oleh

Keterbatasan ARV di Masa Pandemi COVID-19, ODHA Menjerit

Pandemi COVID-19 sejak pertama kali ditemukan kasusnya di Wuhan, China jumlah penderitanya semakin meningkat. Pandemi ini hampir merebak ke seluruh negara di dunia dengan jumlah kasus yang sudah mencapai puluhan juta. Berdasarakan data WHO jumlah penderita per tanggal 30 November 2020 sebanyak 62,1 juta kasus terkonfirmasi dan 1,4 juta diantaranya meninggal dunia. Di Indonesia sendiri jumlah penderita per tanggal 1 Desember 2020 mencapai 543.975 kasus terkonfirmasi dan 17.081 diantaranya meninggal dunia. Jumlah tersebut terus mengalami peningkatan setiap harinya.

Adanya pandemi yang terjadi membuat banyak sektor terdampak. Salah satu sektor paling yang paling terdampak yaitu sektor kesehatan. Pada sektor kesehatan berdampak pada fasilitas pelayanan kesehatan maupun pada tenaga kesehatan itu sendiri. Selain fasilitas layanan kesehatan dan tenaga kesehatan, pandemi COVID-19 ini juga berpengaruh pada ketersediaan, pemerataan obat dan perbekalan kesehatan. Berdasakan penuturan dr. Yanri dalam webinar Pelayanan HIV/AIDS Selama Pandemi Covid-19 diketahui bahwa antiretroviral (ARV) menjadi salah satu obat yang sulit didapatkan oleh Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) karena terjadi kelangkaan pada saat pandemi. Berdasarkan data hasil survei cepat UNAIDS terdapat 47,6% dari total 1000 responden memiliki stok obat kurang dari satu bulan.

BACA JUGA:  Menu Makanan Terjangkau dalam Meningkatkan Imunitas Pada Masa Pandemi COVID-19

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Kementerian Kesehatan, jumlah penderita HIV/AIDS atau ODHA di Indonesia pada tahun 2020 diestimasikan sebanyak 543.075. Banyaknya penderita HIV/AIDS di Indonesia membuat stok atau ketersediaan dari obat antiretroviral (ARV) juga harus banyak tersedia. Hal ini karena untuk memenuhi permintaan dari ODHA itu sendiri. Pada saat pandemi seperti sekarang, pengadaan ARV ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah khusunya kementrian kesehatan yang bertugas dalam menangani ketersediaan obat tersebut.

Pengadaan ARV di tanah air mengalami kesulitan karena proses import barang yang sulit dilakukan selama pandemi. Obat yang seharusnya dikirim dari India terhambat karena negara tersebut sempat dilockdown. Hal ini membuat stok obat ARV di Indonesia menjadi terbatas. Kelangkaan atau keterbatasan ARV ini sebenarnya bukan hal baru bagi Indonesia. Menurut Direktur Eksekutif Indonesia AIDS Coalition (IAC) Aditya Wardhana dalam wawancaranya dengan Koran Tempo, menyebutkan bahwa penyebab kelangkaan ARV terjadi karena dipengaruhi oleh banyak faktor seperti manajemen rantai pasokan yang tidak baik, pelaporan yang lambat, serta pengadaan obat yang terlambat.

BACA JUGA:  Kecanduan Gadget di Usia Kanak-kanak

Langkanya obat ARV di Indonesia berdampak buruk pada ODHA. Hal ini karena keberlangsungan hidup dari ODHA sangat bergantung dengan adanya ARV ini. Obat ARV yang berfungsi sebagai penghambat persebaran virus HIV/AIDS dalam darah, sehingga obat tersebut harus dikonsumsi secara rutin. Selain itu, kelangkaan pada jenis ARV tertentu, membuat dokter harus terpaksa menggantinya dengan jenis ARV lain. Contoh obat ARV yang diganti dengan jenis ARV lain yaitu jenis abacavir yang diganti dengan tenofovir atau zidovudine. Penggantian jenis ARV memiliki dampak negatif dengan risiko munculnya efek samping akibat mengonsumsi obat tersebut.

Pentingnya obat ARV yang harus dikonsumsi terus menerus oleh penderita HIV/AIDS atau ODHA membuat pengadaannya sangat perlu untuk diperhatikan. Beberapa upaya yang dapat dilakukan pemerintah untuk membuat ketersediaan ARV ini khususnya pada saat pandemi terjadi yaitu dengan pengadaan atau memesan obat tersebut pada negara lain yang tidak melakukan lockdown. Selain itu, pemerintah dapat melakukan penambahan produsen lokal untuk memproduksi obat tersebut dengan tetap mengikuti standar. Walapun hal tersebut tidak mudah untuk dilakukan, tetapi dapat menjadi salah satu solusi permasalahan kelangkaan obat ARV yang bukan hal baru di Indonesia.

BACA JUGA:  Peningkatan Covid-19 Secara Signifikan

Ditulis oleh Ruswati, Mahasiswa FKM UI

Referensi
WHO. 2020. Weekly Operational Update on COVID-19 30 November 2020. [online] Available at: <https://www.who.int/publications/m/item/weekly-epidemiological-update—30-november-2020> [Accessed on 1 Dec 2020]
[online] Available at: <https://covid19.go.id> [Accessed on 1 Dec 2020]
Kemenkes RI. 2020. Kampanye Bulan Viral Load: Pentingnya Mengetahui Status Pengobatan ARV pada ODHA Melalui Pemeriksaan Viral Load HIV.
Subronto, Y. W. 2020. Lesson Learn : Pelayanan HIV AIDS di Rumah Sakit Selama Pandemi Covid-19 [online] Available at : <https://persi.or.id/wp-content/uploads/2020/06/materi_dryanri_kars200620.pdf> [Accessed 7 December 2020]

Komentar

Berita lainnya