oleh

Olah Air Limbah Bantu Cegah Ancaman Tenggelamnya Jakarta

Sebanyak tiga perempat wilayah Indonesia adalah wilayah perairan, dengan luas lautan Indonesia sebesar kurang lebih 3,351 juta km2 (BPS, 2017). Besarnya wilayah perairan Indonesia tentu sangat berpengaruh terhadap perekonomian, kesehatan, dan sistem pertahanan negara. Kehidupan masyarakat pesisir pantai yang sangat bergantung pada kondisi lingkungan, khususnya air, menyebabkan mereka rentan terhadap kerusakan lingkungan, seperti pencemaran karena limbah minyak maupun industri. Pencemaran minyak dan gas proyek Pertamina di Laut Jawa pada Juli 2019 misalnya, telah mengakibatkan matinya ikan dan udang di daerah Karawang hingga Bekasi, Jawa Barat. Musim juga turut mempengaruhi kegiatan masyarakat pesisir, seperti nelayan. Jika musim paceklik tiba, kegiatan melaut menjadi berkurang sehingga banyak nelayan yang terpaksa menganggur. (Wijaya C, 2019; Wahyudin Y, 2015)

Ketergantungan masyarakat pesisir terhadap kondisi lingkungan dan musim menyebabkan tantangan tersendiri bagi mereka, terlebih dengan kondisi pemanasan global yang kian memburuk. Salah satu dampak dan ancaman pemanasan global adalah perubahan iklim, yang kemudian dapat berdampak pada terjadinya kenaikan tingkat air laut. Kenaikan tingkat air laut disebabkan oleh ekspansi termal air laut akibat suhu air laut yang meningkat, disertai dengan mencairnya gletser dan daratan yang terbuat dari es. Tingkat air laut yang terus naik dapat mempengaruhi kejadian petir besar, kebanjiran, kontaminasi air konsumsi dengan air laut, dan merusak tanah subur di daerah tersebut. Selain itu, kenaikan tingkat air laut dapat berkontribusi terhadap erosi pantai, genangan air, dan salinifikasi akuifer. (UNFCCC, 2007; Reid, P et al, 2009)

Beberapa kawasan pesisir di Indonesia, seperti Jakarta, Semarang, dan Demak, berisiko tinggi mengalami kehilangan atau kerusakan harga benda sebagai akibat terjadinya kenaikan permukaan air laut dan penurunan muka tanah. Menurut Sri Sunarti, Kepala Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI, mengatakan bahwa upaya adaptasi perubahan iklim yang sedang dikembangkan di Indonesia lebih mendukung pendekatan berbasis ketahanan dan kerentanan. Namun, upaya adaptasi ini pun masih menimbulkan nilai pro dan kontra di masyarakat, seperti pada pengembangan infrastruktur keras seperti tanggul laut raksasa di Jakarta atau integrase tanggul laut dan jalan tol di Semarang dan Demak. (Aminah AN, 2019)

BACA JUGA:  Hati-hati Jangan Jongkok di WC Duduk

Solusi lain yang juga sedang diterapkan oleh Indonesia yaitu penghijauan daerah sekitar pantai untuk mencegah terjadinya abrasi. Namun upaya penghijauan ini tidak dengan mudah mengurangi laju penurunan permukaan tanah di Indonesia. Hal ini dikarenakan laju penurunan permukaan tanah tidak hanya disebabkan oleh pemanasan global, tetapi juga karena adanya aktivitas ekstraksi air tanah yang terus terjadi. Selain itu, daerah Jakarta pun menanggung beban penurunan permukaan tanah karena laju pembangunan yang terus meningkat. Eksploitasi air tanah dapat menimbulkan bahaya genangan banjir dan semakin diperparah dengan ancaman kenaikan permukaan air laut. Beberapa studi di Mekong, Vietnam, menyatakan bahwa pada 2050 bagian Delta Mekong akan mengalami penurunan hingga 1 meter jika ekstraksi air tanah terus dilakukan (Erban LEE, Gorelick SM, dan Zebker HA, 2014; Minderhoud PSJ et al, 2017). Oleh karena itu, pengolahan air limbah untuk digunakan sebagai sumber air konsumsi menjadi solusi lain yang perlu dipertimbangkan oleh pemerintah di setiap provinsi di Indonesia.

BACA JUGA:  Hati-hati Jangan Jongkok di WC Duduk

Saat ini, kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta dan Medan, telah memiliki sistem instalasi pengolahan air limbah (IPAL) berskala besar. Sistem ini bertujuan untuk mengolah air limbah agar layak buang sehingga dapat mengurangi pencemaran air tanah dan sungai. Namun, di Jakarta, air limbah yang dihasilkan industri dan pekantoran masih belum bisa diolah hingga layak dikonsumsi. Meskipun pada tahun 2018 Pemprov DKI Jakarta mengumumkan inovasi pengolahan air limbah tinja menjadi air bersih, ternyata inovasi tersebut pun tidak ditujukan untuk mengolah air limbah menjadi air layak konsumsi. Hal tersebut disebabkan oleh konsen Perusahaan Daerah Pengelolaan Air Limbah (PAL Jaya) yang lebih untuk memenuhi parameter kualitas air limbah ketimbang memenuhi parameter kualitas air layak konsumsi. (Mamduh N, 2018; Amindoni A, 2018)

Pengolahan air limbah menjadi air layak konsumsi telah diterapkan di beberapa negara seperti Singapura, Orange County (California, Amerika Serikat), dan Queensland (Australia). Di Singapura, teknologi air olahan limbah yang diproduksi oleh Dewan Utilitas Publik Singapura dikenal dengan nama NEWater dan olahan tersebut layak dikonsumsi. Sistem pengolahan air limbah pun dilakukan di Orange County untuk mengatasi kondisi kekeringan yang berulang kali terjadi dan perubahan pada pasokan air. Sistem yang diterapkan di daerah tersebut dinamakan sebagai Groundwater Replenishment System (Sistem Penambahan Air Tanah). Sedangkan di Queensland sudah ada beberapa skema untuk mendaur ulang air, seperti skema penggunaan ulang air yang dikeluarkan oleh Dewan Regional Toowomba dan skema air daur ulang koridor barat di Queensland Tenggara. (Tortajada C dan Nambiar S, 2019)

BACA JUGA:  Istilah-Istilah Pinjaman Online yang Wajib Diketahui

Oleh karena itu, diperlukan kesadaran serta aturan dan sanksi yang tegas terutama kepada para pelaku bisnis dan industri untuk terlebih dahulu mengolah limbah agar memenuhi standar sanitasi sebelum dibuang. Apabila metode pengolahan ini dapat diterapkan pada kawasan pekantoran dan kawasan industri di Indonesia, terutama di Jakarta, penggunaan air dapat menjadi lebih hemat, kebutuhan makhluk hidup akan air bersih dapat terpenuhi, dan limbah air pun dapat berkurang. Dengan demikian, kegiatan ekstraksi air tanah yang sampai saat ini terus dilakukan dapat berkurang dan hal ini akan sangat membantu mengurangi beban penurunan permukaan tanah dalam keadaan pemanasan global ini.

Sherry Anastasya
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

Komentar

Berita lainnya