oleh

Agar Dana LKS Terkelola Baik dan Benar

EFEKTIVITAS AUDIT SYARIAH DI LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH

Praktik lembaga keuangan syariah telah beroperasi dan berkembang pesat di berbagai negara. Berbagai negara juga telah merumuskan standar pelaporan keuangan Syariah. Namun tetap tidak ada pihak yang dapat menjamin pelaporan keuangan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, audit syariah mulai muncul dalam perkembangan penelitian akuntansi syariah ini.

Dalam hal ini audit internal syariah memiliki peran penting untuk memastikan tanggung jawab atas laporan keuangan sesuai dengan aspek-aspek syariah. sehingga pemegang saham merasa aman berinvestasi, kemudian dana yang dimiliki Lembaga Keuangan Syariah dapat dikelola dengan baik dan benar sesuai syariah Islam. Audit yang berlaku saat ini merupakaan sistem keuangan konvensional yang lebih mengutamakan aspek ekonomi saja. Sedangkan seiring berkembangnya kehidupan, aspek diluar ekonomi mulai menjadi hal yang kemudian memerlukan penilaian dalam audit. Hal ini ditandai dengan adanya performance audit, audit sosial dan lingkungan, juga termasuk audit syariah.

Perbedaan antara audit syariah dan konvensional menyebabkan perbedaan karakteristik audit internal yang diperlukan, seperti arah, tujuan, ruang lingkup, pengungkapan dan pelaporan, keterampilan auditor, dan kualifikasi yang diperlukan. Berdasarkan berbagai studi, dalam penerapan audit syariah terdapat tantangan tersendiri. Yaitu adanya gap antara harapan dan praktik audit syariah yang berlangsung saat ini.

BACA JUGA:  COVID-19 dan Urgensi Ekonomi Syariah

Setidaknya ada 4 faktor utama yang menjadi kendala besar penerapan audit yang berdasarkan hukum syariah tersebut, yaitu kerangka kerja, ruang lingkup, kualifikasi dan isu terkait independensi. Tantangan lain adalah peran Dewan Pengawas Syariah (DPS) sebagai auditor syariah. DPS tidak memiliki kekuatan yang mengikat dan memaksa seperti seharusnya. DPS hanya sebatas mengeluarkan fatwa tanpa kekuasan hukum yang mampu memaksa menerapkan hal tersebut dan juga proses pengangkatannya yang dipilih langsung oleh LKS itu sendiri, hal ini juga menimbulkan isu independensi.

Ruang lingkup audit syariah tentu berbeda dengan audit konvensional. Audit syariah memiliki ruang lingkup yang lebih luas karena auditor diharapkan dapat berurusan dengan peraturan dan pedoman yang lebih luas. Hal ini berkaitan dengan tugas auditor syariah yang juga harus melakukan uji kepatuhan syariah. Mereka harus memastikan bahwa manajemen telah mengikuti prinsip bebas riba’ dan halal yang telah ditentukan oleh DPS. Fokus auditor syariah bukan hanya pada aspek keuangan, lebih dari itu, auditor syariah harus bisa memastikan produk, jasa, dan semua kegiatan yang dilakukan oleh LKS telah sesuai dengan prinsip syariah.

BACA JUGA:  Pentingnya Etika Profesional Auditor

Dengan hal tersebut proses perbaikan faktor internal manajemen syariah dapat dicapai terlebih dahulu, melalui peningkatan kesadaran untuk memperbaiki struktur audit syariah internal, yang akhirnya dapat mencerminkan peran auditor syariah internal dan praktiknya. Selain itu, memastikan keseragaman dan standarisasi pengambilan keputusan oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS) di berbagai bank syariah. Namun, lebih baik Dewan Penasehat Syarıah menasihati Bank Sentral untuk memimpin karena memiliki otoritas tertinggi dalam sistem perbankan Islam dan pasar keuangan secara keseluruhan. Dalam hal ini, sistem manajemen syariah tampaknya bermanfaat bagi industri perihal efektivitas dan kredibilitas bank syariah.

BACA JUGA:  Nabung Emas Menjadi Tren, Bagaimana Hukumnya?

Terdapat alasan lain untuk memberikan kontribusi terhadap efektivitas kinerja yaitu memahami fungsi subjek yang dapat dievaluasi. Jika tidak, seluruh organisasi akan bekerja sama dengan area yang diinginkan auditor di temapt lain. Dengan kata lain, jika audit internal syariah tidak didasarkan pada standar yang relevan, maka faktor-faktor atau partisipan dalam tata kelola tidak akan saling mempengaruhi untuk memenuhi persyaratan dengan baik, dan juga pada langkah-langkah yang akan diambil dan yang dipraktekkan. Kemudian juga adanya kebingungan dan kesalahpahaman mengenai peran audit syariah internal dan mencampurkannya dengan peran syariah internal supervisor. Oleh karena itu, jika regulator atau praktisi tidak sepenuhnya memahami konsep fungsi ini juga tidak peduli tingkat tekanan pengawasannya, maka tidak akan berpengaruh pada audit internal syariah.

*Syifa Asy Syuhada

Komentar

Berita lainnya