Oleh : Siti Mawadah
DEPOKPOS – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meluncurkan sebuah forum Internasional baru bernama Board of Peace atau Dewan Perdamaian, yang diklaim bertujuan menangani dan menyelesaikan konflik global. Board of Peace (BoP) disebut sebagai organisasi yang mempromosikan stabilitas, perdamaian, dan tata kelola pemerintahan di wilayah yang terdampak atau terancan konflik. Trump sendiri akan menjabat sebagai ketua dewan secara tidak terbatas.
Rencana utama pemerintahan Trump dengan adanya Dewan Perdamaian ini adalah upaya bertahap untuk menghentikan perang di Gaza dan mentransformasikan kawasan tersebut. Keanggoataan BoP bersifat terbatas. Negara anggota akan menjabat selama tiga tahun, dan untuk mendapatkan kursi permanen harus membayar iuran sebesar US$1 miliar atau setara Rp16,82 triliun (asumsi kurs Rp16,826 per dolar AS).
Dana tersebut menurut pejabat AS akan digunakan untuk membiayai rekosntruksi Gaza. Sejumlah negara telah menyatakan bergabung dengan BoP, salah satunya adalah Indonesia. Presiden Prabowo Subianto menghadiri langsung pengumuman pembentukan BoP di Davos dan menandatangani komitmen keikutsertaan Indonesia. Kehadiran Prabowo menandai Indonesia resmi menjadi bagian dari forum tersebut. (CNN Indonesia, 24/01/26)
Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono menyampaikan sejumlah alasan Indonesia bergabung dengan BoP atau Dewan Perdamaian diantaranya merupakan bagian dari komitmen Indonesia menciptakan perdamaian di Kawasan Timur Tengah khususnya di Palestina dan di Gaza. Alasan lainnya adalah demi tercapainya solusi dua negara atau two state solution dalam mewujudkan kemerdekaan Palestina.
Sementara itu, Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) mendukung Keputusan Presiden Prabowo Subianto bergabung dengan BoP atau Dewan Perdamaian. Bergabungnya Indoensia dengan BoP dipandang sebagai sebuah inisiatif internasional yang bertujuan untuk menyelesaikan konflik Palestina dengan Israel. (Kompas.com, 04/02/26)
Sedari awal seharusnya kita sudah menyadari bahwasanya BoP dibentuk bukan untuk perdamaian Palestina. Penjajahan gaya baru dibungkus dengan istilah “perdamaian”, “rekonstruksi” dan sebagainya, selamanya tidak akan menghadirkan keadilan. Keterlibatan para pemimpin negeri Muslim dalam BoP sejatinya menunjukkan kepada kita akan ketidakberdayaan mereka dihadapan penjajah.
Ini juga merupakan pengkhianatan terhadap Allah SWT, Rasulullah, Islam dan kaum muslim khususnya muslim Palestina. BoP juga tidak melibatkan rakyat Palestina ataupun perwakilan Palestina. Padahal mereka adalah korban penjajahan dan genosida. Hal tersebut semakin memperjelas arah dan tujuan dibentuknya BoP sebenarnya. BoP dibentuk melainkan untuk kepentingan geopolitik dan ekonomi AS. Trump ingin menguasai Gaza, mengusir penduduknya, dan membangun Gaza Baru yang berisi Gedung-gedung pencakar langit, wisata Pantai, Pelabuhan, bandara dan menara apartemen.
BoP justru ditujukan untuk menghancurkan Palestina. Keberadaan negara-negara Muslim (termasuk Indonesia) hanya menjadi pelengkap legitimasi. BoP adalah alat untuk merealisasikan 20 poin rencana Trump atas Gaza. Keikutsertaan neger-negeri muslim dalam BoP adalah pengkhianatan terhadap muslim Gaza.
Konflik berkepanjangan yang terjadi di Palestina, tidak membutuhkan BoP maupun solusi pragmatis apapun yang datangnya dari penjajah seperti AS. Solusi satu-satunya untuk membebaskan Palestina adalah dengan mengusir penjajah Zionis Yahudi beserta dengan sekutunya dari tanah Palestina dengan jihad. Allah SWT berfirman,
وَٱقۡتُلُوهُمۡ حَيۡثُ ثَقِفۡتُمُوهُمۡ وَأَخۡرِجُوهُم مِّنۡ حَيۡثُ أَخۡرَجُوكُمۡ ۚ
Perangilah kaum kafir itu di mana saja kalian temui mereka dan usirlah mereka dari tempat mana saja mereka telah mengusir kalian… (TQS al-Baqarah [2]: 191).
Khilafah adalah satu-satunya institusi yang akan mengomando jihad akbar untuk membebaskan Palestina. Dari sinilah perdamaian hakiki bagi Palestina akan terwujud.
Negara-negara Muslim tidak boleh bersekutu dengan negara kafir harbi fi’lan yang tengah memerangi muslim Palestina (AS dan Zionis). Apalagi menjadikan orang kafir sebagai pelindung bagi orang-orang beriman dan mengharapkan kemuliaan disisi mereka. Padahal kemuliaan hanya milik Allah SWT,
ࣙالَّذِيْنَ يَتَّخِذُوْنَ الْكٰفِرِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَۗ اَيَبْتَغُوْنَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَاِنَّ الْعِزَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًاۗ ١٣٩
(Yaitu) orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pelindung dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? (Ketahuilah) sesungguhnya semua kemuliaan itu milik Allah. (TQS. An Nisa : 139)
Negeri-negeri muslim justru harus bersegera menegakkan Khilafah. Umat Islam harus menjadikah Khilafah sebagai qadhiyah masiriyah (agenda utama) dan bersegera merealisasikannya.
