oleh

Bisnis Berumur 5 Tahun, Apakah Terguncang Saat Pandemi?

Pada awal bulan maret 2020, pemerintah mengumumkan kasus pertama virus covid-19 di Indonesia yakni 2 orang WNI terinfeksi virus ini. Untuk mencegah penyebaran virus covid-19 ini, berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah. Seperti pengecekan suhu tubuh, memberlakukan penggunaan masker, menetapkan kebijakan Work From Home (WFH) serta penerapan pembelajaran jarak jauh untuk siswa hingga mahasiswa. Bulan demi bulan kasus terinfeksi dan kematian akibat covid-19 terus meningkat. Melihat kondisi demikian, akhirnya pada bulan April 2020 pemerintah meluncurkan kebijakan yakni adanya penerapan PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar di beberapa kota besar dengan tujuan memutus rantai penyebaran covid-19 ini.

Sudah hampir satu tahun, pendemi menyerang negeri pertiwi. Tak hanya, berdampak terhadap aspek kesehatan saja, namun juga berdampak pada aspek-aspek lainnya. Seperti pada sektor wisata, yakni pemberlakuan penutupan sementara pada tempat-tempat rekreasi. Kemudian, pada sektor infrastruktur, pun mengalami penurunan jumlah pengguna yang sangat siginfikan akibat adanya pemberlakuan PSBB ini. Lalu, pada sektor perekonomian, dampak dari covid ini membuat perekonomian di Indonesia menjadi melemah , ditandai dengan terhentinya kegiatan ekspor ke beberapa negara.

Selain itu, dampak cocid-19 ini pun dirasakan oleh sektor Informal dan UMKM. Dimana pemerintah menghimbau untuk membatasi interaksi secara lansung atau dikenal sosial distancing . Hal ini akhirnya sangat berdampak pada penurunan pendapatan. Bila kita amati, seluruh sektor-sektor yang terdampak covid-19 ini sangat berkaitan erat dengan perekonomian di Indonesia. Menurut hasil survei badan pusat statistika (BPS) , tercatat bahwa sektor dibidang usaha dan akomodasi merupakan sektor yang paling banyak mengalami penurunan hampir mencapai angka 92,47%.

Pendemi ini pun berdampak pada para buruh kerja. Banyak pekerja di PHK saat ini. Hal demikian menyebabkan tidak adanya pemasukan tiap bulannya. Maka, agar dapat bertahan hidup, banyak dari mereka beralih memulai sebuah bisnis. Namun, di sisi lain, banyak pemilik usaha yang juga mengalami kesulitan dalam menjalankan usaha nya dimasa pandemi ini. Padahal, usaha yang dibangun sudah berjalan selama lima tahun lebih.

Bicara usaha, tentunya banyak hal yang tak terduga. Ada masa nya dimana usaha itu meningkat dalam hal penghasilan, namun juga ada saatnya dilanda kegoncangan. Ada hal-hal diluar kendali.Hal ini merupakan resiko murni dalam menjalankan sebuah usaha, sehingga menjadi seorang pembisnis harus mampu mengantisipasi dan mengatasi segala macam resiko yang bisa terjadi kapanpun dan dimanapun. Karena masa pandemi covid-19 ini memaksa kita para pembisnis untuk lebih jeli lagi dalam memanfaatkan strategi marketing dimedia sosial. Dengan kemampuan serta kreativitas, maka usaha yang telah dirintis mampu dipertahankan. Lalu, berfikir bagaimana akhirnya, kondisi yang sulit ini mampu diubah menjadi kondisi yang berpeluang dalam usaha.

Misalkan :
Bisnis catering yang sudah berjalan 5 tahun ini pun turut merasakan dampak dari covid-19. Terbukti dengan menurunnya penghasilan yang sangat drastis. Dalam menjalankan usahanya, akibat adanya larangan dari pemerintah pada masyarakat yakni agar tidak mengadakan perkumpulan dan harus sosial distancing. Karena usaha catering ini sangat lekat degan kegiatan masyarakat seperti arisan, pengajian, atau kegiatan perkumpulan lainnya . Karena adanya kebijakan ini, maka peluang untuk mendapatkan penghasilan seperti biasa di bisnis catering pun sulit dilakukan.

Pada kasus ini terdapat 2 resiko, yaitu resiko murni dan resiko bisnis. Pada resiko murni yaitu resiko diluar kendali manusia dan akan terjadi kerugian didalam resiko ini, wabah Covid-19 merupakan kejadian atau peristiwa diluar kendali manusia, adanya covid-19 ini membuat kerugian yang bisa dibilang cukup besar, dilihat dari menurunnya angka penghasilan yang signifikan. Dalam resiko bisnis, masa pandemi ini memunculkan adanya peluang mendapatkan keuntungan dan kerugian. Sebenarnya dalam keadaan ini pun ada kesempatan mendapatkan dan mengimbangi prospek yang hilang dengan cara mencari kesempatan dalam berbagai peluang untuk mendapatan keuntungan. Masa pandemi yang diluar kendali manusia atau sebuah bisnis membuat kita harus beradaptasi dan meminimalisirkan dampak-dampak lainnya terhadap suatu bisnis, jika kita tidak bisa beradaptasi keadaan new normal ini kemungkinan bisa saja usaha tersebut akan gulung tikar. Kemungkinan kecil tetapi akan beresiko besar.

Dalam kasus resiko tersebut, pembisnis dalam sektor makanan catering ini bisa membuka peluang usaha yang lain. Contohnya dengan membuat frozen food atau makanan siap saji yang bisa diolah oleh masyarakat ketika di rumah saja. Adanya frozen food atau makanan siap saji sangat dibutuhkan pada masa pandemi ini, ini merupakan peluang yang sangat baik untuk para pembisnis dibidang makanan. Selain itu,pembisnis juga bisa melakukan promosi yang menarik agar para pelanggan tertarik untuk membeli atau memesan makanan yang disajikan. Pembisnis bisa juga melakukan penjualan secara daring, bisa dengan aplikasi ojek online dengan berbagai diskon yang menggiurkan dan juga bisa dengan bekerja sama dengan influencer atau food blogger. Dalam memilih influencer atau food blogger kita harus melihat dalam jumlah followers dan reputasinya, dimana jika followersnya banyak dan reputasinya baik maka banyak juga yang akan melihat produk kita. Dilihat juga dari biaya jasa influencer dan food blogger tersebut karna pada masa pandemi kita harus lebih pintar dan teliti dalam memanaje keuangan. Disisi lain pembisnis juga harus tetap menjaga kebersihan agar pelanggan mempercayai produk yang ditawarkan. Kemudian bisa juga dilakukan optimalisasi layanan online. Maksudnya adalah dari proses pemesanan hingga pembayaran bisa dilakukan secara online untuk menghindari interaksi secara langsung antar pelanggan dan penjual. Sehingga, usaha bisa tetap dijalankan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Oleh Salsabila Khairunnisa, Mahasiswa STEI SEBI Depok.

Komentar