oleh

Puntung Rokok dan Dampaknya pada Lingkungan

Sampah merupakan hal yang sangat berpengaruh terhadap lingkungan dan tanpa kita sadari sampah juga dapat berpengaruh terhadap kesehatan baik secara langsung maupun tidak langsung. Permasalahan mengenai sampah merupakan hal yang sangat membutuhkan perhatian khusus. Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengatakan bahwa “Jumlah timbunan sampah secara nasional sebesar 175.000 ton per hari atau setara 64 juta ton per tahun jika menggunakan asumsi sampah yang dihasilkan setiap orang per hari sebesar 0,7 kg”.

Menurut hasil riset yang dilakukan oleh peneliti Universitas Georgia, Jenna Jambeck yang dirilis pada tahun 2015, menunjukkan bahwa Indonesia menjadi negara kedua penyumbang sampah di laut setelah China. Setidaknya, ada 187,2 juta ton sampah dari Indonesia ada di laut.

Sementara menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan dilakukan oleh jutaan orang. Setidaknya dua pertiga puntung rokok ditemukan berserakan di trotoar maupun di selokan sehingga berujung di lautan.

BACA JUGA:  Istilah Politik Aliran dan Perkembangannya di Indonesia

Penyebab utama orang yang membuang puntung rokok dengan sembarangan, seperti yang saya temui pada tanggal 18/12/2019 “Saya selalu membuang puntung rokok dengan sembarangan karena tidak ada tempat sampah yang tersedia,” ungkap Yolla salah seorang perokok.

Selain merupakan sampah terbanyak di lautan, puntung rokok juga merupakan sampah yang berbahaya (B3). Berikut beberapa zat yang terkandung di dalam puntung rokok yang tidak lazim didengar masyarakat umum seperti aseton (pembersih kuteks), arsenik (bahan untuk racun tikus), hidrogen sianida, timbal, fenol, quinoline (zat menghilangkan karat besi) dan masih banyak lagi zat lainnya.

Sejak tahun 1980-an, puntung rokok menyumbang 30% hingga 40% dari semua sampah yang ditemukan di tempat pembuangan sampah perkotaan. Puntung rokok terdiri dari ribuan serat selulosa asetat, yang meskipun dapat terurai secara biologis, membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk terurai . Serat selulosa asetat, seperti mikroplastik lainnya, juga merupakan polutan umum yang ditemukan di ekosistem, bahkan terakumulasi di dasar laut dalam.

BACA JUGA:  Istilah Politik Aliran dan Perkembangannya di Indonesia

Para peneliti telah menemukan sekitar 70 persen detritus, partikel organik hasil dari proses penguraian sampah puntung rokok, berada di dalam perut burung laut dan 30 persen di tubuh penyu. Hal tersebut sangat berdampak besar pada satwa liar bahkan hewan peliharaan sekalipun.

Tidak hanya berdampak pada hewan, dampak negatif yang ditimbulkan oleh puntung rokok ini juga berdampak pada tumbuhan. Menurut hasil percobaan yang dilakukan terhadap tanaman kecambah bahwa puntung rokok mengurangi tumbuhnya kecambah pada rumput dan semanggi hingga 25%. Selain itu, puntung rokok juga mengurangi jumlah biomassa akar semanggi hampir 60%.

BACA JUGA:  Istilah Politik Aliran dan Perkembangannya di Indonesia

Melihat kondisi ini yang sangat memprihatinkan karena kita semua mengetahui bahwa cukai rokok menyumbang sebesar Rp. 153 Triliun untuk kas negara Indonesia, namun dampak yang ditimbulkan sangat berbahaya. Ditambah lagi puntung rokok yang dibuang sembarangan oleh orang yang tidak bertanggung jawab

Solusi yang perlu dilakukan adalah melarang atau membatasi jumlah rokok yang beredar di Indonesia atau bisa dengan menaikan harga rokok yang baru-baru ini sedang dilakukan pemerintah Indonesia dengan harapan mengurangi jumlah perokok, dengan ini dapat juga mengurangi pembuangan puntung rokok sembarangan yang menimbulkan dampak yang sangat berbahaya. | Regina Perangin Angin/LSPR

Komentar

Berita lainnya