Scroll untuk baca artikel
Artikel

Perusahaan Mencari Karyawan atau Mencari Kompetensi?

×

Perusahaan Mencari Karyawan atau Mencari Kompetensi?

Sebarkan artikel ini

Oleh Muhammad Agung Ferdiansyah, mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Pamulang

Perusahaan Mencari Karyawan atau Mencari Kompetensi?

DEPOKPOS – Ketika sebuah perusahaan membuka lowongan pekerjaan, kita sering melihat berbagai persyaratan yang cukup banyak. Ada yang meminta pendidikan tertentu, pengalaman kerja, kemampuan menggunakan teknologi, kemampuan berkomunikasi, sampai kemampuan bekerja dalam tim. Dari sini muncul pertanyaan sederhana: sebenarnya perusahaan sedang mencari karyawan atau sedang mencari kompetensi? Menurut saya, perusahaan memang membutuhkan karyawan, tetapi yang jauh lebih penting adalah mendapatkan orang yang memiliki kemampuan sesuai dengan pekerjaan yang akan dilakukan.

Karyawan merupakan bagian penting dalam menjalankan sebuah perusahaan. Sebagus apa pun produk yang dibuat, secanggih apa pun teknologi yang digunakan, dan sebesar apa pun modal yang dimiliki, semuanya tetap membutuhkan manusia untuk menjalankannya. Namun, memiliki banyak karyawan tidak otomatis membuat perusahaan menjadi lebih maju. Jika jumlah karyawan banyak tetapi kemampuan yang dimiliki tidak sesuai dengan kebutuhan pekerjaan, perusahaan justru dapat mengalami masalah dalam produktivitas, biaya, dan pencapaian target.

Indonesia Memiliki Banyak Tenaga Kerja, tetapi Apakah Sudah Sesuai dengan Kebutuhan Perusahaan?

Indonesia sebenarnya memiliki jumlah tenaga kerja yang sangat besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Agustus 2025 jumlah angkatan kerja Indonesia mencapai 154,00 juta orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 146,54 juta orang sudah bekerja. Tingkat Pengangguran Terbuka berada pada angka 4,85 persen, sedangkan rata-rata upah buruh mencapai Rp3,33 juta per bulan. Dibandingkan Agustus 2024, jumlah penduduk yang bekerja meningkat sekitar 1,90 juta orang.

Angka tersebut menunjukkan bahwa Indonesia mempunyai jumlah manusia yang sangat besar yang terlibat dalam dunia kerja. Namun, menurut saya, data tersebut juga mengingatkan kita bahwa persoalan dunia kerja bukan hanya mengenai ada atau tidaknya orang yang bekerja. Perusahaan tetap harus mencari orang yang memiliki kemampuan sesuai dengan kebutuhan pekerjaan. Dengan kata lain, banyaknya tenaga kerja belum tentu sama dengan tersedianya kompetensi yang dibutuhkan perusahaan.

Di sinilah perencanaan SDM menjadi penting. Perusahaan perlu mengetahui terlebih dahulu pekerjaan apa yang membutuhkan tenaga tambahan, kemampuan apa yang diperlukan, serta apakah kebutuhan tersebut dapat dipenuhi oleh karyawan yang sudah ada atau harus mencari orang baru.

Banyak Karyawan Belum Tentu Banyak Kompetensi

Salah satu kesalahan yang mungkin terjadi dalam pengelolaan SDM adalah menganggap bahwa semakin banyak karyawan maka semakin besar pula kemampuan perusahaan. Padahal, belum tentu seperti itu.

Bayangkan sebuah perusahaan memiliki banyak karyawan, tetapi hanya beberapa orang yang mampu mengoperasikan sistem tertentu. Ketika orang-orang tersebut tidak masuk atau meninggalkan perusahaan, pekerjaan dapat terganggu. Dari contoh sederhana ini terlihat bahwa perusahaan sebenarnya tidak hanya membutuhkan jumlah orang, tetapi juga membutuhkan penyebaran kemampuan yang tepat.

Karena itu, perusahaan seharusnya tidak hanya bertanya, “Berapa orang yang harus direkrut?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Kemampuan apa yang sedang kita butuhkan?” Setelah mengetahui jawabannya, perusahaan baru dapat menentukan apakah perlu merekrut orang baru, memberikan pelatihan kepada karyawan yang sudah ada, atau melakukan pembagian pekerjaan yang berbeda.

Jangan Asal Merekrut Ketika Pekerjaan Bertambah

Ketika pekerjaan meningkat, menambah karyawan memang bisa menjadi salah satu solusi. Namun, menurut saya, perusahaan tidak seharusnya langsung mengambil keputusan hanya berdasarkan jumlah pekerjaan yang bertambah.

Misalnya, sebuah perusahaan mengalami peningkatan pesanan sebesar 30 persen. Apakah jumlah karyawan juga harus langsung bertambah 30 persen? Belum tentu. Perusahaan perlu melihat terlebih dahulu produktivitas karyawan, pembagian pekerjaan, kemampuan peralatan, penggunaan teknologi, jam kerja, dan proses kerja yang selama ini dilakukan.

Jika masalahnya ternyata bukan kekurangan orang, tetapi cara kerja yang belum efektif, menambah karyawan justru dapat meningkatkan biaya tanpa menyelesaikan masalah utama. Sebaliknya, jika perusahaan benar-benar kekurangan tenaga kerja dengan kemampuan tertentu, perekrutan memang diperlukan.

Menurut saya, inilah alasan mengapa perencanaan SDM tidak boleh dilakukan secara asal. Perusahaan harus mampu membedakan antara kekurangan jumlah karyawan dan kekurangan kompetensi. Keduanya merupakan masalah yang berbeda dan membutuhkan penyelesaian yang berbeda pula.

Dunia Kerja Berubah, Kompetensi Juga Ikut Berubah

Persoalan kompetensi menjadi semakin penting karena dunia kerja terus mengalami perubahan. Teknologi membuat banyak pekerjaan berubah, mulai dari cara berkomunikasi, mengolah data, melayani pelanggan, sampai menyelesaikan pekerjaan sehari-hari.

World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 memperkirakan bahwa hingga tahun 2030 akan tercipta sekitar 170 juta pekerjaan baru secara global, sementara sekitar 92 juta pekerjaan dapat tergeser. Secara keseluruhan, laporan tersebut memperkirakan adanya pertambahan bersih sekitar 78 juta pekerjaan. Laporan yang sama juga menyebutkan bahwa sekitar 63 persen perusahaan yang disurvei melihat kesenjangan keterampilan sebagai salah satu hambatan utama dalam melakukan perubahan bisnis.

Data tersebut menarik karena menunjukkan bahwa perubahan dunia kerja bukan berarti pekerjaan manusia akan hilang seluruhnya. Justru akan muncul jenis pekerjaan baru yang membutuhkan kemampuan berbeda. WEF juga memperkirakan hampir 40 persen keterampilan yang dibutuhkan dalam pekerjaan akan berubah hingga 2030. Kemampuan teknologi seperti AI, data besar, dan keamanan siber diperkirakan semakin dibutuhkan, tetapi kemampuan manusia seperti berpikir analitis, kreativitas, ketahanan, kepemimpinan, dan kerja sama tetap penting.

Bagi perusahaan, kondisi tersebut berarti perencanaan SDM tidak bisa hanya dilakukan untuk kebutuhan hari ini. Perusahaan juga harus memikirkan kemampuan apa yang akan dibutuhkan beberapa tahun ke depan.

Tidak Selalu Harus Mencari Orang Baru

Ketika perusahaan membutuhkan kemampuan baru, membuka lowongan memang menjadi salah satu pilihan. Namun, menurut saya, perusahaan juga perlu melihat kemampuan karyawan yang sudah dimiliki.

Bisa saja perusahaan memiliki karyawan yang sebenarnya mempunyai potensi, tetapi belum memiliki kemampuan yang lengkap. Dalam keadaan seperti ini, pelatihan dan pengembangan dapat menjadi pilihan. Karyawan dapat diberikan kesempatan untuk belajar menggunakan teknologi baru, meningkatkan kemampuan komunikasi, mempelajari pekerjaan lain, atau mengambil tanggung jawab yang lebih besar.

Cara tersebut juga sejalan dengan gambaran perubahan dunia kerja yang disampaikan WEF. Dalam laporannya, 77 persen pemberi kerja yang disurvei berencana melakukan peningkatan atau pengembangan keterampilan tenaga kerja mereka sebagai salah satu respons terhadap perubahan teknologi dan pekerjaan.

Menurut saya, data tersebut menunjukkan bahwa pengembangan karyawan bukan sesuatu yang bisa dianggap sebagai kegiatan tambahan saja. Ketika pekerjaan berubah, kemampuan orang yang mengerjakannya juga perlu ikut berkembang.

Salah Memilih Karyawan Bisa Menjadi Masalah

Mencari karyawan yang tepat juga bukan hanya soal melihat ijazah dan pengalaman kerja. Dua orang yang memiliki pendidikan dan pengalaman yang hampir sama belum tentu mempunyai kemampuan yang sama ketika menghadapi pekerjaan.

Ada orang yang memiliki kemampuan teknis sangat baik tetapi kesulitan bekerja dalam kelompok. Ada juga orang yang pengalamannya belum terlalu panjang, tetapi cepat belajar, mudah menyesuaikan diri, dan mampu bekerja sama dengan orang lain.

Karena itu, perusahaan perlu melihat calon karyawan secara lebih menyeluruh. Kemampuan teknis memang penting, tetapi kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, menyelesaikan masalah, bertanggung jawab, dan mau belajar juga perlu diperhatikan.

Kesalahan dalam memilih orang dapat menimbulkan masalah yang cukup panjang. Pekerjaan dapat menjadi lambat, karyawan lain harus membantu menyelesaikan pekerjaan yang tidak selesai, dan perusahaan mungkin harus mengeluarkan biaya lagi untuk mencari pengganti.

Mahasiswa Juga Harus Memikirkan Kompetensi

Pembahasan mengenai kompetensi sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan perusahaan. Bagi mahasiswa, hal ini juga sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Selama kuliah, mahasiswa sering kali lebih fokus pada nilai dan menyelesaikan tugas. Hal tersebut memang penting, tetapi menurut saya belum cukup untuk menghadapi dunia kerja. Mahasiswa juga perlu membangun kemampuan yang dapat digunakan ketika sudah bekerja.

Kemampuan berbicara di depan orang lain, bekerja dalam kelompok, menggunakan teknologi, mengolah informasi, menyelesaikan masalah, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru merupakan beberapa kemampuan yang dapat dilatih sejak masih kuliah.

Data mengenai perubahan pekerjaan juga menjadi pengingat bagi mahasiswa bahwa dunia kerja tidak selalu sama. Pekerjaan yang dibutuhkan perusahaan beberapa tahun ke depan bisa berbeda dengan pekerjaan yang banyak dicari saat ini. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki kemauan untuk terus belajar.

Menurut saya, jangan sampai seseorang merasa cukup hanya karena sudah memiliki ijazah. Ijazah memang penting, tetapi kemampuan untuk menggunakan ilmu dan menyesuaikannya dengan kebutuhan pekerjaan juga sangat diperlukan.

Perencanaan SDM Harus Melihat Masa Depan

Perusahaan yang ingin berkembang perlu memikirkan kebutuhan SDM untuk masa depan. Jika ada karyawan yang akan pensiun, perusahaan dapat mempersiapkan calon penggantinya. Jika ada teknologi baru yang akan digunakan, pelatihan dapat diberikan sebelum teknologi tersebut diterapkan. Jika perusahaan berencana membuka cabang baru, kebutuhan tenaga kerja juga dapat dihitung sejak awal.

Dengan cara seperti itu, perusahaan tidak selalu berada dalam keadaan terburu-buru. Perusahaan memiliki waktu untuk mencari, memilih, dan mempersiapkan orang yang tepat.

Perencanaan SDM juga dapat membantu perusahaan menghindari dua kondisi yang sama-sama merugikan. Pertama, terlalu banyak karyawan pada posisi yang tidak terlalu membutuhkan tambahan tenaga. Kedua, kekurangan orang pada posisi penting yang justru dibutuhkan untuk menjalankan kegiatan perusahaan.

Jadi, perencanaan SDM bukan hanya tentang jumlah karyawan, tetapi juga tentang kualitas, kompetensi, posisi, waktu, dan kebutuhan perusahaan di masa depan.

Perusahaan Tidak Hanya Membutuhkan Orang, tetapi Kemampuan

Menurut saya, perusahaan memang membutuhkan karyawan. Namun, karyawan yang dibutuhkan bukan sekadar orang yang hadir dan menjalankan pekerjaan. Perusahaan membutuhkan orang yang mempunyai kemampuan sesuai dengan pekerjaannya dan mampu berkembang mengikuti perubahan.

Data BPS menunjukkan bahwa Indonesia mempunyai 154 juta angkatan kerja dan 146,54 juta penduduk yang bekerja pada Agustus 2025. Di sisi lain, WEF memperkirakan dunia kerja akan mengalami perubahan besar hingga 2030, dengan sekitar 170 juta pekerjaan baru dan 92 juta pekerjaan yang tergeser secara global.

Dua data tersebut memberikan gambaran bahwa persoalan SDM tidak berhenti pada jumlah manusia yang tersedia. Perusahaan juga harus memikirkan kemampuan yang dimiliki manusia tersebut. Jumlah tenaga kerja yang besar harus diikuti dengan kemampuan yang sesuai agar dapat menjawab kebutuhan dunia kerja yang terus berubah.

Pada akhirnya, perusahaan yang ingin berkembang tidak cukup hanya bertanya, “Berapa orang yang harus kita rekrut?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Kemampuan apa yang kita butuhkan untuk membawa perusahaan ke masa depan?”

Bagi mahasiswa, pertanyaan tersebut juga dapat menjadi bahan untuk melihat diri sendiri. Ketika nanti masuk ke dunia kerja, bukan hanya perusahaan yang harus mencari orang yang tepat. Kita sebagai calon tenaga kerja juga harus mempersiapkan diri agar memiliki kemampuan yang memang dibutuhkan.

Jadi, perusahaan bukan hanya mencari karyawan. Perusahaan seharusnya mencari kompetensi yang tepat, menempatkan orang pada pekerjaan yang sesuai, dan terus mengembangkan kemampuan mereka. Karena pada akhirnya, perusahaan yang kuat bukan hanya memiliki banyak orang, tetapi memiliki orang-orang yang mampu membuat perusahaan terus berkembang.