Oleh Intan Ayu Lestari
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, perusahaan tidak hanya dituntut untuk mengikuti perubahan teknologi, tetapi juga harus menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengikutinya. Menurut saya, hal ini menjadi salah satu tantangan dalam perencanaan sumber daya manusia (SDM) saat ini.
Selama ini, ketika perusahaan membutuhkan tenaga kerja, langkah yang sering dilakukan adalah membuka lowongan dan mencari karyawan baru. Cara tersebut memang masih diperlukan, tetapi sebenarnya perusahaan juga perlu melihat karyawan yang sudah ada. Jangan sampai perusahaan lebih sering mencari orang baru daripada mengembangkan kemampuan karyawan yang sudah dimiliki.
Perubahan teknologi membuat kebutuhan pekerjaan juga ikut berubah. Pekerjaan yang sebelumnya dilakukan secara manual sekarang mulai menggunakan berbagai sistem digital. Karena itu, karyawan tidak cukup hanya memiliki kemampuan untuk mengerjakan pekerjaan saat ini, tetapi juga perlu belajar kemampuan baru.
Hal ini sejalan dengan laporan World Economic Forum (WEF) dalam Future of Jobs Report 2025 yang memperkirakan sekitar 39% keterampilan utama pekerja akan mengalami perubahan sampai tahun 2030. Kemampuan seperti literasi teknologi, berpikir kreatif, kemampuan beradaptasi, serta kemauan untuk terus belajar menjadi semakin penting.
Di Indonesia sendiri, berdasarkan data BPS dari Sakernas Februari 2026, jumlah angkatan kerja mencapai sekitar 154,91 juta orang dengan Tingkat Pengangguran Terbuka sebesar 4,68 persen. Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan tenaga kerja bukan hanya mengenai ada atau tidaknya orang yang mencari pekerjaan, tetapi juga bagaimana kebutuhan perusahaan dapat sesuai dengan kemampuan tenaga kerja yang tersedia.
Menurut saya, di sinilah perencanaan SDM memiliki peran penting. Perusahaan seharusnya tidak hanya merencanakan berapa banyak karyawan yang dibutuhkan, tetapi juga memikirkan kemampuan apa yang akan dibutuhkan di masa depan. Dengan begitu, perusahaan bisa mempersiapkan karyawan melalui pelatihan atau pengembangan kemampuan sebelum benar-benar membutuhkan tenaga baru.
Perusahaan juga tidak harus selalu mengganti karyawan ketika muncul kebutuhan baru. Jika karyawan yang ada masih memiliki potensi, mereka dapat diberikan kesempatan untuk belajar dan menyesuaikan diri dengan perubahan pekerjaan. Cara seperti ini juga dapat membuat karyawan merasa bahwa perusahaan memberikan kesempatan untuk berkembang.
Jadi, menurut saya, perencanaan SDM di era digital bukan hanya tentang mencari karyawan ketika perusahaan sedang membutuhkan. Yang tidak kalah penting adalah menyiapkan karyawan agar mampu menghadapi kebutuhan perusahaan di masa yang akan datang.
Pada akhirnya, perusahaan perlu mulai mengubah cara pandangnya. Bukan hanya bertanya, “Berapa karyawan yang kita butuhkan?”, tetapi juga “Apakah karyawan yang kita punya sudah siap menghadapi perubahan?” Karena karyawan yang dipersiapkan dengan baik bisa menjadi salah satu kekuatan perusahaan untuk menghadapi perubahan di masa depan.
