Bu Kartini, mungkin bangsa ini sangat butuh Ibu lagi.
Karena akibat polarisasi politik, kontestasi pilpres, hingga beragam argumen kebencian, semuanya bermuara pada rasa “hilangnya harapan akan suatu keadaan di depan yang lebih baik”. Sekarang ini Bu, banyak orang bicara tentang bangsa dan masa depan secara pesimis; ketimbang membangun ruang optimisme. Maka gak berlebihan, bila saya menulis surat ini buat Ibu dan menyebut kalimat “Indonesia hari ini sangat butuh Ibu, butuh perempuan”.

Ibu Kartini benar sekali.

Perjuangan Ibu tentang emansipasi sudah kelar di negeri ini. Kesetaraan gender pun sudah lama usai. Itu semua sudah menjadi nyata. Pemberdayaan perempuan sudah gak ada masalah, karena menterinya juga sudah ada. Tapi sayang Bu, hari ini masih banyak orang yang menjadikan emansipasi sebagai ambisi, bukan sikap. Sebenarnya dulu, Ibu mau apa sih dengan emansipasi?

Tapi Bu Kartini mungkin perlu tahu juga. Bersamaan dengan itu semua. Gak sedikit pula perempuan hari ini yang terjebak kepada gaya hidup yang berlebihan, pada konsumerisme tak berbatas, bahkan perilaku hedonisme yang kian menggila. Sementara kuota keterwakilan 30% politisi perempuan terus diperjuangkan. Tapi hidup dan penghidupan perempuan di negeri ini pun akhirnya digerayangi ketakutan. Ibu tahu gak? KDRT, kekerasan dalam pacaran, incest, marital rape, kekerasan seksual sangat menghantui kehidupan para perempuan. Koruptor perempuan pun makin banyak, apalagi politisi perempuan yang gak punya partai. Semua itu Bu, angka-angkanya meningkat terus.

Maka wajar Bu Kartini, narasi pesimisme jadi tumbuh harum mewangi di negeri ini. Apalagi bila dimanfaatkan untuk kepentingan politik. Seakan-akan kita ini “telah kehilangan harapan akan suatu keadaan di depan yang lebih baik”. Begitu kira-kira Bu …

Sekarang ini Bu. Makin banyak perempuan yang melawan daripada membangun. Gak sedikit yang berniat tapi gak ada aksi. Seolah berjuang tapi menentang. Menurut saya Bu, itu semua terjadi karena kecintaan pada dunia yang berlebihan. Ditambah lagi, suksesnya retorika untuk menghidupkan kapitalisme, budaya patriarki, jiwa etnosentrisme, perilaku intoleransi dan sejenisnya.

Bu Kartini, memang boleh bangga. Karena di negeri ini. Menjadi perempuan sukses, pintar dan kaya nyatanya gak susah. Tapi yang susah itu menjadi perempuan solehah; yang sadar bahwa “ada di dunia” untuk “tetap ada di akhirat”. Maka bila Ibu Kartini ada sekarang, mungkin semangat yang perlu dibangun adalah “membangun sikap, bukan membangun ambisi”.

Saya yakin. Dulu, Ibu Kartini berjuang untuk emansipasi pasti bukan atas dasar pemberontakan perempuan terhadap kodrat keperempuanan-nya. Agar jangan ada anak yang kesepian di rumah; atau merasa hanya punya “ibu semu”. Karena ibu aslinya, menurut anak-anak adalah internet.

Perjuangan Ibu Kartini sudah pas. Tapi ada yang belum diantisipasi.

Karena sejarah membuktikan. Ada perempuan-perempuan yang akhirnya gak bisa dibela oleh suaminya, seperti istri Nabi Nuh, istri Nabi Luth. Mereka terkena petaka karena ulahnya. Tapi ada pula para perempaun hebat seperti Siti Hajar, Siti Aisyah bahkan Zulaikha yang semasa hidupnya mengemban amanat mulia semasa di dunia untuk keperluan akhiratnya.

Jadi Bu, apa yang saya mau katakana kepada Ibu?

Penting hari ini untuk mengingatkan kaum Ibu. Bahwa introspeksi diri dan harapan harus selalu ada. Karena Kartini itu sikap, bukan ambisi. Maka tranformasi emansipatoris bukanlah untuk diri sendiri. Tapi lebih luas dari itu, untuk membangun harapan dan kemaslahatan bagi orang banyak. Agar kaum perempuan menjadi tempat dan kesempatan menghidupkan kembali solidaritas dan harapan di negeri ini.

Karena apapun yang terjadi, lebih baik kita menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan. Harapan bukan cercaan. Karena Kartini adalah sebuah sikap bukan ambisi. Terima kasih Bu Kartini.

Ditulis oleh Syarifudin Yunus

Leave a comment