Scroll untuk baca artikel
Dunia Kampus

Ada Apa dengan Mahasiswa Sekarang?

×

Ada Apa dengan Mahasiswa Sekarang?

Sebarkan artikel ini
Ada Apa dengan Mahasiswa Sekarang?

Oleh : Dina Agusnia dan Septia Amanda N. W, Mahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Di ruang-ruang kelas, para mahasiswa tampak sibuk mengejar nilai, tugas, dan berbagai target yang seolah tak ada habisnya. Namun di balik kesibukan itu, ada cerita lain yang jarang terlihat kecemasan yang dipendam, tekanan yang menumpuk, dan perasaan tidak pernah cukup. Ketika kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa kembali bermunculan, banyak orang mulai bertanya-tanya ada apa dengan mahasiswa sekarang?

Beberapa waktu terakhir, media sosial dipenuhi kabar mahasiswa yang mengakhiri hidupnya. Penyebabnya pun beragam seperti tekanan kuliah, perundungan, masalah finansial, hingga kekecewaan dalam hubungan. Semuanya tumpang tindih menjadi beban yang tak terlihat.

Farisa, mahasiswa Universitas Brawijaya (UB), mengakui bahwa tekanan akademik sering membuatnya kewalahan. “Rasanya kuliah sekarang itu cepat banget temponya. Baru selesai satu tugas, muncul tugas lainnya. Lama-lama capek, bukan karena susah, tapi karena nggak ada jedanya,” ujarnya.

Sementara itu, Bagas, mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM), mengungkap bahwa masalah pribadi dan ekonomi justru sering menjadi pemicu stres yang lebih besar. “Banyak teman saya yang terlihat baik-baik saja, padahal lagi kepikiran uang kos atau kerja sampingan. Ada juga yang lagi putus cinta tapi tetap dipaksa produktif. Kalau lagi jatuh, semuanya bisa numpuk,” katanya.

Dua cerita berbeda ini menunjukkan satu hal mahasiswa bukan hanya berhadapan dengan tugas kuliah, tetapi juga tekanan hidup yang jarang terlihat. Beberapa bahkan enggan bercerita karena takut dianggap lemah atau tidak mampu bersaing. Masalah perundungan pun masih muncul, meski sering dianggap sepele. Komentar menyakitkan, candaan berlebihan, hingga perbandingan dengan mahasiswa lain di media sosial bisa menjadi pemicu rasa rendah diri yang berlarut-larut.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pertanyaan “ada apa dengan mahasiswa sekarang?” bukan tentang generasi yang lemah, tetapi tentang lingkungan yang terlalu cepat berubah dan ekspetasi yang makin berat. Banyak mahasiswa akhirnya menyimpan semua tekanan itu sendiri karena takut mengecewakan orang tua, atau takut dianggap tidak mampu. Padahal, mereka hanya butuh tempat untuk bercerita tanpa dihakimi.

Pada akhirnya, mungkin solusi bukan hanya soal menyediakan layanan konseling atau seminar kesehatan mental, melainkan menciptakan ruang aman di mana mahasiswa bisa jujur tentang apa yang mereka rasakan tanpa takut dianggap lemah.