Scroll untuk baca artikel
Artikel

Ketidakseimbangan Jumlah Karyawan dan Beban Kerja: Persoalan yang Kerap Terabaikan Perusahaan

×

Ketidakseimbangan Jumlah Karyawan dan Beban Kerja: Persoalan yang Kerap Terabaikan Perusahaan

Sebarkan artikel ini
Ketidakseimbangan Jumlah Karyawan dan Beban Kerja: Persoalan yang Kerap Terabaikan Perusahaan

DEPOKPOS – Dalam menjalankan kegiatan operasional, perusahaan membutuhkan sumber daya manusia yang mampu mendukung pencapaian target dan menjaga kualitas pekerjaan.

Namun, dalam praktiknya, perusahaan sering dihadapkan pada tuntutan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya operasional.

Kondisi ini terkadang membuat perusahaan kurang memperhatikan keseimbangan antara jumlah karyawan dan pekerjaan yang harus diselesaikan.

Padahal, perencanaan tenaga kerja yang tepat merupakan salah satu faktor penting agar kegiatan operasional berjalan lancar dan karyawan dapat bekerja secara optimal.

Peningkatan jumlah pekerjaan tidak selalu diikuti dengan penambahan tenaga kerja.

Akibatnya, karyawan harus menyelesaikan lebih banyak tugas dengan jumlah anggota tim yang tetap.

Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, tekanan kerja dapat meningkat dan kualitas pekerjaan berisiko menurun.

Menurut saya, salah satu persoalan yang perlu diperhatikan adalah kecenderungan perusahaan mengutamakan penghematan biaya tenaga kerja tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang.

Penghematan gaji mungkin terlihat menguntungkan, tetapi dapat menimbulkan masalah apabila pekerjaan menumpuk, kesalahan meningkat, dan pelayanan kepada pelanggan menjadi lambat.

Ketidakseimbangan tersebut dapat disebabkan oleh perencanaan kebutuhan karyawan yang kurang tepat, pembagian tugas yang tidak merata, serta posisi kosong yang tidak segera digantikan.

Karena itu, perusahaan perlu mengevaluasi volume pekerjaan, waktu penyelesaian tugas, dan kemampuan karyawan secara berkala.

Pentingnya pengaturan waktu kerja juga terlihat dalam laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO).

Pada 2021, kedua lembaga tersebut melaporkan bahwa bekerja selama 55 jam atau lebih per minggu berkaitan dengan risiko stroke 35 persen lebih tinggi dan risiko kematian akibat penyakit jantung iskemik 17 persen lebih tinggi dibandingkan dengan bekerja selama 35–40 jam per minggu (WHO & ILO, 2021).

Sementara itu, penelitian Aiken et al. (2014) terhadap 300 rumah sakit di sembilan negara Eropa menemukan bahwa setiap tambahan satu pasien dalam beban kerja perawat berkaitan dengan peningkatan sekitar 7 persen pada peluang kematian pasien dalam 30 hari setelah operasi.

Walaupun penelitian tersebut berfokus pada sektor kesehatan, hasilnya menunjukkan bahwa kapasitas tenaga kerja perlu diperhatikan untuk menjaga kualitas pekerjaan.

Dalam pengelolaan SDM, perusahaan seharusnya tidak langsung menyalahkan karyawan ketika target tidak tercapai. Evaluasi juga perlu dilakukan terhadap jumlah tugas, pembagian tanggung jawab, batas waktu, dan sumber daya yang tersedia.

Bakker dan Demerouti (2007) melalui model Job Demands–Resources menjelaskan bahwa tuntutan pekerjaan yang tinggi dapat meningkatkan risiko kelelahan apabila tidak didukung sumber daya yang memadai.

Menurut saya, efisiensi bukan berarti menggunakan tenaga kerja sesedikit mungkin, melainkan memanfaatkan sumber daya secara proporsional untuk mencapai hasil yang berkualitas.

Perusahaan dapat memperbaiki pembagian tugas, mengevaluasi kebutuhan tenaga kerja, menyederhanakan proses kerja, dan memanfaatkan teknologi.

Jika kapasitas karyawan secara konsisten tidak mencukupi, penambahan tenaga kerja juga perlu dipertimbangkan.

Pada akhirnya, ketidakseimbangan jumlah karyawan dan beban kerja tidak hanya berkaitan dengan kemampuan individu, tetapi juga dengan ketepatan perencanaan SDM.

Perusahaan perlu menyeimbangkan pengendalian biaya, produktivitas, kualitas pekerjaan, dan kesejahteraan karyawan.

Dengan demikian, efisiensi dapat dicapai tanpa mengorbankan keberlangsungan operasional perusahaan.

Eki Kurniawan
Mahasiswa Universitas Pamulang prodi manajemen