1-2 porsi tiap minggunya guna menurunkan risiko PJK dan stroke iskemik. Ada pula rekomendasi bagi vegetarian dan masyarakat yang tidak memakan ikan untuk mengkonsumsi minyak nabati yang kaya akan kandungan ALA, karena 0,5-20% dari ALA dapat dikonversi menjadi EPA dan DHA yang banyak ditemukan dalam ikan.
Mengutip dari MedlinePlus (2021), kebutuhan Omega-3 memang dapat dipenuhi dari suplemen, namun kebanyakan ahli kesehatan lebih menyarankan masyarakat untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung Omega-3 dibandingkan mengkonsumsi suplemen Omega-3, seperti minyak ikan. Hal ini dikarenakan makanan pastinya mengandung zat gizi lain selain Omega-3 yang tentunya bermanfaat bagi tubuh. Namun, bagi penderita penyakit jantung ataupun yang memiliki kadar trigliserida yang tinggi, akan membutuhkan kadar Omega-3 yang lebih tinggi untuk dibandingkan orang yang bukan penderita penyakit jantung dan memiliki kadar trigliserida normal. Kadar Omega-3 yang tinggi mungkin akan lebih sulit untuk dipenuhi dari makanan biasa, oleh karena itu para penderita penyakit jantung dan yang memiliki kadar trigliserida tinggi dapat mendiskusikan dengan tenaga kesehatan untuk mempertimbangi konsumsi suplemen Omega-3.
Omega-3 dapat berperan dalam penurunan trigliserida, atau dikenal pula dengan triasilgliserol. Trigliserida sendiri adalah jenis lemak yang terdapat dalam darah dan menjadi sumber energi utama bagi manusia. Namun, kadar trigliserida yang melebihi batas normal atau >150 mg/dl, dapat meningkatkan risiko terhadap penyakit jantung. Oleh karena itu, dengan konsumsi Omega-3, kadar trigliserida ini dapat diturunkan sehingga menurunkan risiko terhadap PJK dan penyakit kardiovaskular lainnya.
Turr (2012) menyatakan bahwa Omega-3 juga mampu menurunkan kadar kolesterol LDL dalam tubuh atau yang umum disebut “kolesterol jahat” serta meningkatkan kadar kolesterol HDL atau yang disebut “kolesterol baik”. Kolesterol HDL ini berfungsi untuk menurunkan kadar kolesterol tubuh dengan cara menyerap kolesterol untuk dibawa ke hati dan kemudian dikeluarkan dari dalam tubuh. Kadar kolesterol LDL yang melebihi normal atau >100 mg/dl dapat berisiko pada penyumbatan pembuluh darah koroner yang menyebabkan jantung tidak mendapat suplai darah yang cukup dan berujung pada Penyakit Jantung Koroner.
Chadda dan juga Eagle (2015) juga menyatakan bahwa Omega-3 mampu mengurangi agregasi (perkumpulan) trombosit yang mengurangi risiko terjadinya penyumbatan pembuluh darah arteri koroner, menurunkan risiko aterosklerosis dan mengurangi inflamasi pada tubuh. Oleh karena itu, mari konsumsi makanan yang mengandung Omega-3 untuk menurunkan risiko penyakit jantung koroner serta penyakit kardiovaskular lainnya! [Anissa Damaiyanti/Raihani Ramadhan]

Pos terkait