oleh

Peran Pengawas Minum Obat (PMO) Keluarga dalam Keberhasilan Pengobatan TB Paru

Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit kronis menular yang menjadi masalah kesehatan utama di dunia. WHO dalam Global Tuberculosis Report 2017 mencatat terdapat 842.000 keseluruhan kasus di Indonesa sehingga menyebabkan Indonesia berada di peringkat ketiga di dunia dalam jumlah kasus TB (WHO, 2018). TB membunuh setidaknya tiga juta orang setiap tahun dan terjadi peningkatan lima hingga enam persen per total kasus. TB di Indonesia menjadi penyebab kematian ke empat setelah kardiovaskular.

Target program penanggulangan TB yaitu penemuan kasus baru BTA positif minimal 70% dan menyembuhkan 85% penderita. Indonesia mengalami kemajuan dengan penemuan kasus baru 51.6% dari target global 70% dengan obat TB yang tercukupi, namun jumlah penderita terus meningkat dan TB belum dapat diberantas. Pemerintah melalui Program Nasional Pengendalian TB yang menggunakan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) dari WHO. Salah satu strategi tersebut yaitu Pengawas Minum Obat (PMO).

PMO keluarga merupakan pengawasan yang dilakukan oleh keluarga dalam kepatuhan kunjungan dan konsultasi. Pengawasan ini bertujuan agar penderita TB minum obat sesuai dengan dosis dan jadwal yang ditetapkan petugas (Limbu, et all. 2015). Dukungan PMO keluarga dapat berperan dalam peningkatan pengetahuan, pencegahan, dan kepatuhan pasien. Keluarga cocok dijadikan sebagai PMO karena dikenal, dipercaya, dan disetujui pasien maupun petugas kesehatan. Peran PMO keluarga dilakukan dalam perawatan penderita di rumah seperti pengawas penampung dahak, membantu membersihkan peralatan makan, dan menepati janji kontrol. Keluarga juga dapat memberikan motivasi agar penderita rutin minum obat sesuai dengan jadwal.

BACA JUGA:  Peran TIK dalam Pembangunan Sebuah Negara

Sebelum memulai pengobatan, PMO dan penderita menjalani pelatihan mengenai pentingnya PMO mengetahui gejala dan mengatasi efek samping. Pengaruh PMO diduga memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan pengobatan TB. Dengan adanya PMO diharapkan angka kesembuhan 85% dari kasus BTA+. Peran PMO dapat mencegah terjadinya kejadian drop out dan meningkatkan kepatuhan penderita mengkonsumsi obat tanpa terputus sampai penderita dinyatakan sembuh (Jordan, et all. 2014).

Penggunaan obat yang benar sesuai dengan ketentuan penting untuk mencegah terjadinya penyakit TB baru yang resisten, terutama pada fase lanjutan setelah penderita merasa telah sembuh. Berdasar jurnal penelitian Hubungan PMO dengan Keberhasilan Pengobatan TB oleh Iceu dkk (2016) menunjukkan 38 responden (76,0%) berhasil dalam pengobatan TB dan hanya 12 respondenn (24,0%) sehingga terdapat hubungan yang signifikan antara peran PMO terhadap keberhasilan pengobatan TB di Puskesmas Tarogong Garut. Penelitian lain oleh Imas dkk (2019) dengan judul yang sama menunjukkan dari total 41 PMO terdapat 30 orang (73%) PMO membantu kesembuhan pasien TB, dengan demikian ada pengaruh peranan PMO terhadap keberhasilan pengobatan pasien TB di Kecamatan Maleber.

BACA JUGA:  Peran TIK dalam Pembangunan Sebuah Negara

Upaya pencapaian target Indonesia Bebas TB 2050 memerlukan peran serta seluruh lapisan masyarakat. Petugas kesehatan diharapkan mengoptimalkan kinerja dalam penemuan kasus baru tuberkulosis sehingga pengobatan berjalan maksimal. PMO hendaknya mendampingi penderita TB dalam pengobatan dan memotivasi kesembuhan penderita. Masyarakat dapat berperan aktif melaporkan kasus TB dan segera berobat bagi mereka yang tertular. Puskesmas sebaiknya menyediakan akses bagi mereka yang kesulitan agar segera mendapat bantuan medis. Dinas kesehatan dapat mempertimbangkan mengadakan program pelatihan PMO di puskesmas dan pos kesehatan pada desa terpencil.

BACA JUGA:  Peran TIK dalam Pembangunan Sebuah Negara

Ditulis oleh Sabila Nur Lailiah, Mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

 

Referensi:
1. Who. Global Tuberculosis Control. WHO 2010. In: Control. 2010.
2. Septi Fandinata S, Darmawan R. Hubungan Antara Peran Pengawas Menelan Obat (PMO) dengan Keberhasilan Pengobatan Tuberkulosis Paru Kategori I. J Syifa Sci Clin Res [Internet]. 2019 Sep 12 [cited 2020 Nov 21];1(1):70–9. Available from: http://ejurnal.ung.ac.id/index.php/jsscr/article/view/2664
3. Sintiawati A, Saputra R, S PW. HUBUNGAN PERAN PENGAWAS MINUM OBAT OLEH KELUARGA TERHADAP PENGETAHUAN KELUARGA PENTINGN PENGOBATAN TBC DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PERAWANG KEC. TUALANG KAB. SIAK 2019 [Internet]. [cited 2020 Nov 21]. Available from: http://jurnal.univrab.ac.id/index.php/keperawatan/article/view/1123/686
4. Maesaroh I. PERANAN PENGAWASAN MINUM OBAT (PMO) TERHADAP KEBERHASILAN PENGOBATAN TB PARU [Internet]. Jurnal Ilmiah Kesehatan Umpri. 2019 [cited 2020 Nov 21]. Available from: https://ejournal.umpri.ac.id/index.php/JIK/article/view/1030/483
5. Ri KK. Kementerian Kesehatan RI: pendoman nasional pelayanan kedokteran tata laksana tuberkulosis. J Chem Inf Model. 2013;

Komentar