DEPOKPOS – Suara generasi muda Indonesia semakin lantang terdengar. Mereka produktif, kritis, dan kreatif. Tapi di saat yang sama, tak sedikit pula yang mencibir: “Gen Z manja,” “Kerjanya rebahan,” atau “Nggak tahan tekanan.” Padahal, di balik stereotip itu, ada realitas yang jauh lebih kompleks.
Sebelum buru-buru menghakimi, mungkin sudah saatnya kita mencoba memahami: apa saja tantangan nyata yang dihadapi Gen Z di tahun 2025 ini?
1. Karier dan Ekonomi: Muda, tapi Sudah Terhimpit
Di usia produktif, Gen Z menghadapi realitas ekonomi yang jauh dari kata mudah. Harga properti terus naik, biaya hidup melonjak, dan lapangan kerja makin kompetitif—terutama dengan hadirnya AI dan automasi.
Mereka dituntut harus punya pengalaman, portofolio, serta personal branding sejak dini. Padahal, tak semua punya akses pendidikan dan jaringan yang setara.
Generasi sebelumnya mungkin mulai kerja di umur 23, lalu bisa beli rumah di umur 30. Gen Z? Banyak yang masih berkutat dengan cicilan KPR hingga usia 40 bukan hal mustahil.
2. Tekanan dari Dunia Digital yang Tak Pernah Tidur
Gen Z adalah digital native. Tapi tumbuh dalam dunia yang serba online juga punya efek samping.
Notifikasi tiada henti, ekspektasi untuk tampil sempurna di media sosial, dan algoritma yang terus memompa informasi—semua itu membentuk lanskap psikologis yang sangat menantang.
Mereka hidup dalam tekanan konstan: harus produktif, harus terlihat bahagia, harus “berhasil” di usia muda. Ini bukan sekadar insecure biasa—tapi burnout, cemas berlebih, dan krisis identitas.
3. Harapan Tinggi, Dukungan Minim
Ironisnya, Gen Z sering diharapkan menjadi solusi atas berbagai persoalan dunia: aktif bersuara soal iklim, melek teknologi, progresif, peduli sosial, dan berani beda. Tapi di saat bersamaan, mereka juga sering diremehkan.
Alih-alih diberi ruang belajar dan berkembang, mereka justru dianggap tidak tahan banting ketika menunjukkan kelelahan mental. Padahal yang dibutuhkan bukan penilaian, tapi dukungan.
4. Cara Mereka Bertahan: Dari Thrifting sampai Digital Detox
Tapi Gen Z tidak tinggal diam. Mereka melawan tekanan ini dengan cara yang kreatif dan sadar diri. Mereka berani ambil jeda, memilih digital detox, dan menerapkan self-care bukan sebagai kemewahan, tapi kebutuhan.
Tren thrifting dan upcycling bukan hanya soal gaya, tapi juga wujud kepedulian terhadap keberlanjutan dan keuangan. Banyak pula yang aktif mengikuti komunitas kesehatan mental, berbagi cerita, dan saling mendukung secara online.
5. Jadi, Masih Mau Menghakimi?
Menjadi muda di tahun 2025 bukanlah perkara mudah. Mereka lahir dalam dunia yang bergerak cepat, penuh ketidakpastian, dan ekspektasi tinggi. Mengatakan mereka “lemah” hanya karena beda cara hidup, sama saja menutup mata terhadap realitas zaman.
Kita tak bisa membentuk generasi baru dengan standar lama. Gen Z tidak butuh dibentak atau dicibir—mereka butuh dimengerti, diberi ruang tumbuh, dan diperlakukan sebagai rekan perubahan, bukan sekadar anak-anak yang “belum cukup makan garam”.
Sebelum menghakimi Gen Z sebagai generasi manja, cobalah memahami tantangan yang mereka hadapi. Dunia telah berubah, dan mereka sedang berjuang keras di tengah pusaran perubahan itu. Bukan untuk menjadi sempurna, tapi untuk bertahan dan tetap menjadi diri sendiri.
Karena sejatinya, setiap generasi punya perjuangan sendiri. Dan Gen Z? Perjuangan mereka sungguh tak main-main.
Fajar Badawi
Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Pamulang


