Scroll untuk baca artikel
Ekonomi

Ujian Manajemen Krisis Bisnis Jawa-Sumatra saat Erupsi Anak Krakatau

×

Ujian Manajemen Krisis Bisnis Jawa-Sumatra saat Erupsi Anak Krakatau

Sebarkan artikel ini

Oleh: Muhammad Habib Adyuda, Mahasiswa Universitas Pamulang, Program Studi Manajemen

Ujian Manajemen Krisis Bisnis Jawa-Sumatra saat Erupsi Anak Krakatau

DEPOKPOS – Aktivitas Anak Krakatau kini menjadi sorotan media, yang membawa bencana bagi keberlangsungan hidup dan dunia usaha. Sebagai suatu “penjaga” batasan antar pulau Jawa dan Sumatra maupun Selat Sunda, yang dimana pada setiap dinamika erupsi Anak Krakatau juga berdampak langsung pada kelancaran jalur penyebrangan antara Merak-Bakauheni. Jalur vital yang menghubungkan lebih dari 60% arus bahan baku dan logistik dari insdustri antara kedua pulau tersebut.

Disaat akses penyebrangan tersebut itu terganggu atau bahkan terancam ditutup karena adanya ancaman bencana alam yang berupa aktivitas vulkanik Anak Krakatau, ratusan hingga ribuan pelaku pengusaha dari skala UMKM mikro hingga korporasi besar akan mendadak berada di posisi yang rentan.

Kondisi ini menunjukan bahwa rentannya atau rapuhnya rantai pasokan kita apabila tidak dibentengi dengan kesiapan yang matang. Pada momen inilah, penerapan prinsip manajemen krisis dan Business Continuity Plan (BCP) menjadi inti atau krusial. Bukan hanya sekedar teori pada sebuah kertas, melainkan ini menjadi sebuah penentu apakah sebuah bisnis dapat bertahan atau gulung tikar disaat bencana melanda.

Ketika Bencana Menjadi Masalah Manajemen Bisnis

Bencana alam memang tidak dapat diprediksi dan dikendalikan sepenuhnya oleh manusia. Namun, dampak yang ditimbulkan terhadap sebuah bisnis sebenarnya dapat dipersiapkan sejak awal. Menurut saya, di sinilah kemampuan manajemen sebuah perusahaan benar-benar diuji. Manajemen yang baik bukan hanya terlihat ketika perusahaan mampu memperoleh keuntungan dalam kondisi normal, tetapi juga ketika perusahaan mampu mengambil keputusan yang tepat di tengah situasi yang tidak pasti.

Bayangkan sebuah perusahaan di Jakarta atau Banten membutuhkan bahan baku yang dikirim dari Sumatra. Dalam kondisi normal, barang dapat dikirim melalui jalur Bakauheni-Merak sesuai jadwal. Namun, apabila aktivitas Anak Krakatau menyebabkan pembatasan atau gangguan penyeberangan, proses pengiriman bisa mengalami keterlambatan.

Masalah tersebut kemudian dapat menimbulkan efek domino. Bahan baku terlambat membuat produksi ikut terlambat. Produksi yang terlambat menyebabkan distribusi barang kepada konsumen terganggu. Jika kondisi tersebut berlangsung lama, perusahaan dapat mengalami penurunan penjualan bahkan kerugian.

Bagi perusahaan besar, kondisi tersebut mungkin masih dapat ditangani dengan cadangan persediaan atau jalur distribusi alternatif. Namun, bagi UMKM yang memiliki modal, persediaan, dan jaringan distribusi terbatas, gangguan beberapa hari saja bisa memberikan dampak yang jauh lebih besar.

Hal ini membuktikan bahwa bencana alam bukan hanya persoalan keselamatan dan lingkungan, tetapi juga menjadi bagian dari risiko bisnis yang perlu diperhitungkan oleh setiap pelaku usaha.

Business Continuity Plan Bukan Sekadar Rencana Cadangan

Dalam kondisi seperti ini, Business Continuity Plan atau BCP menjadi penting. Secara sederhana, BCP merupakan perencanaan yang disiapkan agar aktivitas utama perusahaan tetap dapat berjalan ketika terjadi gangguan atau keadaan darurat.

Menurut saya, masih banyak pelaku usaha yang menganggap perencanaan menghadapi bencana hanya diperlukan oleh perusahaan besar. Padahal, konsep ini juga dapat diterapkan oleh UMKM dalam bentuk yang lebih sederhana.

Misalnya, sebuah usaha tidak hanya bergantung kepada satu pemasok bahan baku. Pelaku usaha dapat memiliki pemasok alternatif dari wilayah yang berbeda. Perusahaan juga dapat menyediakan persediaan bahan baku untuk beberapa hari ke depan, menyiapkan dana darurat, menyimpan data penting secara digital, serta mempunyai pilihan jalur distribusi lain jika jalur utama mengalami gangguan.

Hal sederhana seperti ini dapat menjadi penyelamat ketika keadaan yang tidak diinginkan benar-benar terjadi.

BCP bukan berarti perusahaan harus mengetahui kapan bencana akan terjadi. Tujuan utamanya adalah memastikan bahwa perusahaan mengetahui apa yang harus dilakukan ketika bencana terjadi.

Manajemen Krisis Menguji Kecepatan Pengambilan Keputusan

Selain perencanaan, kemampuan seorang manajer dalam mengambil keputusan juga menjadi hal yang penting. Dalam situasi krisis, keputusan sering kali harus dibuat dalam waktu singkat dan dengan informasi yang terbatas.

Misalnya, ketika jalur Merak-Bakauheni mengalami gangguan, manajemen harus segera menentukan apakah pengiriman akan ditunda, dialihkan melalui jalur lain, atau menggunakan persediaan yang tersedia terlebih dahulu. Keputusan tersebut tentu memiliki konsekuensi terhadap biaya maupun waktu.

Di sinilah fungsi manajemen seperti planning, organizing, actuating, dan controlling (POAC) dapat diterapkan.

Planning diperlukan untuk mempersiapkan skenario sebelum krisis terjadi. Organizing diperlukan untuk menentukan pembagian tugas dan tanggung jawab setiap bagian perusahaan ketika menghadapi keadaan darurat. Actuating diperlukan agar rencana yang sudah dibuat benar-benar dilaksanakan. Sementara itu, controlling digunakan untuk mengawasi kondisi dan mengevaluasi apakah strategi yang diterapkan sudah efektif.

Dengan demikian, teori manajemen yang dipelajari di ruang kelas sebenarnya sangat dekat dengan kondisi nyata di lapangan. Erupsi Anak Krakatau dapat menjadi salah satu contoh bagaimana fungsi manajemen dibutuhkan ketika perusahaan menghadapi situasi di luar kendalinya.

Jangan Menunggu Bencana untuk Mulai Bersiap

Menurut saya, salah satu kesalahan dalam dunia bisnis adalah terlalu fokus terhadap keuntungan dan pertumbuhan tetapi melupakan kemungkinan terjadinya gangguan. Ketika bisnis berjalan lancar, perencanaan krisis sering dianggap sebagai sesuatu yang tidak terlalu penting.

Padahal, Indonesia merupakan negara yang memiliki risiko bencana alam cukup tinggi. Gunung api, gempa bumi, banjir, tanah longsor, hingga tsunami dapat terjadi dan secara langsung maupun tidak langsung memengaruhi aktivitas bisnis.

Kasus Anak Krakatau seharusnya menjadi pengingat bagi perusahaan yang menjalankan aktivitasnya di jalur Jawa-Sumatra. Ketergantungan yang terlalu besar terhadap satu jalur distribusi dapat menjadi kelemahan ketika jalur tersebut mengalami gangguan.

Perusahaan perlu mulai memikirkan diversifikasi pemasok, alternatif transportasi, persediaan darurat, perlindungan aset, komunikasi dengan pelanggan, hingga sistem kerja yang dapat menyesuaikan diri dengan keadaan.

Bagi UMKM, langkah tersebut tidak harus mahal. Memiliki kontak lebih dari satu pemasok, menyisihkan sebagian keuntungan sebagai dana darurat, mencatat persediaan dengan baik, serta memiliki alternatif jasa pengiriman sudah menjadi langkah awal dalam membangun bisnis yang lebih siap menghadapi krisis.

Bencana Tidak Bisa Dicegah, Kerugian Bisa Ditekan

Pada akhirnya, aktivitas Anak Krakatau memberikan pelajaran bahwa manajemen bisnis tidak hanya berbicara mengenai bagaimana mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Manajemen juga berbicara mengenai bagaimana menjaga sebuah usaha agar tetap bertahan ketika kondisi tidak berjalan sesuai rencana.

Erupsi mungkin tidak dapat dihentikan oleh pelaku bisnis. Begitu pula dengan gempa bumi, tsunami, banjir, maupun bencana lainnya. Namun, besarnya dampak terhadap perusahaan dapat ditekan melalui perencanaan dan manajemen risiko yang matang.

Menurut saya, ukuran bisnis yang kuat bukanlah bisnis yang tidak pernah mengalami masalah, melainkan bisnis yang mampu beradaptasi ketika masalah datang. Business Continuity Plan, manajemen krisis, dan penerapan fungsi POAC dapat menjadi benteng bagi perusahaan dalam menghadapi kondisi tersebut.

Anak Krakatau pada akhirnya bukan hanya menjadi pengingat mengenai kekuatan alam yang berada di antara Jawa dan Sumatra. Aktivitasnya juga memberikan peringatan kepada dunia usaha bahwa keberlangsungan bisnis tidak boleh hanya bergantung pada keadaan yang selalu berjalan normal.

Karena dalam bisnis, pertanyaannya bukan hanya “berapa besar keuntungan yang bisa diperoleh hari ini?”, tetapi juga “seberapa siap bisnis kita ketika keadaan tidak lagi berjalan sesuai rencana?”

Muhammad Habib Adyuda, Mahasiswa Universitas Pamulang, Program Studi Manajemen