oleh

5 Kaidah Sebagai Landasan Audit Syari’ah Di Bank Syari’ah

Perkembangan industri keuangan muncul karena kesadaran masyarakat muslim dalam menjalankan syari’at islam. Di era modern, praktik ekonomi konvensional khususnya di sektor keuangan di anggap mengandung unsur riba oleh masyarakat muslim khususnya (Saputra, 2016). Hal tersebut muncul karena dalam sistem keuangan konvensional menerapkan sistem bunga yang oleh para ahli ekonomi syari’ah telah diharamkan. Oleh karena itu, salah satu bentuk usaha masyarakat muslim yaitu dengan membentuk institusi keuangan untuk menerapkan nilai-nilai syari’ah yang di tandai dengan berdirinya bank syari’ah dan hingga saat ini sudah menjamur di berbagai negara sebagai alternatif menghindari riba.

Sejalan dengan berdirinya bank syari’ah, diikuti dengan munculnya kebutuhan untuk memastikan aspek syari’ah telah terpenuhi. Kebutuhan atas kepastian pemenuhan syariah ini mendorong munculnya fungsi audit baru, yaitu audit syariah. Dalam hal ini, auditor syariah memegang peran krusial untuk memastikan akuntabilitas laporan keuangan dan pemenuhan aspek syariah. Sehingga stakeholder merasa aman berinvestasi dan dana yang dimiliki oleh LKS dapat dipastikan telah dikelola dengan baik dan benar sesuai syariat Islam. (Mardiyah & Mardian, 2015)

Dalam praktiknya, seorang auditor muslim harus menunjukan karakter yang kuat dengan tetap berpegang pada prinsip-prinsip islam. Hal ini perlu di terapkan, karena yang di harapkan lebih dalam dari audit syari’ah ini adalah tercapainya maqashid syari’ah pada bank syari’ah. Yang menjadi indikator tercapainya maqashid syari’ah pada bank syari’ah yaitu dengan terpenuhinya 3 aspek. Aspek tersebut meliputi akidah (aqidah), asas hukum Islam (al ahkam al syar’iyah) dan etika (akhlaq). (Mastuki, Nurulhuda Abd Rahman and Nor’azam, Muhamad Rahimi Osman, 2020)

BACA JUGA:  Pengukuran Fungsi Audit Internal Syariah yang Efektif di Lembaga Keuangan Syariah

Dalam sebuah penelitian yang di lakukan oleh Nurulhuda Abd Rahman dan Nor’azam Mastuki, Muhamad Rahimi Osman, dan Nawal Kasim, membahas tentang bagaimana prinsip kaidah Islam (ILM) dapat menjadi landasan bagi praktik audit syariah dalam membantu praktik manajerial lembaga untuk mencapai maqashid syari’ah. Dari penelitian ini memberikan hasil bahwa dengan penerapan praktik audit syari’ah, ILM mendukung pencapaian maqashid syari’ah pada bank syari’ah.

Untuk memenuhi tercapainya maqashid syari’ah, terdapat 5 prinsip ILM untuk di terapkan oleh auditor syari’ah dalam praktiknya, yaitu;

Keyakinan tidak dapat dihilangkan oleh keraguan

Dalam implementasinya, auditor lebih sering mengaudit pada bagian yang berisiko tinggi. Ketika bagian yang di audit material, maka penentuan tingkat toleransi oleh auditor akan semakin kecil guna mencari bukti audit yang lebih besar. Hal ini di lakukan agar memberikan keyakinan bagi auditor bahwa temuan kesalahan yang di hasilkan pada bagian yang di audit telah akurat, sehingga dapat memberikan opini yang baik.

BACA JUGA:  Nabung Emas Menjadi Tren, Bagaimana Hukumnya?

Segala sesuatu ditentukan oleh niatnya

Kaidah ini menjelaskan bahwa segala tindakan yang di lakukan oleh auditor harus dilakukan dengan niat yang baik, serta di kerjakan semata-mata hanya untuk allah. Jika niat yang di tanamkan dalam diri seorang audit syariah baik, maka dalam urusan dunia akan baik pula. Dalam hal ini, perencanaan dan proses audit akan berjalan dengan baik sesuai yang di harapkan. Kaidah ini juga bisa menjaga seorang auditor syari’ah dapat menjalankan fungsinya secara objektif.

Adat atau kebiasaan dapat dijadikan sebagai hukum

Pada dasarnya, teknik audit telah ada dan di gunakan dalam praktik audit konvensional. Dalam kaitanya dengan kaidah ini, teknik audit konvensional yang sudah ada dapat di gunakan dalam praktik audit syari’ah selama tidak ada unsur yang bertentangan dengan maqashid syari’ah.

Kemudaratan harus dihilangkan

Kaidah ini adalah kaidah yang paling inti dalam praktik audit syari’ah. Seorang auditor harus mengungkapkan dan memberikan solusi atas kesalahan-kesalahan yang di temukan pada bank syari’ah yang di audit, guna melakukan perbaikan atas kesalahan yang di temukan. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa kegiatan yang di lakukan dalam bank syari’ah, telah sesuai dengan ketentuan syari’ahnya.

BACA JUGA:  Strategi Optimalisasi Bank Syariah

Penilaian harus didasarkan pada pengetahuan dan pemahaman

Selaras dengan prinsip kaidah tersebut, seorang auditor harus memiliki pengetahuan dan pelatihan terkait syari’ah yang memadai. Dari sebagian besar penelitian juga telah sepakat bahwa syarat menjadi seorang auditor syari’ah harus memahami syari’ah khususnya muamalat. Karena, dalam praktiknya di bank syari’ah perlu pemahaman yang mendalam berkaitan dengan transaksi muamalatnya. Maka dalam praktik audit syari’ah, tidak sembarang orang dapat memberikan opini, harus di lakukan oleh seorang auditor yang sudah memiliki ketentuan-ketentuan tersebut. Sehingga harapan kepada auditor syari’ah dalam mebuktikan pelaporan keuangan yang relevan dan kepatuhan syari’ah bisa tercapai dengan baik. Selain itu, harapan yang perlu dipenuhi oleh proses audit syariah antara lain kemampuan menilai pelaksanaan pengendalian internal yang sehat dan efektif untuk kepatuhan syariah.

*Arif Lukman Hakim

Referensi:
Mardiyah, Q., & Mardian, S. (2015). Praktik Audit Syariah Di Lembaga Keuangan Syariah Indonesia. Akuntabilitas, 8(1), 1–17. https://doi.org/10.15408/akt.v8i1.2758
Mastuki, Nurulhuda Abd Rahman and Nor’azam, Muhamad Rahimi Osman, N. K. (2020). Islamic legal maxim for Shari ’ ah audit in Islamic bank. 11(2), 457–471. https://doi.org/10.1108/JIABR-11-2017-0170
Saputra, M. R. (2016). Praktik Audit Syariah di Malaysia – dakwatuna.com. https://www.dakwatuna.com/2016/11/07/83389/praktik-audit-syariah-malaysia/#axzz6bwqAXd43

Komentar

Berita lainnya