Scroll untuk baca artikel
Opini

Lansia, Becak Listrik dan Abainya Perlindungan serta Pelayanan Negara

×

Lansia, Becak Listrik dan Abainya Perlindungan serta Pelayanan Negara

Sebarkan artikel ini

Oleh: Pudji Arijanti, Pegiat Literasi untuk Peradaban

Lansia, Becak Listrik dan Abainya Perlindungan serta Pelayanan Negara

DEPOKPOS – Presiden memberikan bantuan 120 unit becak listrik kepada tukang becak lanjut usia dan tablet pintar anak-anak sekolah dasar di kota. Bantuan ini menggunakan dana pribadi Presiden melalui Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN).

Penerima manfaat disasar yang sudah lanjut usia, dengan harapan dapat mengurangi beban fisik sekaligus  produktivitas mereka. Serta, menambah pendapatan dan kesejahteraan keluarga (berita.depok.go.id, 6 Oktober 2026).

Kemiskinan Kronis

Sepintas, pembagian becak listrik terkesan kebijakan humanis. Sehingga, becak listrik dianggap mampu menjadi solusi bagi warga miskin dalam memenuhi kebutuhan hidup dalam sistem kapitalis. Bagi warga miskin bantuan dari pemerintah memang sangat diharapkan. Walaupun sebenarnya, bantuan tersebut bersifat sementara.

Sistem kapitalisme sekuler rakyatnya disetel untuk terus bekerja, tanpa ada jaminan sejahtera di hari tua. Sehingga, penggunaan becak listrik diharapkan dapat mengurangi beban fisik sekaligus meningkatkan produktivitas mereka.

Mengganti becak kayuh dengan becak listrik memang mengurangi beban fisik. Namun, yang perlu diperhatikan, apakah juga mampu mengurangi beban  ekonomi mereka? Sedangkan persaingan transportasi online juga menjamur di kota-kota, bahkan tata ruang yang tidak ramah becak.

Lebih jauh, becak listrik juga menambah beban pengeluaran. Perlu perawatan suku cadang, biaya pengisian daya dan lain-lain. Tanpa bantuan sumber daya yang stabil becak listrik jelas akan menjadi beban baru bagi penerimanya.

Solusi Hakiki

Dalam politik Islam, tujuan pengelolaan ekonomi bukan sekadar meningkatkan kemampuan masyarakat untuk bekerja, akan tetapi menjamin terpenuhinya kebutuhan rakyat dengan menerapkan sistem  ekonomi yang mampu menyejahterakan.

Dalam Islam negara wajib memenuhi kebutuhan dasar rakyat berupa sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, keamanan. Mekanisme pelaksanaannya melalui politik Islam, sehingga tujuan ekonomi Islam tercapai dalam menjamin terpenuhinya kebutuhan rakyat dan mampu menyejahterakan seluruh rakyat.

Di samping itu, negara membuka lapangan kerja produktif seluas-luasnya di sektor-sektor riil. Dalam hal ini, penguasa tidak membiarkan rakyat bekerja di sektor informal seperti mengayuh becak dan sebagainya.

SDA milik umum dikelola negara hasilnya dikembalikan pada rakyat sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Sehingga negara memiliki dana melalui APBN baitulmal memberdayakan rakyat tanpa bergantung pada program bansos.

Dengan demikian, seluruh kebutuhan rakyat terpenuhi. Lansia tidak perlu lagi kerja keras menguras fisik, karena negara menjamin masa tuanya dengan sungguh-sungguh.

Sesungguhnya, kebijakan negara dalam sistem kapitalisme adalah kebijakan penuh pencitraan. Penguasa tidak hadir dengan sungguh-sungguh untuk mensejahterakan rakyat. Rakyat miskin tetap bergulat dengan kemiskinannya dan dibiarkan bertarung dengan raksasa kapitalisme dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Hanya Islam, memiliki sistem politik sempurna yang selalu hadir dengan sungguh-sungguh dalam setiap kesulitan rakyatnya. Sistem Islam yang pernah diperjuangkan oleh Rasulullah SAW, dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin hingga menjadi sebuah sistem yang menaungi seluruh umat 13 abad lamanya. Kenapa kita masih meragukannya? Saatnya kembali pada politik Islam, berjuang bersama kelompok ideologis yang memperjuangkan hak-hak rakyat secara hakiki.

Pudji Arijanti
Pegiat Literasi untuk Peradaban