Tsabat adalah keyakinan untuk bersungguh-sungguh beriman kepada Allah SWT atas semua ketetapan-NYA
DEPOKPOS – Tsabat bermakna teguh pendirian dan tegar dalam menghadapi ujian serta cobaan di jalan kebenaran. Dan tsabat bagai benteng bagi seorang kader. Ia sebagai daya tahan dan pantang menyerah. Tsabat berasal dari kata yang berarti tetap, mantap dan stabil. Tsabat terhadap pendapat berarti konsisten dalam pendirian. Tsabat juga berarti tegar atau teguh artinya secara bahasa.
Hukum Islam mempunyai dua sifat, yaitu al-tsabat (tetap) dan al-tathawwur (berkembang). Sifat pertama, yaitu Hukum Islam sebagai wahyu Allah yang tetap dan tidak berubah sepanjang masa, sedangkan sifat yang kedua, yaitu Hukum Islam yang berkembang, tidak kaku dalam berbagai situasi dan kondisi sosial. Dalam keterpaduan antara dua sifat itulah Hukum Islam dapat bertahan sepanjang masa. Sifat yang pertama disebut syariah. Sedangkan sifat yang kedua disebut fiqh, yaitu pemahaman dari syariah.
Secara etimologi, Tsabat (الثبات (berasal dari kata ‘ثبت ‘yang berarti tetap, mantap dan stabil. Secara terminologi, Tsabat berarti ketetapan dan keteguhan hati untuk tetap berada di jalan Allah SWT guna meraih tujuan, berkorban demi tersebarnya nilai-nilai iman, dan komitmen terhadap prinsip agama, Tsabat adalah keyakinan untuk bersungguh-sungguh beriman kepada Allah SWT atas semua ketetapan-NYA, sehingga individu yang memiliki sikap tsabat yang tinggi akan mampu mengatasi tantangan, mempertahankan komitmen, dan memperoleh rasa kepercayaan diri yang tinggi. Tsabat juga berarti tegar atau teguh artinya secara bahasa.
Kehidupan itu adalah suatu hal yang dinamis dan selalu berubah-ubah mengikuti irama waktu. Sementara syariat ada batasnya (al-syaria’ah mutahaddidah), namun persoalan dalam kehidupan terus berkembang (al-waqaiq mutahaddidah). Artinya hukum Islam bisa tersingkirkan oleh persoalan kehidupan bermasyarakat. Hukum Islam mempunyai dua ciri atau karakter: al-tsabat (tetap) dan al-tathawur (dinamis). Al-Zabat berarti hukum Islam yang tetap, yaitu tidak berubah bahkan setelah perubahan zaman. Sifat hukum ini berkaitan dengan ibadah Madha. Tathawwur artinya dinamis, hukum Islam dengan lambang ini berkaitan dengan Muammarah.
Hukum Muammara mengikuti asas Ibaha yang artinya segala sesuatu diperbolehkan di dalam kawasan Muammara kecuali dilarang atau diatur secara khusus dalam ajaran Islam. Hukum Islam yang termasuk dalam kategori Mu’amarah ada banyak jenisnya, antara lain hukum pidana, hukum perdata, hukum politik, hukum sosial, dan hukum ekonomi.
Tsabat artinya jangan sekali-kali mengubah Al-Qur’an dan Al-Hadits karena sudah mapan dan tidak akan pernah diubah lagi. Pendidikan Islam tidak mengikuti bentuk pemerintahan tertentu, misalnya pemerintahan komunis. Pemahaman di atas bukan berarti pendidikan Islam bersifat statis. Pendidikan Islam mengikuti ajaran Islam yang fleksibel dan dinamis. Ajaran Islam dapat diterapkan kapanpun dan dimanapun. Dengan kata lain, pendidikan Islam mempunyai tujuan yang tetap, namun fleksibel dalam pendekatan dan metode pendidikannya.
Menurut tafsir Jalalain menjelaskan bahwa suatu Qiraat dibaca Fatatsabbatu, berasal dari lafaz Ats Tsabat, artinya telitilah terlebih dahulu kebenarannya, antushibuqauman (agar kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum) menjadi maf’ul dari lafaz fatabayyanu, yakni dikhawatirkan hal tersebut akan menimpa musibah kepada suatu kaum. Bijahalati (tanpa mengetahui keadaannya) menjadi hal atau kata keterangan keadaan dari fa’il, yakni tanpa sepengetahuannya.
Fatushbihu (yang menyebabkan kalian) membuat kalian ‘alamafa’altum (atas perbuatan kalian itu), yakni berbuat kekeliruan terhadap kaum tersebut, nadimin (menyesal) . Terkadang berita atau informasi yang di dapatkan tidak sesuai dengan fakta atau kebenaran yang ada. Maka dari itu, penerapan sikap tabayyun (cek and ricek) pada diri masyarakat snagat penting, karena dengan hal ini konflik yang terjadi dapat di elakkan.
Ada 5 ulama yang mendefinisikan Tsabat dengan pandangan yang berbeda-beda, yaitu dari:
- Imam Hasan Al Banna
Ia menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan tsabat adalah orang yang senantiasa bekerja dan berjuang di jalan dakwah yang amat panjang sampai ia kembali kepada Allah SWT. dengan kemenangan, baik kemenangan di dunia ataupun mati syahid.
- Al-Khazandar
Ia mendefinisikan tsabat dengan ucapannya yaitu, “Keukeuh menapaki jalan hidayah, komitmen dengan tuntutan jalan ini, kontinue mengukir kebaikan, dan bersungguh-sungguh mendaki puncak ketaatan”.
- Imam Ibn Qayyim Al-Jawziyya
Ia mengemukakan konsep tsabat sebagai keadaan jiwa yang tetap stabil dan teguh dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan, tidak tergoyahkan oleh godaan atau cobaan yang terus menimpanya.
- Imam Al-Ghazali
Ia menyatakan bahwa tsabat adalah sikap teguh dan kokoh dalam menghadapi ujian atau godaan, serta tetap istiqamah dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT.
- Imam Al-Qurtubi
Ia menyatakan bahwa tsabat adalah keteguhan dan ketabahan hati dalam menjalankan agama Allah, tanpa terpengaruh oleh godaan atau tantangan yang muncul di jalannya
Tahapan Metode
Kami memakai metode menafsiran Tahlili (Analisis) yang bertumpu pada tafsiran Al Azhar, sehingga kami memkai tahapan penafsiran sebagai berikut:
| Construct |
| Pre-Data |
| Mufassir |
| Interprestasi |
| Coding |
| Kategorisasi |
| Formulasi |
- Construct
Yaitu penjelasan makna dari kata dalam Al Quran
- Pre-Data
Penjelasan asbab nuzul ayat (sebab turunnya ayat Al Quran)
- Mufassir
Penjelasan munasabah antar ayat dan surat sebelumnya
- Interprestasi
Penjelasan I’Rab ayat dan macam-macam qiraat ayat
- Coding
Penjelasan kandungan balagahnya dan keindahan susunan kalimatnya
- Kategorisasi
Penjelasan hukum fiqih yang diambil dari ayat
- Formulasi
Penjelasan makna umum dari ayat dan petunjuk-petunjuknya
Tujuh point inilah yang merupakan inti dalam metode tafsir tahlili, yang digunakan oleh para ahli tafsir terdahulu dalam buku tafsir mereka.Hanya saja langkah-langkah di atas bukan berarti harus berurutan seperti urutan di atas, tetapi itu adalah langkah secara umum para ahli tafsir dalam metode tahlili.
Terkadang sebagian ahli tafsir tidak menggunakan salah satu langkah yang di atas.Atau sebagian mufasir mengedepankan makna umum dari pada penjelasan I‟rab, sesuai yang dipandang penting oleh ahli tafsir (penulis) dalam tafsirnya. Sebagaimana juga ada mufassir yang tidak mengelompokkan tafsirnya seperti di atas, akan tetapi mufassir menjelaskan tafsirnya secara natsryakni campur dan menyatu antara penjelasan makna dan penjelasan lainnya.
Berikut bebererapa aitem yang telah kami dapatkan beserta pertanyaan pada tiap aitem:
| Aitem | Penyataan Aitem | Pertanyaan Aitem |
| Ambisi | Keinginan kuat untuk mencapai tujuan yang diinginkan dengan tekad yang mantap | 1. Bagaimana cara kamu untuk menetapkan tujuan hidupmu?
2. Dengan cara apa agar tujuanmu tercapai? 3. Seberapa kuat dan seberapa besar niatmu untuk mencapai tujuan yang sudah kamu tetapkan? |
| Konsisten | Bertahan dan melakukan sesuatu secara terus-menerus tanpa terpengaruh oleh perubahan atau tantangan | 4. Bagaimana cara kamu untuk tetap menjalankan syariat agama di kehidupan modern?
5. Bagaimana cara kamu menjalankan apa yang akan menjadi tujuanmu? 6. Bagaimana cara kamu menghadapi tantangan atau guncangan? |
| Optimis | Memiliki keyakinan positif bahwa segala sesuatunya akan berjalan baik atau dapat diatasi dengan baik | 1. Bagaimana cara kamu agar terus dapat berfikir positif?
2. Dengan cara apa kamu dapat mengatasi masalahmu? 3. Apakah kamu dapat mengatasi masalah tersebut? |
| Berserah Diri | Menerima segala keadaan dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak takdir atau kebijaksanaan yang lebih tinggi | 1. Bagaimana caranya kamu percaya dengan kehendak tuhan?
2. Apakah anda percaya dengan takdir tuhan? 3. Dengan cara apa kamu percaya dengan kehendak tuhan? |
| Beriman | Memiliki keyakinan yang kuat pada prinsip-prinsip keagamaan atau nilai-nilai spiritual dalam menghadapi kehidupan sehari-hari | 1. Apakah kamu percaya surga / neraka itu ada? Jika iya bagaimana cara kamu mempercayainya?
2. Apakah kamu sudah merasa dirimu memiliki prinsip yang kuat untuk terus beribadah? 3. Bagaimana cara kamu mempercayai kekuatan doa-doa yang harus dilakukan tiap melaksanakan kegiatan? |
Pada akhirnya, penulis mengatakan bahwa tafsir tahlili merupakan metode tafsir yang sebagian besar para ahli tafsir menggunakannya untuk berkhidmat pada kitab Allah ta‟ala. Para ahli tafsir tidak meninggalkan sesuatu yang mempedalam/memperluas ruang pemahaman ayat melainkan mereka akan menggunakan metode itu atau mengikut sertakan penjelasan itu. Akan tetapi ada perbedaan di antara mufassir itu merupakan sunnatullah.
Di antara ahli tafsir ada yang menjelaskan tafsirnya secara luas (komprehensif), ada pula yang menjelaskan secara ringkas dan padat. Pada zaman kontemporer ini, ada penambahan dalam bab atau penjelasan dalam tafsir. Zaman ini telah memberikan saham dalam menjelaskan nash al-Qur‟an yang sesuai dengan tabiat zamannya. Muncul di zaman ini tafsir ilmi, yang merupakan bukti kebenaran firman Allah S.W.T. dalam bidang ilmu.
Zunita Melia
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
