Ambisi Indonesia Memberantas Penyakit Kaki Gajah 2020, Apakah Sudah Berhasil?

DEPOKPOS – Data tahun 2020 menunjukkan jumlah kasus filariasis atau yang biasa dikenal dengan penyakit kaki gajah mencapai 9.906 yang tersebar di 34 Provinsi di Indonesia. Kasus kaki gajah dari tahun ke tahun cenderung berkurang, walaupun begitu jika dilihat dari 10 tahun terakhir kasus kaki gajah masih terlihat naik turun.

Salah satu kasus kaki gajah di tahun 2020 datang dari Kabupaten Pulau Morotai di Provinsi Maluku Utara yang mana selama empat tahun terakhir penyakit kaki gajah baru ditemukan lagi di daerah tersebut. Dari kasus di Pulau Morotai terlihat bahwa Indonesia belum terbebas sepenuhnya dari ancaman penularan penyakit kaki gajah.
Kita harus selalu waspada terhadap penyakit ini! Penyakit kaki gajah dapat menular dari manusia ke manusia lainnya melalui berbagai jenis nyamuk. Penyakit ini disebabkan oleh tiga spesies cacing filaria yaitu Wuchereria branchofti, Brugia malayi, dan Brugia timori. Di Indonesia sendiri, 70% kasus penyakit kaki gajah disebabkan oleh cacing Brugia malayi.
Cacing filaria akan hidup menjadi cacing dewasa di saluran dan kelenjar getah bening sehingga lambat laun dapat terjadi pembengkakan pada kaki, tangan, payudara, dan organ kelamin manusia.
Pembengkakan ini menjadi berbahaya jika tidak diobati karena dapat berakibat pada kecacatan yang permanen. Dengan demikian, penderita yang mengalami kecacatan permanen akan sulit atau bahkan tidak dapat beraktivitas serta dapat menambah beban psikologis penderita dan orang di sekitarnya. Selain itu, penderita kaki gajah juga dapat merugikan ekonomi keluarga ataupun negara yang tidak sedikit dengan biaya perawatan per tahun yang diperlukan seorang penderita kaki gajah sekitar 17,8% dari seluruh pengeluaran keluarga.
Bisa dilihat kan dari informasi di atas bahwa penyakit kaki gajah bukanlah sembarang penyakit. Oleh karena itu, tahun 2000 World Health Organization (WHO) mengeluarkan keputusan tentang program eliminasi kaki gajah yang bernama The Global Goal of Elimination of Lymphatic Filariasis as a Public Health Problem by the Year 2020. Saat itu, Indonesia menempati peringkat kedua dengan penderita kaki gajah terbanyak di dunia. Indonesia berambisi untuk memberantas filariasis dengan mulai bergabung pada program eliminasi filariasis WHO di dua tahun berikutnya, yaitu tahun 2002. Eliminasi filariasis menjadi salah satu prioritas nasional yang dapat dicegah melalui POPM (Pemberian Obat Pencegahan Massal) filariasis di daerah dengan tingkat penularan filariasis yang tinggi (daerah endemis filariasis).
POPM filariasis dilaksanakan di Bulan Oktober yang ditetapkan sebagai Bulan Eliminasi Kaki Gajah (Belkaga) dengan memberikan kombinasi obat diethylcarbamazine citrate (DEC) dan albendazole. Obat ini diberikan kepada penduduk berusia 2-70 tahun di daerah endemis filariasis. Pemberian pengobatan massal ini dapat ditunda kepada penduduk dengan penyakit jantung dan pembuluh darah, gangguan ginjal, gangguan hati, ibu hamil, ayan, dan anak dengan gizi buruk. Obat yang diberikan harus diminum setiap tahunnya sebanyak 1 dosis dalam jangka waktu 5 tahun berturut-turut.
Pemberian obat pencegahan filariasis sudah dijalankan Indonesia selama 19 tahun di kabupaten/kota endemis filariasis. Data Profil Kesehatan Indonesia menunjukkan bahwa cakupan POPM filariasis selama 10 tahun terakhir memiliki kecenderungan yang meningkat. Peningkatan ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dan kesadaran masyarakat yang tinggi dalam memberantas filariasis.

Pada tahun 2020 cakupan POPM filariasis mengalami penurunan akibat adanya pandemi COVID-19. Jumlah kabupaten/kota yang berubah status menjadi nonendemis filariasis pada masa pandemi juga belum mencapai target yang ditetapkan. Indonesia sudah berupaya semaksimal mungkin sehingga dapat mencapai target eliminasi di tahun 2020, namun menurut jurnal yang ditulis oleh Gusti Meliyanie dan Dicky Andiarsa dikatakan bahwa Indonesia juga sudah mengusulkan kepada WHO untuk menunda target eliminasi filariasis selama 5 tahun sehingga menjadi di tahun 2025. Usulan ini belum mendapatkan jawaban dari WHO.
Oleh karena itu, kita perlu turut serta untuk mempercepat pemberantasan filariasis. Masyarakat dapat berperan secara aktif dengan disiplin mengonsumsi obat yang diberikan serta menjalankan segala arahan dari pemerintah ataupun petugas kesehatan demi mengurangi kasus filariasis. Petugas kesehatan atau kader juga harus memantau dan memastikan masyarakat meminum obat pencegahan yang diberikan. Selain itu, petugas kesehatan harus mengingatkan kembali terkait dampak yang ditimbulkan oleh filariasis, manfaat kegiatan POPM filariasis, serta efek samping yang mungkin muncul. Petugas harus menjelaskan bahwa efek samping yang dirasakan tidak berbahaya dan tidak sebanding dengan manfaat yang diperoleh setelah minum obat pencegahan filariasis.
Penting juga untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan pada tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk seperti genangan air. Terakhir, usahakan untuk menghindari gigitan nyamuk dengan menggunakan obat anti nyamuk pada kulit dan menyemprotkan cairan khusus untuk membasmi nyamuk yang ada di ruangan. [Anggi Anitia dan Keisya Karami, Mahasiswi Universitas Indonesia]

Pos terkait