Tidak Makan Buah Karena Takut Diabetes? Yuk Ketahui Lebih Lanjut!

DEPOKPOS – Indonesia merupakan negara yang sangat berprestasi dalam berbagai bidang, sayangnya hal ini tidak menjadi sesuatu yang dapat dibanggakan. Dengan angka sebesar 10,7 juta penderita diabetes, Indonesia menempati peringkat ke-7 dari 10 negara dengan jumlah penderita diabetes tertinggi sebagaimana data dari Kementerian Kesehatan RI tahun 2020.
Diabetes sendiri merupakan penyakit metabolik yang memiliki karakteristik yaitu terjadinya gangguan terhadap regulasi glukosa darah dalam tubuh. Menurut WHO pada tahun 2021, terdapat dua tipe diabetes, yakni ketika organ pankreas dalam tubuh individu tidak dapat memproduksi hormon insulin yang cukup (Diabetes Tipe 1) atau ketika tubuh individu tidak dapat menggunakan hormon insulin yang telah diproduksi secara efektif (Diabetes Tipe 2).
Seseorang dikatakan menderita diabetes ketika memiliki kadar glukosa darah puasa ≥126 mg/dL, atau glukosa darah 2 jam pasca pembebanan ≥200 mg/dL, atau glukosa darah sewaktu ≥200 mg/dL. Peningkatan risiko kejadian diabetes pada seseorang dipengaruhi oleh berbagai hal. Pada diabetes tipe 1, riwayat keluarga dan umur menjadi faktor resikonya. Sedangkan untuk diabetes tipe 2, memiliki kondisi prediabetes, kelebihan berat badan (overweight), riwayat keluarga, tidak aktif secara fisik lebih dari 3 kali seminggu, dan pernah mengidap diabetes gestasional yang menjadi faktor resikonya.
Dengan masih tingginya angka prevalensi kejadian diabetes, diperlukan solusi yang efektif untuk mengatasi hal tersebut, salah satunya adalah menggunakan medical nutrition therapy (MNT) yang telah diakui sebagai landasan dalam pengobatan Diabetes Mellitus Tipe 2. Metode ini telah diteliti oleh Christensen et al. pada tahun 2013 dimana salah satu anjurannya adalah dengan mengonsumsi berbagai macam buah dan sayur yang kaya serat.
Berdasarkan data dari Kementerian Pertanian RI tahun 2021, rata-rata konsumsi buah masyarakat Indonesia masih rendah dengan angka rata-rata hanya sebesar 88,56 gram/kapita/hari. Angka tersebut menunjukkan terjadinya penurunan sebesar 1,4% dibanding konsumsi buah masyarakat Indonesia tahun 2019.
Perilaku konsumsi buah berkaitan dengan beberapa faktor, yakni faktor demografi (umur, jenis kelamin), faktor sosio-ekonomi (pekerjaan, tingkat pendidikan), dan faktor lingkungan (ketersediaan). Menurut penelitian yang dilakukan oleh Xaba dan Dlamini pada tahun 2019, individu pada kategori umur 35-62 tahun terbukti mengkonsumsi buah-buahan tiga kali lebih banyak dibanding dengan individu pada kategori umur 25-34 tahun.
Terbukti juga bahwa wanita mengonsumsi buah-buahan enam kali lebih banyak dibandingkan pria. Untuk faktor sosio-ekonomi, penelitian menunjukkan bahwa tingkat pendidikan yang tinggi (telah menempuh pendidikan ≥10 tahun) serta responden yang memiliki pekerjaan terbukti lebih banyak mengonsumsi buah-buahan. Faktor lingkungan juga mempengaruhi perilaku konsumsi buah-buahan, dimana individu dengan rumah yang memiliki pohon buah lebih banyak mengonsumsi buah-buahan.
Selain itu, ternyata sampai saat ini penderita diabetes juga masih khawatir bahwa mengkonsumsi buah akan menjadi malapetaka bagi mereka karena adanya pemikiran bahwa buah-buahan mengandung banyak gula, sehingga akan meningkatkan glukosa darah dalam tubuh mereka. Padahal, faktanya justru mengatakan sebaliknya karena kebanyakan buah-buahan memiliki indeks glikemik yang rendah hingga sedang, sehingga buah-buahan cenderung tidak memicu peningkatan yang tajam terhadap kadar glukosa darah jika dibandingkan dengan makanan lain, terutama makanan sumber karbohidrat.
Indeks glikemik (IG) adalah ukuran pada suatu makanan yang dikelompokkan berdasarkan pengaruhnya terhadap kadar glukosa darah. Dijabarkan oleh Philippou pada tahun 2017, IG dikatakan rendah jika memiliki IG ≤55, sedang jika memiliki IG 56-69, serta dikatakan tinggi jika memiliki IG ≥70. Di samping itu, kandungan campuran serat larut air dan serat tidak larut air dari buah membuatnya baik dikonsumsi untuk kesehatan pada umumnya.
Menurut penelitian Fajrinayanti dan Ayubi tahun 2008, hal ini dikarenakan konsumsi makanan tinggi serat larut dalam air dapat memberikan rasa kenyang pada individu yang mempersingkat waktu transit pada organ usus, sehingga menguntungkan karena metabolisme glukosa menjadi terkontrol dan individu dapat mengendalikan berat badannya. Pada akhirnya, hal tersebut dapat memberi pengaruh terhadap penurunan kadar glukosa dalam tubuh.
Terdapat beberapa buah-buahan yang direkomendasikan untuk dikonsumsi seperti apel, aprikot, alpukat, anggur, melon, kiwi, jeruk, pir, stroberi, pepaya, persik, dan lainnya. Sementara itu, terdapat juga beberapa buah-buahan yang tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi, yakni pisang, semangka, kurma, nanas, dan sebagainya.
Hal ini dikarenakan buah-buah tersebut memiliki indeks glikemik yang tinggi (IG ≥70). Menurut Cervoni tahun 2021, buah-buahan yang dikeringkan juga tidak direkomendasikan oleh penderita diabetes karena telah melewati berbagai proses pengeringan yang menyebabkan buah memiliki kandungan karbohidrat yang lebih tinggi dibandingkan buah segar.
Buah yang telah dikeringkan juga terkadang telah melalui proses penambahan gula serta pengupasan kulit buah yang menyebabkan buah mengandung serat dalam jumlah lebih sedikit. Tak hanya buah kering, konsumsi jus buah juga sebaiknya dihindari oleh penderita diabetes karena ketika mengonsumsi jus buah, tubuh individu tidak memerlukan banyak mekanisme untuk memecah gula dalam jus sehingga dapat dimetabolisme dengan cepat dan justru meningkatkan kadar gula darah dalam hitungan menit.
Walau baik untuk kesehatan, porsi dari buah-buahan yang dikonsumsi tentunya harus tetap diperhatikan agar tidak terlalu banyak. Sampai saat ini, anjuran konsumsi buah-buahan untuk penderita diabetes masih sama dengan populasi pada umumnya, yaitu 2-4 porsi buah per hari. [Gabriella Nicole/Gabrielle Agustin T.]

Pos terkait