Padahal, manajemen adalah ilmu yang berguna di hampir setiap lini kehidupan, baik di sebuah perusahaan besar maupun usaha kecil
DEPOKPOS – Pernahkah kamu merasa minder saat ditanya apa jurusan kuliahmu, lalu dengan ragu menjawab, Manajemen? Seolah ada stigma buruk tak terlihat yang menyertai julukan “jurusan seribu umat” atau “jurusan pasaran.” Kamu tidak sendirian. Banyak mahasiswa manajemen, atau bahkan calon mahasiswa, seringkali dihantui dengan perasaan ini.
Tapi, mengapa label itu begitu melekat dan menimbulkan rasa malu? Apakah memang ada yang salah dengan memilih jurusan yang banyak diminati? Mari kita cari tahu lima alasan utama di balik perasaan minder tersebut dan bagaimana mitos ini bisa mempengaruhi persepsi diri kita.
Perasaan malu ini seringkali muncul bukan karena kurangnya kualitas jurusan manajemen itu sendiri, melainkan lebih pada persepsi dan ekspektasi yang terbangun di dalam kelompok masyarakat. Dari obrolan santai di keluarga hingga sosial media, “jurusan seribu umat” seolah menjadi label yang sulit dilepaskan.
Padahal, manajemen adalah ilmu yang berguna di hampir setiap lini kehidupan, baik di sebuah perusahaan besar maupun usaha kecil. Namun, mitos ini telah menciptakan beberapa kekhawatiran yang mendalam bagi mereka yang memilihnya.
1. Kekhawatir Sulit Bersaing di Dunia Kerja
Salah satu alasan terbesar rasa malu ini muncul adalah bayangan pemikiran terhadap persaingan di dunia kerja yang luas. Dengan banyaknya lulusan manajemen setiap tahunnya, muncul kekhawatiran serius tentang bagaimana bisa bersaing di antara lautan pelamar. Terkadang muncul juga pertanyaan di benak pikiran kita “Kalau semua orang lulusan manajemen, apa bedanya dengan saya?”
Pertanyaan ini sering menghantui. Perasaan takut tidak mendapatkan pekerjaan impian atau bahkan sekadar pekerjaan yang layak menjadi pemicu utama rasa minder karena terkadang kita menganggapnya semakin banyak yang memiliki keterampilan terhadap suatu pekerjaan maka semakin sedikit peluang untuk mendapatkan pekerjaan tersebut.
Orang tua dan kerabat pun seringkali menambahkan tekanan dengan pertanyaan tentang prospek kerja ditambah lagi efek negatif dari sosial media yang terkadang menyebarkan hal negatif terkait persaingan dunia kerja yang semakin ketat, terutama karena banyaknya jumlah lulusan manajemen yang membanjiri pasar kerja setiap tahunnya.
2. Persepsi Kurang Spesifik
Berbeda dengan jurusan yang sangat spesifik seperti Teknik Nuklir atau Kedokteran Gigi, manajemen sering dianggap terlalu umum. Banyak yang merasa ilmunya tidak mendalam atau kurang spesifik.
Ini menimbulkan anggapan bahwa lulusan manajemen tidak memiliki keahlian khusus yang membedakan mereka. Padahal, manajemen justru melatihmu dengan kemampuan yang luas, mulai dari strategi dalam berbisnis, mengatur keuangan, teknik pemasaran, hingga kepemimpinan.
Fleksibilitas ini seharusnya menjadi kekuatan, tapi seringkali dipersepsikan sebagai kelemahan.
3. Tekanan Lingkungan Sosial
Tidak bisa dipungkiri, komentar dan pandangan dari lingkungan sosial bisa sangat mempengaruhi. Banyak orang memberikan persepsi jurusan manajemen hanya bisa menjadi seorang HRD, ini merupakan salah satu contoh komentar meremehkan yang sering terdengar di sekitar kita.
Julukan “jurusan seribu umat” sendiri sudah merupakan bentuk pandangan yang bisa melukai. Tekanan dari teman, keluarga, atau bahkan media sosial bisa membuat mahasiswa manajemen merasa pilihannya tidak seistimewa jurusan lain, memicu rasa malu atau defensif.
4. Ketiadaan Portofolio yang Visual Seperti Jurusan Kreatif atau Teknis
Mahasiswa desain punya portofolio karya visual, mahasiswa IT punya coding, atau teknik punya proyek rancangan. Sementara itu, portofolio mahasiswa manajemen seringkali lebih abstrak, bisa berupa laporan analisis, strategi bisnis, atau studi kasus.
Hal ini terkadang membuat anak manajemen merasa kurang memiliki “bukti” nyata dari keterampilan yang kita miliki, terutama saat berhadapan dengan jurusan lain yang hasilnya lebih konkret dan mudah ditunjukkan, menambah rasa kurang percaya diri.
5. Mitos Bahwa Semua Orang Bisa Jadi Manajer
Ada mitos yang beredar bahwa manajemen adalah bidang yang “siapa saja bisa melakukannya.” Ini adalah pemahaman yang keliru dan meremehkan kompleksitas ilmu manajemen. Menjadi seorang manajer yang efektif membutuhkan lebih dari sekedar pengetahuan akan tetapi diperlukan keahlian kepemimpinan, pengambilan keputusan, pemecahan masalah, komunikasi, dan adaptasi yang kuat, semuanya diajarkan secara mendalam di jurusan manajemen.
Namun, mitos ini seringkali membuat lulusan sarjana manajemen merasa ilmunya tidak dihargai atau dianggap remeh.
Perasaan malu ketika memilih jurusan manajemen bukanlah hal yang aneh, terutama dengan sebutan“jurusan seribu umat” yang seringkali disematkan. Namun, penting untuk kita ingat bahwa rasa malu ini sebagian besar berasal dari mitos dan kekeliruan persepsi, bukan dari fakta objektif tentang kualitas ilmu manajemen.
Justru, jurusan ini memberikan bekal di berbagai karir dan kemampuan adaptasi yang luar biasa di dunia kerja. Alih-alih merasa malu, fokuslah pada bagaimana kamu bisa mengembangkan keunikan dan nilai tambah mu, apakah itu melalui spesialisasi, keterampilan non teknis yang kuat, pengalaman magang, atau jaringan yang luas.
Ingat, yang terpenting bukanlah seberapa banyak orang yang mengambil jurusan yang sama, melainkan seberapa baik kamu memanfaatkan ilmu dan kesempatan yang ada. Jadi, jangan biarkan mitos ini menghalangimu untuk bangga menjadi bagian dari “jurusan seribu umat” yang sesungguhnya adalah jurusan seribu peluang!
Bella Vilani
Program Studi S1 Manajemen, Universitas Binawan
